Kamis, 08 Oktober 2015

Doro Raja 4


Di beranda malam, di bawah cahaya bebintang, di halaman depan rumah kami semua tertawa ringan di sela-sela senda gurau. Aku, Mawar, Dae, Bunda dan saudaraku yang berjumlah 7 orang. Cukup ramai. Mereka kejar-kejaran menggoda si bungsu yang imut dan wajahnya sering menyita perhatianku. Lelaki kecil yang belum genap sepuluh tahun itu, kata bunda, mirip aku waktu seumuran dia. Tapi, kelihatannya dia jauh lebih tampan. Lelaki kecil ini jadi inspirasiku. Dia terbilang anak yang baik bila dibandingkan dengan anak-anak lain. Sebagai anak pertama dalam keluarga ini, aku selalu mendidik si bungsu dengan baik.  Aku selalu yakin, bahwa sejatinya tak ada anak yang benar-benar jahat. Mereka hanyalah produk orang tuanya, lingkungannya, produk sekolahnya, bahkan hasil produk bangsanya.  Aku terkesan dengan anak-anak di jepang, di mana anak seumuran ini mainannya adalah robot. Tentu saja lingkungannya itu akan mengubah cara berpikirnya dan tidak heran negara Ceryy Blossom itu menjadi salah satu negara indutri terbesar. Di sini, di negara ini, khususnya di desaku, anak-anak seumuran dia hanya mengenal, Kawongga, kaleli, dan mainan tradisional lainnya. Aku senang mereka sangat bahagia, sesekali mengitari tungku perapian dengan bara yang menyala. Di atasnya ayam panggang hampir matang. Di bawah pohon, Mposu yang rindang, pohon dengan daun lebar dan buahnya bulat bergerigi serta sedikit lebih kecil dari buah jambu biji. Tentu saja rasanya tidak pernah kutahu, sebab buahnya tidak bisa dimakan. Hanya jadi media untuk berteduh. Ini dalam sangkaanku mirip penyair, di mana para penyair itu akan berteduh di bawah rindangnya puisi, buah syair dan tenggelam di dalamnya dalam bentuk sunyi yang damai. Dunia sunyi ini memang selalu bercerita lebih banyak. Ia berbicara dalam diam. Jiwanya tenang dan lapang, di mana sekumpulan kalimat berkembang biak di sana, di sabana hatinya yang sunyi selalu ada ruang yang gegap gempita bagi kalimat itu untuk bercerita. Bercerita apa saja. Dunia yang aneh, maka tidak heran pelakonnya hanya sedikit. Bagiku, berada di tengah-tengah keluarga sederhana ini, aku telah menatap hidupku dari cara yang berbeda. Cara sunyi yang hanya bisa kupahami sendiri. Orang tua yang masih lengkap, saudara yang banyak, dan saat ini, di tengah-tengah mereka ada seseorang yang bernama, Mawar. Aku merasa dia sedang dilanda haru biru. Masa-masa yang hilang sejak lama dihadirkan kembali. Mawar telah kehilangan ibunya sejak lama, dan bapaknya lebih asyik dengan istri baru, maka tidak heran senyumnya lebih lama mengembang dari biasanya ketika saat-saat seperti ini mengguyur hari-harinya, atau senyumnya padam seketika lantaran kejadian ini mengingatkannya akan sesuatu yang susah payah dia lupakan. Lewat senyum itu, aku mendengar  “Aku seperti kembali ke masa-masa dulu. Makan bersama dengan keluarga yang masih lengkap. Terima kasih,” begitu katanya. Kata-kata yang tidak sempat keluar. Mungkin haru biru telah mencekik kerongkongannya, atau..., ?
“Mawar, itu bintang yang luput dari mata kita kemarin waktu di Gunung Raja.” Demi melebur duka dan bahagia yang berbaur di kepalanya, aku mencairkan suasana. Aku selalu menyukai bintang. Semakin kukagumi bintang itu, akal dan pengetahuanku semakin tumpul dan mengerucut pada tangan Tuhan yang telah meraciknya. Betapa kecilnya aku di hadapan Tuhan. Betapa sebiji bintang tercipta di luar jangkauan pengetahuanku, betapa pun kuhabiskan semua umurku untuk mempelajari, apalagi di bentangan langit yang maha luas itu ada jutaan bintang. Tak ada satu tangan pun yang sanggup menyaingi tangan-Nya.
“Iya, aku lihat, Kak! Kemarin ngumpet di mana, ya, itu bintang?” Matanya mengikuti arah di mana telunjukku menunjuk.
“Ngumpet di matamu.” Tanganku yang tadinya menuding langit, kini telah menunjuk matanya. Tepat di depan matanya untuk menguatkan pendapatku bahwa bintangnya benar-benar bersembunyi di matanya. Wanita ini, kalau memandang pasti lekat, dan gugusan indah racikan Tuhan di wajahnya teduh dalam pandanganku.
“Bintang itu, kan, satu, Kak. Mataku ada dua,” katanya protes sambil kedua telunjuknya dia tempatkan di bawah kelopak matanya. Aku suka melihatnya seperti itu.
“Itu namanya, Rigil Kent, dan jenis bintangnya bintang ganda, artinya lebih dari satu bintang. Kelihatannya saja satu, tapi nyatanya lebih dari satu bintang. Bisa sepasang seperti matamu, tiga dan bisa banyak. Rigil Kentaurus juga dikenal sebagai Alpha Centauri, adalah bintang paling terang ketiga di langit.” Mawar, kalau mendengarkanku membicarakan bintang, tampaknya dia lebih senang. Tenang. Matanya selalu berakhir di ujung hidungku. Katanya, bagian itu adalah tempat terunik yang dia suka. Bisa kubaca dari wajahnya. Sobat! Kuberi tahu, pintu untuk menarik masuk seseorang dalam dunia kita adalah lewat apa yang dia suka. Kalau dia menyukai taman dengan suasana bunganya, maka sempatkanlah diri mengajaknya ke taman. Apalagi sampai menjelaskan detail taman dan bunganya. Jelaskan padanya rumput teki yang berbunga seolah sedang memperkenalkan Cerry Blossom atau yang kita kenal dengan nama sakura jepang. Kalau dia suka coklat, sisihkan uang untuk membelikannya. Tidak perlu sering, cukup berikan di hari-hari bersejarah dalam hidupnya. Misalnya, sesederhana hari jadi hubungannya denganmu, maka jiwa-raganya akan diserahkan sepenuhnya kepadamu. Lakukanlah seikhlas mungkin dan dengan niat yang baik, maka hari-hari dan hidupnya akan digantungkannya padamu. Apa yang ada padamu adalah dunianya. Dia akan melihat dengan matamu. Berjalan dengan kakimu dan hidup dari udara yang engkau hirup. Orang tua adalah tempat anak-anaknya bergantung, sebab wajah merekalah yang pertama kali muncul dalam ingatannya ketika seorang anak sedang sedih dan bahagia. Tampillah di hadapan mereka sebagai seorang yang pantas menggantikan mereka. Menjadi kekasih, kakak, sahabat tempat segala keluhnya bermuara, maka hidupnya adalah milikmu. Rupa-rupanya, wanita yang bernama, Mawar, ini sedang membangun kasih dengan pakarnya.
“Aina ipi doho kalao ade ana dohoe.., ta ngaha mena waura. Waura mami edaku utake,”1 ajak Dae sambil ayam panggang di perapian diangkatnya dan diletakkan di sebuah piring ukuran jumbo. Dengan tangkas, Bunda, memotongnya kecil-kecil dan diletakkan di tengah-tengah lingkaran kami yang berjumlah sepuluh orang itu. Kami duduk melingkar di sebuah “sarangge”, semacam dangau tanpa atap dan bentuknya persegi empat beralaskan “dipi fanda”, karya asli Bima, dari anyaman daun pandan yang tumbuh liar di sepanjang sungai di desaku. Pengrajinnya sudah tinggal beberapa orang saja, bersamaan dengan pohon pandan yang hampir punah. Menu “Romantic dinner for eleven” malam ini adalah ayam panggang, sayur asam, doco mangge khas Bima, yaitu campuran asam muda, bawang merah, garam dan penyedap. Cukup sederhana.
“Cua kanaru lalopa rima re ana dohoeee..,”2 kata Bunda.
“Kalembo ademu ana ndo..., akepa mawara. Kombisi ra biasa kaimu ngaha ma mewa aka umamu ni?”3 Dae menimpali. 
“Samapa, Dae, akepa mori kai rau mada aka uma ta,”4 jawab, Mawar, dengan suara pelan. Wanita ini murah sekali senyumnya. Lebih sering tertawa. Aku menarik kesimpulan bahwa mereka yang suka tertawa, terlebih kecenderungannya menghibur adalah mereka yang seharusnya butuh dihibur. Dengan tangkas, Mawar, membantu, Dae, Aku dan yang lain menyiapkan nasi dalam piring masing-masing. Kami makan dengan lahap. Duduk dengan rapi. Orang Bima memiliki kebiasaan unik ketika makan. Adab makan yang secara turun temurun diajarkan. “Doho Barasila” bagi lelaki, secara harafiahnya berarti duduk bersilang, dan “Doho Kepa” sederhananya duduk dengan posisi ke dua kaki sejajar ke keri atau ke kanan. Mirip duduk tahiyat dalam sholat.
“Ngaha roci mena, waura eli ringaku biola ka,” Dae memperingatkan. Di desaku, rupanya tadi sore ada yang menikah. Setelah makan dan sholat isya berjemaah, kami menonton acara hiburan malam. Biasanya, di Bima, pada malam hari setelah resepsi pernikahan akan diadakan pentas hiburan sederhana dengan musik biola dan beberapa penyanyi yang mahir dalam “Patu Mbojo” yang berarti pantun Bima. Hebat dan unik penyanyi ini, pantun dinyanyikan dengan diiringi musik biola. Biasanya mereka duduk di samping kiri dan kanan pengiring. Treatrikal klasik ini menjadi ciri khas Bima, di mana pengiringnya menampilkan diri sekelas “Peniup yang pandai”. Si misterius yang membebaskan kota Hamelin di jerman dari wabah tikus hitam dalam legenda negara itu dengan cara meniup sebuah pipa aneh, dan semua tikus mengikutinya keluar kota dan masuk ke sungai. Atau, bisa sekelas George Frederick Handel, komponis opera terkenal dengan oratorio dari jerman itu. Mereka cukup digandrungi wanita. Dikenal luas dan tampilannya berbeda, rambut gondrong, ciri khas seniman.
“Audi baena douma campo bou
Cua ngasa ra ngehi nefa konena ngaha
Edempa dou maloa ka’ao
Sara’ana di’iu
Maloana eda aura nggahi ba ade
Tiwara au ne’e ra di urimu
Surampa tenggoku uru
Samporo na langa ade na balingo
Lingi na ade samporo da eda
Arieee...kone lao ndeumu tikauku lampa ndaimu
Kadende ra ouku...dende wa’aku di oi
Auku baena douma campo bou
Doco sia dungga tio pahu angi ti dengga
Kawarasi wunga nika
Ndai cua rawa ta maniki
Disa kaiku lao raka aipu edena
Arieee...badeku nggomi ma bareka
Disa kaina karido ba douma tuaku
Badena nggomi makani karudu
Eee...aule nggomi dibae cumpura neeku mabou
Ntenepa nggomi di mode sampe sa made.”
Di Bima, dalam hal menikah ada kebiasaan unik. Terlebih segala kegiatan dan persiapan pranikah. Lain lubuk, lain pula ikannya. Lain padang lain belalang, lain pula ilalang. Peribahasa ini lebih tepat menggambarkan Indonesia yang majemuk. Di Bima saja kemajemukan itu menjadi ciri khasnya, di mana setiap desa yang ada di Bima memiliki gaya berbicara masing-masing. Meski menggunakan bahasa yang sama, namun logatnya berbeda, dalam bahasa Bima disebut “Sentu”. Pada nama-nama barang tertentu kadang sebutannya berbeda, dan uniknya lagi, di beberapa desa di Bima dalam hal berpakaian dapat dikenali dari desa mana dia berasal. Unik sekali. Daerah Bima didiami oleh dua kelompok penduduk asli, yaitu Dou Mbojo (Suku Mbojo = Orang Bima) dan Dou Donggo (Suku Donggo). Menurut para sejarahwan dan antropolog budaya, bahwa orang Bima berasal dari kelompok masyarakat hasil pembauran penduduk asli dengan kaum pendatang dari Sulawesi Selatan, Jawa, Sumatera dan suku-suku lainnya di nusantara terutama dari Makassar. Proses pembauran itu berlangsung sejak zaman Kerajaan sampai zaman kesultanan pada abad 11 hingga awal abad 20. Pernikahan silang antara penduduk asli dengan suku Makassar berlangsung pada masa pemerintahan Raja Manggampo Donggo pada awal abad 16 M sampai akhir masa pemerintahan Sultan Abdullah pada tahun 1868 M. Sedangkan suku Donggo adalah kelompok penduduk asli yang bermukim di pegunungan dan dataran tinggi di sebelah barat dan tenggara teluk Bima yang dikenal dengan Dou Donggo Ipa dan Donggo Ele. Orang Donggo Ipa bermukim di sebelah barat teluk Bima yaitu di gugusan pegunungan Soromandi. Sedangkan Dou Donggo Ele bermukim di sekitar pegunungan Lambitu. Kenapa dinamakan Donggo? Donggo dalam Bahasa Bima lama berarti “Gunung dan dataran Tinggi” Jadi Dou Donggo Ele berarti orang dataran tinggi sebelah timur. Sedangkan Dou Donggo Ipa berarti orang dataran tinggi sebelah barat teluk Bima. Aku sering ke sana, baik di Donggo ele maupun Donggo ipa. Aku pernah iseng bertanya kenapa dinamakan Donggo? Dengan lelucon khasnya seseorang bercerita padaku, bahwa dulu waktu dijajah belanda mereka mengungsi dari dataran rendah ke pegunungan dengan tujuan menghindari orang asing. Pada saat itu ada orang asing menegur mereka dengan bahasa Inggris “Don’t go” yang artinya jangan pergi, tapi mereka tetap saja pergi, dan berawal dari situlah nama “Donggo” dalam sebutan orang Bima dipakai sebagai nama suku di sana. Tidak berdasar dan tidak memiliki bukti. Mengakhiri ceritanya, orang itu tertawa ringan. Entah dari mana cerita itu berawal, tapi itulah lelucon mereka yang ingin kuabadikan di sini. Pada awalnya, suku Mbojo memang menempati gunung-gunung  yaitu pada masa Ncuhi pada abad 13 Masehi sebelum kerajaan Bima terbentuk. Pola bertahan hidup dengan berburu dan memakan tumbuhan di hutan adalah bentuk kehidupan zaman ncuhi untuk melangsungkan kehidupan mereka. Setelah Raja pertama Indra Zamrud yang terbentuk tahun 1200 Masehi naik tahta menjadi Raja, pola kehidupan di atas gunung berangsur-angsur pindah mendiami dataran. Indra Komala, saudara Indra Zamrud yang memiliki keahlian di bidang pertanian  mulai mengajarkan pola kehidupan dengan bercocok tanam. Orang-orang ramai “Mpungga dana” yaitu Membangun sawah-sawah baru di daerah dataran tertentu yang dekat dengan mata air. Namun, kebiasaan bercocok tanam di gunung masih dilakukan hingga sekarang. “Ngoho Oma” masih digeluti suku Bima dengan membabat hutan sampai gundul hingga pada masa Pemerintahan, Ama Emo, yaitu Bupati Bima Umar harun mencanangkan istilah pemerintah yang dikenal “Ngaha aina Ngoho” sampai sekarang yang betujuan mengajak suku Bima untuk mencari makan, tapi jangan sampai menggunduli hutan. Orang-orangnya keras, namun dikenal ramah, memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Aku sering mewawancari orang-orang dari daerah lain yang merantau di Bima mengenai keadaan orang-orang Bima. Mereka memiliki jawaban yang sama, katanya, tak ada solidaritas sosial yang lebih tinggi dari solidaritas yang saya temukan di Bima ini. Di sisi lain, aku juga sering mewawancarai bagaimana perilaku orang Bima ini di daerah lain, katanya, mereka adalah orang-orang yang berani, keras, namun pesona keramah-tamahan yang dibekali di tanah kelahiran tetap melekat dalam diri mereka. Terlepas dari hal itu, dalam hal menikah, karena dianggap sakral dan sangat penting sebagai gerbang awal yang dilalui sepasang kekasih atau remaja untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, maka dalam hal ini, orang Bima memiliki aturan yang baku sekaligus aturan itu diurut berdasarkan urutannya. Menikah dalam bahasa Bima “Nika ro Neku” adalah salah satu “Rawi rasa” yaitu kegiatan yang melibatkan semua warga dalam desa di mana kegiatan tersebut dilaksanakan atau dari desa lain. Bersumber dari tetua adat, budayawan dan orang-orang yang cakap dalam hal itu, berawal dari sebuah ketertarikan seorang lelaki atau perempuan, diadakanlah kunjungan rahasia oleh orang tua untuk mencari jodoh putra dan putrinya yang hanya diketahui oleh pihak keluarga saja. Cara ini dimaksudkan agar tidak menjadi fitnah apabila di kemudian hari terjadi penolakan atau hal-hal lain yang tidak mengenakan. Kunjungan yang dikenal dengan istilah “La lose ro la ludi” atau “Nari ro mpida” ini sebagai upaya awal untuk mengetahui apakah gadis dan jejaka belum menjadi tunangan jejaka dan gadis lain. Dulu, upaya ini hanya dilakukan oleh orang tua pihak pemuda untuk mencari jodoh putranya, tapi kemajuan zaman dan pola berpikir orang-orang Bima, itu berlaku juga bagi orang tua gadis dalam mencari jodoh untuk putrinya dengan alasan pemuda tersebut baik akhlaknya, atau bisa karena materi dan jabatan. Potret kehidupan kekinian dan tak terbantahkan. Sangat bertolak belakang bahwa pernikahan merupakan ibadah yang disyariatkan dalam islam. Diawali dengan niat yang benar, penuh berkah, memperbaiki akhlak dan menjauhi kemiskinan. Bukankah tujuan menikah itu untuk tujuan ibadah dengan kata lain menjaga diri dari perzinahan, menundukan pandangan, atau semata mahabbah kepada-Nya. Dengan berpantun dan bersyair, “Ompu panati” beserta keluarga terdekat melakukan kunjungan kedua dan menyampaikan maksud untuk meminang setelah mendapati kepastian bahwa gadis tersebut belum dilamar pemuda lain. Ompu panati adalah orang yang dipercaya dan dipandang ahli dalam hal pinang-meminang. Demi mempererat tali silaturahmi dan rasa persaudaraan karena telah diikat oleh kunjungan pertama dan kedua, maka ke dua keluarga bebas saling mengunjungi dalam batas yang wajar dan normatif. Ini disebut “Pita nggahi” yang dimaksudkan untuk  mempererat hubungan kekeluargaan kedua keluarga. Sebelum “Ngge’e Nuru” dilakukan terlebih dahulu keluarga pemuda melakukan kunjungan dengan berbekal “Mama” yaitu makanan yang terdiri dari daun sirih, pinang dan kapur sirih. Selain itu dibawakan juga kue tradisional serta buah-buahan yang dikenal dengan “Wa’a mama”. dan dilanjutkan upacara “Wa’a Sarau” yang biasa dilakukan pada saat musim menanam. Ngge’e Nuru artinya tinggal bersama di rumah calon mertua yang menandai resminya lamaran diterima. Ini dimaksudkan untuk menanti bulan dan hari baik untuk melaksanakan pernikahan. Selama “Ngge’e nuru” sang pria akan dinilai layak tidaknya mempersunting gadis pujaannya. Itu artinya sang pria harus memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang baik, tidak malas, rajin sholat dan sebagainya. Jika tidak, maka lamaran bisa dibatalkan secara sepihak oleh keluarga perempuan yang menandai putusnya ikatan. Diadakan pula acara “Mbaju” yang bertujuan untuk mengumpulkan dana pernikahan. Biasanya seluruh warga kampung akan membawa minimal sebaskom gabah dan maksimalnya bisa beberapa karung. Acara ini ditandai dengan datangnya seseorang yang ditugasi oleh yang berhajat ke tiap-tiap rumah bahwa pada hari itu, tanggal sekian, namanya siapa, akan mengadakan acara “Mbaju”. “Kangoa ra karingaku naisi mbaju la............, nika ana na la.........” Kalimat ini, saking sering kudengar, bahkan anak kecil pun menghafalnya. Kalimat inilah yang diucapkan oleh petugas yang mengumumkan adanya acara ini. Selain itu, sepanjang hari di saat acara “Mbaju” berlangsung akan diputar musik tradisional “Rawa Mbojo” yaitu pantun yang dinyanyikan dengan diiringi musik biola, atau gambus dengan pengeras Toa yang diangkat tinggi-tinggi menggunakan tiang berupa bambu seukuran 20 meter supaya seluruh warga kampung mendengar dan akan mendatangi sumber suara. Malamnya akan diadakan kumpulan kelurga setelah dilayangkan undangan yang bertujuan mengumpulkan dana berupa uang. Semua warga ikut menyumbang dari nominal terendah 20 ribu sampai jutaan dan dicatat besaran nominal dan nama penyumbangnya. Ini dimaksudkan untuk mengetahui jika penyumbang mengadakan upacara yang sama, maka penerima sumbangan akan menyumbang pada penyumbang dengan nominal yang sama. Setelah itu diadakan “Mbolo ro Dampa” ( Musyawarah ) untuk menentukan hari dan bulan yang baik untuk pelaksanaan nikah. Jumlah atau besar kecilnya mahar serta persyaratan lainnya semua diputuskan dalam mbolo ra dampa. Setelah hari pernikahan diputuskan bersama, maka calon penganten putri harus melakukan ketentuan adat yang disebut “nggempe”. Pada tahapan ini calon penganten perempuan tidak leluasa lagi meninggalkan rumah untuk bergaul dengan teman – teman sebaya. Ia harus berada di pamoka (loteng) didampingi oleh seorang tokoh adat perempuan sebagai “Ina ruka” (inang pengasuh) bertugas untuk membimbing dan menasehati calon penganten. Selama nggempe calon penganten akan ditemani oleh beberapa teman gadis sehingga tidak merasa kesepian. Sesuai keputusan Mbolo ro dampa, maka beberapa hari menjelang lafa (akad nikah), akan dilangsungkan upacara wa’a masa nika (pengantaran emas nikah) atau wa’a co’I (pengantaran mahar). Upacara dilaksakan sore hari sesudah sholat ashar, diikuti oleh keluarga, ompu panati, ulama, tokoh adat dan para kerabat. Para peserta akan berangkat dari rumah orang tua penganten laki – laki, berbusana adat yang sesuai dengan status sosial masing – masing. Rombongan pengantar mahar (dende wa’a co’i) akan dimeriahkan dengan atraksi kesenian Jiki Hadra (jikir hadrah) diiringi musik Arubana (rebana). Setibanya di rumah calon penganten putri akan disambut dengan tarian “wura bongi monca” (tari menabur beras kuning) dan atraksi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda. upacara pengantaran calon penganten putri dari rumah orang tuanya menuju uma ruka (rumah untuk penganten). Dilaksakan pada bulan purnama sesuai sholat Isya. Calon penganten putri diturunkan (kalondo) dari atas rumah orang tuanya dan diusung ke uma ruka ( rumah penganten). Diantar oleh sanak keluarga dan kerabat dengan berbusana adat yang beraneka ragam sesuai dengan status sosial dan usia pemakai. Dimeriahkan dengan atrasi jiki hadra (jikir hadra) diiringi musik rebana.Pada waktu yang bersamaan di uma ruka sedang berlangsung “Ngaji kapanca” (tadarusan pada upacara kapanca). Ngaji kapanca akan berakhir bersamaan dengan setibanya rombongan calon penganten putri di uma ruka. Setibanya di uma ruka, rombongan penganten disambut dengan tari wura bongi monca dan dimeriahkan dengan atraksi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda. Setelah calon penganten putri bersama rombongan tiba di Uma Ruka, maka akan dilanjutkan dengan upacara kapanca (penempelan inai). Upacara kapanca atau penempelan inai di atas telapak tangan calon penganten putri dilakukan oleh para tokoh adat perempuan. Dilakukan secara bergilir diiringi dengan lantunan jiki kapanca (jikir kapanca) tanpa iringan musik. Syair jikir berisi pujian atas kebesaran dan kemuuliaan Allah dan Rasul. Sebelum prosesi Akad Nikah, calon penganten puteri meminta ijin kepada orang tuanya untuk menikah. Prosesi ini berlangsung di Uma Ruka, atau di tempat tidur yang sudah dirias. Inilah proses Weha Nggahi atau meminta restu ayah bunda sebelum menikah. Didampingi oleh penghulu, calon penganten puteri bersujud dan mencium tangan ayah bundayanya. Lalu memohon ijin kepada ayahnya. “ Ayah, ijinkan saya menikah dengan Si Fulan. Maafkan atas segala kesalahan dan khilaf selama ini.” “ Baiklah anakku, Aku ijinkan engkau menjadi istri Si Fulan. Semoga kalian mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat”. Terkadang prosesi ini mengharukan. Banyak orang-orang yang sempat menyaksikannya berurai air mata. Karena prosesi ini tidak sekedar meminta ijin orang tua, tapi memiliki makna yang luas, karena nikah adalah perjalanan mengarungi bahtera yang terbentang penuh tantangan. Lafa atau Akad nikah merupakan acara kunci dalam pernikahan. Pada intinya akad nikah adalah upacara keagamaan untuk pernikahan antara dua insan manusia. Melalui akad nikah, maka hubungan antara dua insan yang saling bersepakat untuk berumah tangga diresmikan di hadapan manusia dan Tuhan. Penganten pria bersama sara hukum didampingi ompu tua(Orang Yang Dituakan) dan ompu panati akan melaksnakan satu upacara adat yang dilaksanakan setelah upacara lafa yaitu Hengga Dindi dan Hengga Kelambu. Secara harfiah “hengga dindi” berari “buka tabir”, atau hengga kalambu berarti “buka kelambu”. Sebelum masuk ke kamar bunti siwe, bunti mone (penganten laki – laki) bersama pendamping berdiri di luar “dinding satampa” (tabir pemisah). Di bagian dalam dindi satampa ada Ina ruka (inang pengasuh) bersama istri lebe, istri galara dan tokoh adat perempuan. Upacara dimulai oleh pihak bunti mone diwakili oleh ompu panati. Diawali dengan shalawat dan salam, ompu panati penyampaikan syair dan pantun. Sambil melemparkan beberapa keping uang perak ke dalam tabir. Setelah lemparan ketiga, akhirnya ina ruka membuka dindi satampa( Tabir pembatas). Dengan mempersembahkan puji syukur kepada Allah SWT, disusul dengan bacaan basmallah, akhirnya bunti mone bersama gelara dan lebe didampingi ompu panati dan keluarga memasuki kamar bunti siwe. Sesudah berada di dalam kamar, bunti mone melaksanakan shalat sunat dua rakaat untuk memohon kehadapan Allah SWT, agar mahligai rumah tangga selalu mendapat rahmat dan hidayah-Nya. Kini tiba saatnya bunti mone untuk melangkah mendekati bunti siwe guna melaksanakan upacara nenggu, yaitu mempersembahkan jungge ke sanggul sang bunti siwe tercinta. Upacara ini kadang – kadang disebut upacara cepe jenggu.Bunti mone mengawali upacara dengan mempersembahkan sekuntum jungge kala( Sanggul Merah) sebagai isyarat bahwa bunti mone seorang gagah berani, namun jungge kala lambang keberanian dibantik oleh bunti siwe. Kini bunti mone mempersembahkan jungge monca (Sanggul Kuning) kepada sang istri tercinta bunti siwe. Namun apa hendak dikata, jungge monca lambang kejayaan juga ditolak oleh bunti siwe. Bunti mone tidak putus asa, di tangan masih ada sekuntum jungge bura(Sanggul Putih) sebagai lambang keikhlasan hati dalam membina mahligai rumah tangga. Penyerahan jungge bura(Sanggul Putih) disambut gembira oleh bunti siwe. Jungge bura sebagai simbul keikhlasan lebih utama dari sekuntum bunga merah dan kuning. Karena keberanian tanpa keikhlasan akan menimbulkan petaka bagi keluarga. Kejayaan diraih dengan hasad dan dengki tidak akan berguna. Semua perjuangan tanpa kesucian akan sia – sia. Setelah itu acara Boho Oi Ndeu (Siraman) disebut juga Elo Rawi. Elo Rawi terdiri dari kata “elo” dan “rawi”. Elo berarti ekor atau akhir, sedangkan “rawi” berarti pekerjaan, dalam hal ini berarti “upacara”. Pengertian Elo Rawi dalam upacara adat Bima adalah upacara adat yang mengakhiri seluruh rangkain upacara adat tersebut. Boho oi ndeu adalah upacara memandikan penganten, dilakukan oleh ina ruka dan disaksikan oleh kaum ibu. Berlangsung pagi hari jam 09.00. karena itu upacara ini di namakan “boho oi ndeu” atau menyiram air mandi. Pada upacara boho oi ndeu, kedua penganten berdiri di atas “tampe dan lihu” (dua jenis alat tenun tradisional), keduanya berdiri menghadap kiblat. Badan mereka disatukan dengan ikatan “ero lanta” (benang putih). Kemudian di sekitar penganten dinyalakan lampu lilin. Sesudah upacara boho oi ndeu, maka dilanjutkan dengan upacara adat yang di kenal dengan “Ngaha Nggula”. Sebenarnya upacara ini merupakan upacara do’a yang dihadiri oleh gelara, lebe dan para tokoh agama dan adat beserta sanak saudara. Dalam upacara ini para undangan akan menikmati makanan khas Mbojo yaitu “Mangge Mada”. Mangge mada sejenis lauk pauk yang dibuat dari isi perut kambing atau kerbau, yang di cincang halus. Kemudian dicampur dengan santan kelapa, diberi bumbu “ringa” (wijen) dan bumbu khas Mbojo yang lain. Pada sore hari sesudah sholat ashar, dilanjutkan dengan upacara adat “tawori” atau “pamaco”. Upacara ini berlangsung di uma ruka dihadiri oleh para sanak keluarga atau anggota keluarga saja. Dalam upacara tawori atau pamaco, seluruh keluarga akan datang memberikan sumbangan kepada penganten baru untuk dijadikan modal dalam membina rumah tangganya. Pada masa lalu tawori atau pamaco hanya upacara untuk keluarga dalam rangka mengumpulkan sumbangan untuk kedua penganten. Para handai taulan serta kerabat di luar lingkungan keluarga sudah hadir pada mada rawi yaitu upacara lafa, sesuai dengan sunah Nabi yang menganjurkan kita menghadiri upacara lafa (akad nikah).Para kerabat dan seluruh masyarakat di sekitar sudah memberikan sumbangan pada awal pelaksanaan nika ro neku. Mereka datang bermai – ramai untuk melaksanakan “teka ro ne’e” (memberikan sumbangan).Pada perkembangan selanjutnya, upacara tawori atau pamaco dikenal dengan istilah rama tamah atau resepsi pernikahan. Pada masa sekarang sumbanngan yang diberikan oleh undangan tidak seimbang dengan biaya yang dikeluarkan oleh keluarga penganten, sehingga tujuan dari upacara sudah tidak sama dengan tujuan tawori atau pamaco masa lalu.
Bersambung. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar