Selasa, 06 Oktober 2015

KABAR DARI SEBERANG 1


  Cantik juga perlu, bung.”

“Dia orangnya baik dan mungkin bisa cocok sama kamu, Ray.”

“ Semoga saja, bung.”

Jalan sukarno – hatta kota bima yang melengkung dan ramai kutapaki. Hari ini hampir senja dan aku ingin kembali ke kos-kosan. Klakson dan bunyi mesin kendaraan berderum memekik bagai raungan penghuni rimba yang kelaparan.  Jengah menggerogoti hatiku kala perjalanan ini harus kujalani sendiri. Kerapkali kesendirian ini harus menyeretku pada kehampaan. Ada ngilu yang akut di dada. Di sana ada sebongkah daging kesepian. Kutunjukan ketidakmampuanku pada sepupuku kalau aku telah jenuh mencari. Ya, pendamping hidup yang kugantungkan pada sepupuku untuk mencarinya. Bukankah jodoh itu akan ada di antara orang-orang yang kita kenal, kalau tidak, kita bisa menggunakan perantara untuk memperkenalkan orang di luar yg kita kenal. Tidak peduli di jaman serba modern ini harus menggunakan cara jaman baheulak. Cara purba pun berlaku di jaman urban modern ini. Ini alternatif, pikirku. Jalan sukarno-hatta saksi kesepian yang kucecerkan di sepanjang lengkungannya. Rindu pada sosok  yang semoga akan hadir dalam kehidupanku, segera.  Senja kali ini tampak mendung. Tampak di kejauhan warna perak tumpah ke bumi. Secepat kilat kaki hujan desember menusuk-nusuk kulitku.  Senja yang hampir gelap berubah perak oleh jutaan jejarum bening. Kupacu Moge-ku menuju kos-kosan dengan gas hampir penuh.  Mengukur jalan di atas aspal yang penuh genangan air. Di sana ada genangan rindu yg mencoba berbaur, rindu tak bertuan. Dari percikannya, aku menemukan pelangi kecil yang seolah menggantung indah tepat di depanku,  karena  membias dengan lampu motorku.

“ Darimana saja, Bung?” tetangga kos-ku bertanya.

“ Dari depan, makan gado-gado, “ jawabku.

Dalam kamar kos-kosan,  aku merenangi  dan merenungi musik yang ditimbulkan kaki hujan-- yang bertemu dengan atap rumah --yang terbuat dari seng. Cukup gaduh, tapi untuk saat ini aku menyukainya. Setidaknya ia mampu menghiburku. Tik...tok...tok...weeeesh...bunyi gemerisik daun mangga belakang kos yang ditiup angin. Melengkapi kegaduhannya, tapi aku merasa seperti menikmati gamelan yang semayup di hutan bambu. Hingga membawa anganku pergi pada masa dua puluh tiga tahun yang lalu. Dimana aku akan tertidur pulas ketika sepoi pagi mengguncang pohon-pohon bambu dan, batangnya saling bertemu menciptakan bunyi yang khas dan mistis. Sebuah desa yang masih sangat hijau. Enak sekali.  Dimana orang-orang yang hidup pada saat itu seramah alamnya. Tidak secongkak saat ini, bahwa setiap muslim itu bersaudara sudah tidak lagi mempan untuk membuat orang-orang tetap ramah. Edan, pikirku.  Alam lebih menyediakan kenyamanan hanya lewat peristiwa ini. Apa adanya. Peristiwa desember yang basah. Tapi hari ini, aku diseret pada masa yang serba tidak mudah.  Hal-hal yang kuanggap sepele saja ternyata sangat sulit untuk kujalani.  Nyaris mataku gagal menemukan kesenangan dari apa yang ada dan yang sudah kuperoleh. Tapi, aku selalu yakin, bahwa Tuhan Maha Tahu telah menyiapkan misi khusus atas  penciptaanku di muka bumi. Tak ada satu kejadian pun yang diciptakan percuma dan secara kebetulan.  Ini awalnya adalah sebuah hipotesa kehidupan tapi, nyatanya ini adalah kebenaran mutlak.

Dalam kehidupan kaum urban seperti saat ini, segala sesuatu sudah mudah dijangkau. Segalanya serba instant dan manusia begitu terikat dengannya.  Supremasi ego instant lebih tepatnya gelar yang disandang kaum urban saat ini. Dan, tidak tanggung-tanggung untuk urusan jodoh pun cara instant dipakai. Kehadiran sosial media---yang oleh orang-orang melek tekhnologi--- menyebutnya sosmed; Facebook, Twitter, BBM dan lain sebagainya.  Umpama nafigator modern yang membawa mereka ke arah menemukan jodohnya. Buktinya, sahabat aku, Laila, dia menemukan jodohnya lewat facebook. Sekali ketemu, klik, tunangan, lamaran, dan kini mereka tengah bahagia membangun keluarga kecil mereka. Satu keajaiban yang semakin mengukuhkan bahwa apapun bentuknya yang tercipta di muka bumi ini tak ada yang sia-sia.
Malam ini, aku seperti baru saja meneggak kafein dua puluh lima liter;  insomnia. Kucoba-coba menutup mata agar segera terlelap, tapi ia enggan. Kuambil handphone-ku yang terbujur kedinginan di atas meja. Kubuka dan kulihat-lihat semoga ada hal-hal mengejutkan di sana, misalnya sms atau,  minimal inbox facebook terisi pesan dari seseorang. Tiba-tiba saja aku diserang demam. Aku menggigil disertai gemeletuk yang hebat. Limbung. Tubuhku dimana, batinku. Segalanya gelap. Gelap dan semakin gelap padahal kamar kos-kosanku terang benderang, hingga aku sampai pada kesimpulan bahwa ternyata benar. Inbox facebook-ku terisi satu pesan.  Dari siapa, ya, pikirku.

“Hy..., “ itu saja, hanya pesan sesingkat itu saja. Tapi, aku senang ternyata yang menyapaku ini adalah wanita yang diperkenalkan sepupu padaku kemarin sore. Jelas disana, pesannya dikirim dua jam yang lalu.

“ Hy..., juga, Mawar, ya? “ tanyaku. Dua jam dua belas menit aku menunggu balasan. Tak kunjung tiba. Kulihat jam dinding yang tergantung di sebelah barat kamarku.  Jarum pendeknya telah condong ke utara, melewati angka 12 yang berdiri tegak diapit angka sebelas dan angka satu, tepatnya jarum pendek telah menunjuk angka dua dan jarum panjangnya menunjuk angka tujuh. Logika sederhananya, mana ada jam segini orang mau membalas inbox. Paling mereka sedang asyik bermimpi. Aku gunakan Insomnia yang melandaku untuk menulis. Tentang harapan baru yang kini tengah mengetuk pintu perjalananku dan mungkin saja akan menemaniku membuka gerbang serta mengarungi perjalanan itu denganku.

Dingin kembali menguliti malam
Angin berhembus dengan sangat lembut
Derap binatang malam entah kemana, sunyi
Selepasnya, kesunyian pecah ketika gempita do’a kulantunkan
Di tengah riuh rendah harap yang dibalut jubah gulita
Malam ini, awan tergantung sedemikian rendah
Membentuk gumpalan hitam kelabu
Sangat rendah bersanding dengan atap
Hingga dapat kurasakan dingin dan lembutnya tangan tuhan menyentuhku
Membelaiku lembut, membawaku pada sabana kesabaran
Dalam gundukan harap yang meruap
Dalam hati penuh lebam, porak-poranda
Kutuntun secarik harap padamu, yaaa Rabbb...!
Lekas temukan aku dengan kekasiku.
Sepucuk harap untukmu, Yaaa Rabb...ku!

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar