“ Cantik juga
perlu, bung.”
“Dia orangnya baik dan mungkin bisa cocok sama kamu, Ray.”
“ Semoga saja, bung.”
Jalan sukarno – hatta kota bima yang melengkung dan ramai
kutapaki. Hari ini hampir senja dan aku ingin kembali ke kos-kosan. Klakson dan
bunyi mesin kendaraan berderum memekik bagai raungan penghuni rimba yang
kelaparan. Jengah menggerogoti hatiku
kala perjalanan ini harus kujalani sendiri. Kerapkali kesendirian ini harus
menyeretku pada kehampaan. Ada ngilu yang akut di dada. Di sana ada sebongkah
daging kesepian. Kutunjukan ketidakmampuanku pada sepupuku kalau aku telah
jenuh mencari. Ya, pendamping hidup yang kugantungkan pada sepupuku untuk
mencarinya. Bukankah jodoh itu akan ada di antara orang-orang yang kita kenal,
kalau tidak, kita bisa menggunakan perantara untuk memperkenalkan orang di luar
yg kita kenal. Tidak peduli di jaman serba modern ini harus menggunakan cara
jaman baheulak. Cara purba pun berlaku di jaman urban modern ini. Ini
alternatif, pikirku. Jalan sukarno-hatta saksi kesepian yang kucecerkan di
sepanjang lengkungannya. Rindu pada sosok yang semoga akan hadir dalam kehidupanku,
segera. Senja kali ini tampak mendung. Tampak
di kejauhan warna perak tumpah ke bumi. Secepat kilat kaki hujan desember
menusuk-nusuk kulitku. Senja yang hampir
gelap berubah perak oleh jutaan jejarum bening. Kupacu Moge-ku menuju kos-kosan
dengan gas hampir penuh. Mengukur jalan
di atas aspal yang penuh genangan air. Di sana ada genangan rindu yg mencoba
berbaur, rindu tak bertuan. Dari percikannya, aku menemukan pelangi kecil yang
seolah menggantung indah tepat di depanku,
karena membias dengan lampu
motorku.
“ Darimana saja, Bung?” tetangga kos-ku bertanya.
“ Dari depan, makan gado-gado, “ jawabku.
Dalam kamar kos-kosan, aku merenangi dan merenungi musik yang ditimbulkan kaki
hujan-- yang bertemu dengan atap rumah --yang terbuat dari seng. Cukup gaduh,
tapi untuk saat ini aku menyukainya. Setidaknya ia mampu menghiburku. Tik...tok...tok...weeeesh...bunyi
gemerisik daun mangga belakang kos yang ditiup angin. Melengkapi kegaduhannya,
tapi aku merasa seperti menikmati gamelan yang semayup di hutan bambu. Hingga
membawa anganku pergi pada masa dua puluh tiga tahun yang lalu. Dimana aku akan
tertidur pulas ketika sepoi pagi mengguncang pohon-pohon bambu dan, batangnya saling
bertemu menciptakan bunyi yang khas dan mistis. Sebuah desa yang masih sangat
hijau. Enak sekali. Dimana orang-orang
yang hidup pada saat itu seramah alamnya. Tidak secongkak saat ini, bahwa
setiap muslim itu bersaudara sudah tidak lagi mempan untuk membuat orang-orang
tetap ramah. Edan, pikirku. Alam lebih
menyediakan kenyamanan hanya lewat peristiwa ini. Apa adanya. Peristiwa
desember yang basah. Tapi hari ini, aku diseret pada masa yang serba tidak
mudah. Hal-hal yang kuanggap sepele saja
ternyata sangat sulit untuk kujalani. Nyaris
mataku gagal menemukan kesenangan dari apa yang ada dan yang sudah kuperoleh. Tapi,
aku selalu yakin, bahwa Tuhan Maha Tahu telah menyiapkan misi khusus atas penciptaanku di muka bumi. Tak ada satu
kejadian pun yang diciptakan percuma dan secara kebetulan. Ini awalnya adalah sebuah hipotesa kehidupan
tapi, nyatanya ini adalah kebenaran mutlak.
Dalam kehidupan kaum urban seperti saat ini, segala sesuatu
sudah mudah dijangkau. Segalanya serba instant dan manusia begitu terikat
dengannya. Supremasi ego instant lebih tepatnya gelar yang disandang kaum
urban saat ini. Dan, tidak tanggung-tanggung untuk urusan jodoh pun cara
instant dipakai. Kehadiran sosial media---yang oleh orang-orang melek
tekhnologi--- menyebutnya sosmed; Facebook, Twitter, BBM dan lain
sebagainya. Umpama nafigator modern yang
membawa mereka ke arah menemukan jodohnya. Buktinya, sahabat aku, Laila, dia
menemukan jodohnya lewat facebook. Sekali ketemu, klik, tunangan, lamaran, dan
kini mereka tengah bahagia membangun keluarga kecil mereka. Satu keajaiban yang
semakin mengukuhkan bahwa apapun bentuknya yang tercipta di muka bumi ini tak
ada yang sia-sia.
Malam ini, aku seperti baru saja meneggak kafein dua puluh
lima liter; insomnia. Kucoba-coba
menutup mata agar segera terlelap, tapi ia enggan. Kuambil handphone-ku yang
terbujur kedinginan di atas meja. Kubuka dan kulihat-lihat semoga ada hal-hal
mengejutkan di sana, misalnya sms atau, minimal inbox facebook terisi pesan dari
seseorang. Tiba-tiba saja aku diserang demam. Aku menggigil disertai gemeletuk
yang hebat. Limbung. Tubuhku dimana, batinku. Segalanya gelap. Gelap dan
semakin gelap padahal kamar kos-kosanku terang benderang, hingga aku sampai
pada kesimpulan bahwa ternyata benar. Inbox facebook-ku terisi satu pesan. Dari siapa, ya, pikirku.
“Hy..., “ itu saja, hanya pesan sesingkat itu saja. Tapi,
aku senang ternyata yang menyapaku ini adalah wanita yang diperkenalkan sepupu
padaku kemarin sore. Jelas disana, pesannya dikirim dua jam yang lalu.
“ Hy..., juga, Mawar, ya? “ tanyaku. Dua jam dua belas menit
aku menunggu balasan. Tak kunjung tiba. Kulihat jam dinding yang tergantung di
sebelah barat kamarku. Jarum pendeknya
telah condong ke utara, melewati angka 12 yang berdiri tegak diapit angka
sebelas dan angka satu, tepatnya jarum pendek telah menunjuk angka dua dan
jarum panjangnya menunjuk angka tujuh. Logika sederhananya, mana ada jam segini
orang mau membalas inbox. Paling
mereka sedang asyik bermimpi. Aku gunakan Insomnia
yang melandaku untuk menulis. Tentang harapan baru yang kini tengah mengetuk
pintu perjalananku dan mungkin saja akan menemaniku membuka gerbang serta mengarungi
perjalanan itu denganku.
Dingin kembali
menguliti malam
Angin berhembus
dengan sangat lembut
Derap binatang
malam entah kemana, sunyi
Selepasnya, kesunyian
pecah ketika gempita do’a kulantunkan
Di tengah riuh
rendah harap yang dibalut jubah gulita
Malam ini, awan
tergantung sedemikian rendah
Membentuk gumpalan
hitam kelabu
Sangat rendah
bersanding dengan atap
Hingga dapat
kurasakan dingin dan lembutnya tangan tuhan menyentuhku
Membelaiku lembut,
membawaku pada sabana kesabaran
Dalam gundukan
harap yang meruap
Dalam hati penuh
lebam, porak-poranda
Kutuntun secarik
harap padamu, yaaa Rabbb...!
Lekas temukan aku
dengan kekasiku.
Sepucuk harap
untukmu, Yaaa Rabb...ku!
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar