Doro Raja 4
Di beranda malam, di bawah cahaya bebintang, di halaman depan
rumah kami semua tertawa ringan di sela-sela senda gurau. Aku, Mawar, Dae,
Bunda dan saudaraku yang berjumlah 7 orang. Cukup ramai. Mereka kejar-kejaran
menggoda si bungsu yang imut dan wajahnya sering menyita perhatianku. Lelaki
kecil yang belum genap sepuluh tahun itu, kata bunda, mirip aku waktu seumuran
dia. Tapi, kelihatannya dia jauh lebih tampan. Lelaki kecil ini jadi
inspirasiku. Dia terbilang anak yang baik bila dibandingkan dengan anak-anak
lain. Sebagai anak pertama dalam keluarga ini, aku selalu mendidik si bungsu
dengan baik. Aku selalu yakin, bahwa
sejatinya tak ada anak yang benar-benar jahat. Mereka hanyalah produk orang
tuanya, lingkungannya, produk sekolahnya, bahkan hasil produk bangsanya. Aku terkesan dengan anak-anak di jepang, di
mana anak seumuran ini mainannya adalah robot. Tentu saja lingkungannya itu
akan mengubah cara berpikirnya dan tidak heran negara Ceryy Blossom itu menjadi
salah satu negara indutri terbesar. Di sini, di negara ini, khususnya di
desaku, anak-anak seumuran dia hanya mengenal, Kawongga, kaleli, dan
mainan tradisional lainnya. Aku senang mereka sangat bahagia, sesekali
mengitari tungku perapian dengan bara yang menyala. Di atasnya ayam panggang
hampir matang. Di bawah pohon, Mposu yang rindang, pohon dengan daun
lebar dan buahnya bulat bergerigi serta sedikit lebih kecil dari buah jambu
biji. Tentu saja rasanya tidak pernah kutahu, sebab buahnya tidak bisa dimakan.
Hanya jadi media untuk berteduh. Ini dalam sangkaanku mirip penyair, di mana
para penyair itu akan berteduh di bawah rindangnya puisi, buah syair dan
tenggelam di dalamnya dalam bentuk sunyi yang damai. Dunia sunyi ini memang
selalu bercerita lebih banyak. Ia berbicara dalam diam. Jiwanya tenang dan
lapang, di mana sekumpulan kalimat berkembang biak di sana, di sabana hatinya
yang sunyi selalu ada ruang yang gegap gempita bagi kalimat itu untuk
bercerita. Bercerita apa saja. Dunia yang aneh, maka tidak heran pelakonnya
hanya sedikit. Bagiku, berada di tengah-tengah keluarga sederhana ini, aku
telah menatap hidupku dari cara yang berbeda. Cara sunyi yang hanya bisa
kupahami sendiri. Orang tua yang masih lengkap, saudara yang banyak, dan saat
ini, di tengah-tengah mereka ada seseorang yang bernama, Mawar. Aku merasa dia
sedang dilanda haru biru. Masa-masa yang hilang sejak lama dihadirkan kembali.
Mawar telah kehilangan ibunya sejak lama, dan bapaknya lebih asyik dengan istri
baru, maka tidak heran senyumnya lebih lama mengembang dari biasanya ketika
saat-saat seperti ini mengguyur hari-harinya, atau senyumnya padam seketika
lantaran kejadian ini mengingatkannya akan sesuatu yang susah payah dia
lupakan. Lewat senyum itu, aku mendengar
“Aku seperti kembali ke masa-masa dulu. Makan bersama dengan keluarga
yang masih lengkap. Terima kasih,” begitu katanya. Kata-kata yang tidak sempat
keluar. Mungkin haru biru telah mencekik kerongkongannya, atau..., ?
“Mawar, itu bintang yang luput dari mata kita kemarin waktu
di Gunung Raja.” Demi melebur duka dan bahagia yang berbaur di kepalanya, aku
mencairkan suasana. Aku selalu menyukai bintang. Semakin kukagumi bintang itu,
akal dan pengetahuanku semakin tumpul dan mengerucut pada tangan Tuhan yang
telah meraciknya. Betapa kecilnya aku di hadapan Tuhan. Betapa sebiji bintang
tercipta di luar jangkauan pengetahuanku, betapa pun kuhabiskan semua umurku
untuk mempelajari, apalagi di bentangan langit yang maha luas itu ada jutaan
bintang. Tak ada satu tangan pun yang sanggup menyaingi tangan-Nya.
“Iya, aku lihat, Kak! Kemarin ngumpet di mana, ya, itu
bintang?” Matanya mengikuti arah di mana telunjukku menunjuk.
“Ngumpet di matamu.” Tanganku yang tadinya menuding langit,
kini telah menunjuk matanya. Tepat di depan matanya untuk menguatkan pendapatku
bahwa bintangnya benar-benar bersembunyi di matanya. Wanita ini, kalau memandang
pasti lekat, dan gugusan indah racikan Tuhan di wajahnya teduh dalam
pandanganku.
“Bintang itu, kan, satu, Kak. Mataku ada dua,” katanya
protes sambil kedua telunjuknya dia tempatkan di bawah kelopak matanya. Aku
suka melihatnya seperti itu.
“Itu namanya, Rigil Kent, dan jenis bintangnya bintang
ganda, artinya lebih dari satu bintang. Kelihatannya saja satu, tapi nyatanya
lebih dari satu bintang. Bisa sepasang seperti matamu, tiga dan bisa banyak. Rigil
Kentaurus juga dikenal sebagai Alpha Centauri, adalah bintang paling terang
ketiga di langit.” Mawar, kalau mendengarkanku membicarakan bintang, tampaknya
dia lebih senang. Tenang. Matanya selalu berakhir di ujung hidungku. Katanya,
bagian itu adalah tempat terunik yang dia suka. Bisa kubaca dari wajahnya. Sobat!
Kuberi tahu, pintu untuk menarik masuk seseorang dalam dunia kita adalah lewat
apa yang dia suka. Kalau dia menyukai taman dengan suasana bunganya, maka
sempatkanlah diri mengajaknya ke taman. Apalagi sampai menjelaskan detail taman
dan bunganya. Jelaskan padanya rumput teki yang berbunga seolah sedang
memperkenalkan Cerry Blossom atau yang kita kenal dengan nama sakura jepang. Kalau
dia suka coklat, sisihkan uang untuk membelikannya. Tidak perlu sering, cukup
berikan di hari-hari bersejarah dalam hidupnya. Misalnya, sesederhana hari jadi
hubungannya denganmu, maka jiwa-raganya akan diserahkan sepenuhnya kepadamu. Lakukanlah
seikhlas mungkin dan dengan niat yang baik, maka hari-hari dan hidupnya akan
digantungkannya padamu. Apa yang ada padamu adalah dunianya. Dia akan melihat
dengan matamu. Berjalan dengan kakimu dan hidup dari udara yang engkau hirup. Orang
tua adalah tempat anak-anaknya bergantung, sebab wajah merekalah yang pertama
kali muncul dalam ingatannya ketika seorang anak sedang sedih dan bahagia.
Tampillah di hadapan mereka sebagai seorang yang pantas menggantikan mereka.
Menjadi kekasih, kakak, sahabat tempat segala keluhnya bermuara, maka hidupnya
adalah milikmu. Rupa-rupanya, wanita yang bernama, Mawar, ini sedang membangun
kasih dengan pakarnya.
“Aina ipi doho kalao ade ana dohoe.., ta ngaha mena waura.
Waura mami edaku utake,”1 ajak Dae sambil ayam panggang di perapian diangkatnya
dan diletakkan di sebuah piring ukuran jumbo. Dengan tangkas, Bunda,
memotongnya kecil-kecil dan diletakkan di tengah-tengah lingkaran kami yang
berjumlah sepuluh orang itu. Kami duduk melingkar di sebuah “sarangge”, semacam
dangau tanpa atap dan bentuknya persegi empat beralaskan “dipi fanda”, karya
asli Bima, dari anyaman daun pandan yang tumbuh liar di sepanjang sungai di desaku.
Pengrajinnya sudah tinggal beberapa orang saja, bersamaan dengan pohon pandan
yang hampir punah. Menu “Romantic dinner for eleven” malam
ini adalah ayam panggang, sayur asam, doco mangge khas Bima, yaitu campuran
asam muda, bawang merah, garam dan penyedap. Cukup sederhana.
“Cua kanaru lalopa rima re ana dohoeee..,”2 kata Bunda.
“Kalembo ademu ana ndo..., akepa mawara. Kombisi ra biasa
kaimu ngaha ma mewa aka umamu ni?”3 Dae menimpali.
“Samapa, Dae, akepa mori kai rau mada aka uma ta,”4 jawab,
Mawar, dengan suara pelan. Wanita ini murah sekali senyumnya. Lebih sering
tertawa. Aku menarik kesimpulan bahwa mereka yang suka tertawa, terlebih
kecenderungannya menghibur adalah mereka yang seharusnya butuh dihibur. Dengan
tangkas, Mawar, membantu, Dae, Aku dan yang lain menyiapkan nasi dalam piring
masing-masing. Kami makan dengan lahap. Duduk dengan rapi. Orang Bima memiliki
kebiasaan unik ketika makan. Adab makan yang secara turun temurun diajarkan. “Doho
Barasila” bagi lelaki, secara harafiahnya berarti duduk bersilang, dan “Doho
Kepa” sederhananya duduk dengan posisi ke dua kaki sejajar ke keri atau ke
kanan. Mirip duduk tahiyat dalam sholat.
“Ngaha roci mena, waura eli ringaku biola ka,” Dae
memperingatkan. Di desaku, rupanya tadi sore ada yang menikah. Setelah makan
dan sholat isya berjemaah, kami menonton acara hiburan malam. Biasanya, di
Bima, pada malam hari setelah resepsi pernikahan akan diadakan pentas hiburan
sederhana dengan musik biola dan beberapa penyanyi yang mahir dalam “Patu
Mbojo” yang berarti pantun Bima. Hebat dan unik penyanyi ini, pantun
dinyanyikan dengan diiringi musik biola. Biasanya mereka duduk di samping kiri
dan kanan pengiring. Treatrikal klasik ini menjadi ciri khas Bima, di mana
pengiringnya menampilkan diri sekelas “Peniup yang pandai”. Si misterius yang
membebaskan kota Hamelin di jerman dari wabah tikus hitam dalam legenda negara
itu dengan cara meniup sebuah pipa aneh, dan semua tikus mengikutinya keluar
kota dan masuk ke sungai. Atau, bisa sekelas George Frederick Handel, komponis
opera terkenal dengan oratorio dari jerman itu. Mereka cukup digandrungi wanita.
Dikenal luas dan tampilannya berbeda, rambut gondrong, ciri khas seniman.
“Audi baena douma campo bou
Cua ngasa ra ngehi nefa konena ngaha
Edempa dou maloa ka’ao
Sara’ana di’iu
Maloana eda aura nggahi ba ade
Tiwara au ne’e ra di urimu
Surampa tenggoku uru
Samporo na langa ade na balingo
Lingi na ade samporo da eda
Arieee...kone lao ndeumu tikauku lampa ndaimu
Kadende ra ouku...dende wa’aku di oi
Auku baena douma campo bou
Doco sia dungga tio pahu angi ti dengga
Kawarasi wunga nika
Ndai cua rawa ta maniki
Disa kaiku lao raka aipu edena
Arieee...badeku nggomi ma bareka
Disa kaina karido ba douma tuaku
Badena nggomi makani karudu
Eee...aule nggomi dibae cumpura neeku mabou
Ntenepa nggomi di mode sampe sa made.”
Di Bima, dalam hal menikah ada kebiasaan unik. Terlebih
segala kegiatan dan persiapan pranikah. Lain lubuk, lain pula ikannya. Lain
padang lain belalang, lain pula ilalang. Peribahasa ini lebih tepat menggambarkan
Indonesia yang majemuk. Di Bima saja kemajemukan itu menjadi ciri khasnya, di
mana setiap desa yang ada di Bima memiliki gaya berbicara masing-masing. Meski
menggunakan bahasa yang sama, namun logatnya berbeda, dalam bahasa Bima disebut
“Sentu”. Pada nama-nama barang tertentu kadang sebutannya berbeda, dan uniknya
lagi, di beberapa desa di Bima dalam hal berpakaian dapat dikenali dari desa
mana dia berasal. Unik sekali. Daerah Bima didiami oleh dua kelompok penduduk
asli, yaitu Dou Mbojo (Suku Mbojo = Orang Bima) dan Dou Donggo (Suku Donggo).
Menurut para sejarahwan dan antropolog budaya, bahwa orang Bima berasal dari
kelompok masyarakat hasil pembauran penduduk asli dengan kaum pendatang dari
Sulawesi Selatan, Jawa, Sumatera dan suku-suku lainnya di nusantara terutama
dari Makassar. Proses pembauran itu berlangsung sejak zaman Kerajaan sampai
zaman kesultanan pada abad 11 hingga awal abad 20. Pernikahan silang antara
penduduk asli dengan suku Makassar berlangsung pada masa pemerintahan Raja
Manggampo Donggo pada awal abad 16 M sampai akhir masa pemerintahan Sultan
Abdullah pada tahun 1868 M. Sedangkan suku Donggo adalah kelompok penduduk asli
yang bermukim di pegunungan dan dataran tinggi di sebelah barat dan tenggara
teluk Bima yang dikenal dengan Dou Donggo Ipa dan Donggo Ele. Orang Donggo Ipa
bermukim di sebelah barat teluk Bima yaitu di gugusan pegunungan Soromandi.
Sedangkan Dou Donggo Ele bermukim di sekitar pegunungan Lambitu. Kenapa
dinamakan Donggo? Donggo dalam Bahasa Bima lama berarti “Gunung dan dataran
Tinggi” Jadi Dou Donggo Ele berarti orang dataran tinggi sebelah timur.
Sedangkan Dou Donggo Ipa berarti orang dataran tinggi sebelah barat teluk Bima.
Aku sering ke sana, baik di Donggo ele maupun Donggo ipa. Aku pernah iseng
bertanya kenapa dinamakan Donggo? Dengan lelucon khasnya seseorang bercerita
padaku, bahwa dulu waktu dijajah belanda mereka mengungsi dari dataran rendah
ke pegunungan dengan tujuan menghindari orang asing. Pada saat itu ada orang
asing menegur mereka dengan bahasa Inggris “Don’t go” yang artinya jangan
pergi, tapi mereka tetap saja pergi, dan berawal dari situlah nama “Donggo”
dalam sebutan orang Bima dipakai sebagai nama suku di sana. Tidak berdasar dan
tidak memiliki bukti. Mengakhiri ceritanya, orang itu tertawa ringan. Entah
dari mana cerita itu berawal, tapi itulah lelucon mereka yang ingin kuabadikan
di sini. Pada awalnya, suku Mbojo memang menempati gunung-gunung yaitu pada masa Ncuhi pada abad 13 Masehi
sebelum kerajaan Bima terbentuk. Pola bertahan hidup dengan berburu dan memakan
tumbuhan di hutan adalah bentuk kehidupan zaman ncuhi untuk melangsungkan
kehidupan mereka. Setelah Raja pertama Indra Zamrud yang terbentuk tahun 1200
Masehi naik tahta menjadi Raja, pola kehidupan di atas gunung berangsur-angsur
pindah mendiami dataran. Indra Komala, saudara Indra Zamrud yang memiliki
keahlian di bidang pertanian mulai
mengajarkan pola kehidupan dengan bercocok tanam. Orang-orang ramai “Mpungga
dana” yaitu Membangun sawah-sawah baru di daerah dataran tertentu yang dekat dengan
mata air. Namun, kebiasaan bercocok tanam di gunung masih dilakukan hingga
sekarang. “Ngoho Oma” masih digeluti suku Bima dengan membabat hutan sampai
gundul hingga pada masa Pemerintahan, Ama Emo, yaitu Bupati Bima Umar harun
mencanangkan istilah pemerintah yang dikenal “Ngaha aina Ngoho” sampai sekarang
yang betujuan mengajak suku Bima untuk mencari makan, tapi jangan sampai
menggunduli hutan. Orang-orangnya keras, namun dikenal ramah, memiliki
solidaritas sosial yang tinggi. Aku sering mewawancari orang-orang dari daerah
lain yang merantau di Bima mengenai keadaan orang-orang Bima. Mereka memiliki
jawaban yang sama, katanya, tak ada solidaritas sosial yang lebih tinggi dari
solidaritas yang saya temukan di Bima ini. Di sisi lain, aku juga sering
mewawancarai bagaimana perilaku orang Bima ini di daerah lain, katanya, mereka
adalah orang-orang yang berani, keras, namun pesona keramah-tamahan yang
dibekali di tanah kelahiran tetap melekat dalam diri mereka. Terlepas dari hal
itu, dalam hal menikah, karena dianggap sakral dan sangat penting sebagai
gerbang awal yang dilalui sepasang kekasih atau remaja untuk mewujudkan
keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, maka dalam hal ini, orang Bima memiliki
aturan yang baku sekaligus aturan itu diurut berdasarkan urutannya. Menikah
dalam bahasa Bima “Nika ro Neku” adalah salah satu “Rawi rasa” yaitu kegiatan
yang melibatkan semua warga dalam desa di mana kegiatan tersebut dilaksanakan
atau dari desa lain. Bersumber dari tetua adat, budayawan dan orang-orang yang
cakap dalam hal itu, berawal dari sebuah ketertarikan seorang lelaki atau
perempuan, diadakanlah kunjungan rahasia oleh orang tua untuk mencari jodoh
putra dan putrinya yang hanya diketahui oleh pihak keluarga saja. Cara ini
dimaksudkan agar tidak menjadi fitnah apabila di kemudian hari terjadi
penolakan atau hal-hal lain yang tidak mengenakan. Kunjungan yang dikenal
dengan istilah “La lose ro la ludi” atau “Nari ro mpida” ini sebagai upaya awal
untuk mengetahui apakah gadis dan jejaka belum menjadi tunangan jejaka dan
gadis lain. Dulu, upaya ini hanya dilakukan oleh orang tua pihak pemuda untuk
mencari jodoh putranya, tapi kemajuan zaman dan pola berpikir orang-orang Bima,
itu berlaku juga bagi orang tua gadis dalam mencari jodoh untuk putrinya dengan
alasan pemuda tersebut baik akhlaknya, atau bisa karena materi dan jabatan.
Potret kehidupan kekinian dan tak terbantahkan. Sangat bertolak belakang bahwa
pernikahan merupakan ibadah yang disyariatkan dalam islam. Diawali dengan niat
yang benar, penuh berkah, memperbaiki akhlak dan menjauhi kemiskinan. Bukankah
tujuan menikah itu untuk tujuan ibadah dengan kata lain menjaga diri dari
perzinahan, menundukan pandangan, atau semata mahabbah kepada-Nya. Dengan
berpantun dan bersyair, “Ompu panati” beserta keluarga terdekat melakukan
kunjungan kedua dan menyampaikan maksud untuk meminang setelah mendapati
kepastian bahwa gadis tersebut belum dilamar pemuda lain. Ompu panati adalah
orang yang dipercaya dan dipandang ahli dalam hal pinang-meminang. Demi
mempererat tali silaturahmi dan rasa persaudaraan karena telah diikat oleh kunjungan
pertama dan kedua, maka ke dua keluarga bebas saling mengunjungi dalam batas
yang wajar dan normatif. Ini disebut “Pita nggahi” yang dimaksudkan untuk mempererat hubungan kekeluargaan kedua
keluarga. Sebelum “Ngge’e Nuru” dilakukan terlebih dahulu keluarga pemuda
melakukan kunjungan dengan berbekal “Mama” yaitu makanan yang terdiri dari daun
sirih, pinang dan kapur sirih. Selain itu dibawakan juga kue tradisional serta
buah-buahan yang dikenal dengan “Wa’a mama”. dan dilanjutkan upacara “Wa’a Sarau”
yang biasa dilakukan pada saat musim menanam. Ngge’e Nuru artinya tinggal
bersama di rumah calon mertua yang menandai resminya lamaran diterima. Ini
dimaksudkan untuk menanti bulan dan hari baik untuk melaksanakan pernikahan.
Selama “Ngge’e nuru” sang pria akan dinilai layak tidaknya mempersunting gadis
pujaannya. Itu artinya sang pria harus memperlihatkan sikap, tingkah laku dan
tutur kata yang baik, tidak malas, rajin sholat dan sebagainya. Jika tidak,
maka lamaran bisa dibatalkan secara sepihak oleh keluarga perempuan yang
menandai putusnya ikatan. Diadakan pula acara “Mbaju” yang bertujuan untuk
mengumpulkan dana pernikahan. Biasanya seluruh warga kampung akan membawa
minimal sebaskom gabah dan maksimalnya bisa beberapa karung. Acara ini ditandai
dengan datangnya seseorang yang ditugasi oleh yang berhajat ke tiap-tiap rumah
bahwa pada hari itu, tanggal sekian, namanya siapa, akan mengadakan acara
“Mbaju”. “Kangoa ra karingaku naisi mbaju la............, nika ana na
la.........” Kalimat ini, saking sering kudengar, bahkan anak kecil pun
menghafalnya. Kalimat inilah yang diucapkan oleh petugas yang mengumumkan
adanya acara ini. Selain itu, sepanjang hari di saat acara “Mbaju” berlangsung
akan diputar musik tradisional “Rawa Mbojo” yaitu pantun yang dinyanyikan
dengan diiringi musik biola, atau gambus dengan pengeras Toa yang diangkat
tinggi-tinggi menggunakan tiang berupa bambu seukuran 20 meter supaya seluruh
warga kampung mendengar dan akan mendatangi sumber suara. Malamnya akan
diadakan kumpulan kelurga setelah dilayangkan undangan yang bertujuan
mengumpulkan dana berupa uang. Semua warga ikut menyumbang dari nominal
terendah 20 ribu sampai jutaan dan dicatat besaran nominal dan nama penyumbangnya.
Ini dimaksudkan untuk mengetahui jika penyumbang mengadakan upacara yang sama,
maka penerima sumbangan akan menyumbang pada penyumbang dengan nominal yang
sama. Setelah itu diadakan “Mbolo ro Dampa” ( Musyawarah ) untuk menentukan
hari dan bulan yang baik untuk pelaksanaan nikah. Jumlah atau besar kecilnya
mahar serta persyaratan lainnya semua diputuskan dalam mbolo ra dampa. Setelah
hari pernikahan diputuskan bersama, maka calon penganten putri harus melakukan
ketentuan adat yang disebut “nggempe”. Pada tahapan ini calon penganten
perempuan tidak leluasa lagi meninggalkan rumah untuk bergaul dengan teman –
teman sebaya. Ia harus berada di pamoka (loteng) didampingi oleh seorang tokoh
adat perempuan sebagai “Ina ruka” (inang pengasuh) bertugas untuk
membimbing dan menasehati calon penganten. Selama nggempe calon penganten akan
ditemani oleh beberapa teman gadis sehingga tidak merasa kesepian. Sesuai
keputusan Mbolo ro dampa, maka beberapa hari menjelang lafa (akad nikah), akan
dilangsungkan upacara wa’a masa nika (pengantaran emas nikah) atau wa’a co’I
(pengantaran mahar). Upacara dilaksakan sore hari sesudah sholat ashar, diikuti
oleh keluarga, ompu panati, ulama, tokoh adat dan para kerabat. Para peserta
akan berangkat dari rumah orang tua penganten laki – laki, berbusana adat yang
sesuai dengan status sosial masing – masing. Rombongan pengantar mahar (dende
wa’a co’i) akan dimeriahkan dengan atraksi kesenian Jiki Hadra (jikir hadrah)
diiringi musik Arubana (rebana). Setibanya di rumah calon penganten putri akan
disambut dengan tarian “wura bongi monca” (tari menabur beras kuning) dan atraksi
mpa’a sila, gantao dan buja kadanda. upacara pengantaran calon penganten putri
dari rumah orang tuanya menuju uma ruka (rumah untuk penganten). Dilaksakan
pada bulan purnama sesuai sholat Isya. Calon penganten putri diturunkan
(kalondo) dari atas rumah orang tuanya dan diusung ke uma ruka ( rumah
penganten). Diantar oleh sanak keluarga dan kerabat dengan berbusana adat yang
beraneka ragam sesuai dengan status sosial dan usia pemakai. Dimeriahkan dengan
atrasi jiki hadra (jikir hadra) diiringi musik rebana.Pada waktu yang bersamaan
di uma ruka sedang berlangsung “Ngaji kapanca” (tadarusan pada upacara
kapanca). Ngaji kapanca akan berakhir bersamaan dengan setibanya rombongan
calon penganten putri di uma ruka. Setibanya di uma ruka, rombongan penganten
disambut dengan tari wura bongi monca dan dimeriahkan dengan atraksi mpa’a
sila, gantao dan buja kadanda. Setelah calon penganten putri bersama rombongan
tiba di Uma Ruka, maka akan dilanjutkan dengan upacara kapanca (penempelan inai).
Upacara kapanca atau penempelan inai di atas telapak tangan calon penganten
putri dilakukan oleh para tokoh adat perempuan. Dilakukan secara bergilir diiringi
dengan lantunan jiki kapanca (jikir kapanca) tanpa iringan musik. Syair jikir
berisi pujian atas kebesaran dan kemuuliaan Allah dan Rasul. Sebelum prosesi
Akad Nikah, calon penganten puteri meminta ijin kepada orang tuanya untuk
menikah. Prosesi ini berlangsung di Uma Ruka, atau di tempat tidur yang sudah
dirias. Inilah proses Weha Nggahi atau meminta restu ayah bunda sebelum
menikah. Didampingi oleh penghulu, calon penganten puteri bersujud dan mencium
tangan ayah bundayanya. Lalu memohon ijin kepada ayahnya. “ Ayah, ijinkan saya
menikah dengan Si Fulan. Maafkan atas segala kesalahan dan khilaf selama ini.”
“ Baiklah anakku, Aku ijinkan engkau menjadi istri Si Fulan. Semoga kalian
mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat”. Terkadang prosesi ini mengharukan. Banyak orang-orang yang sempat
menyaksikannya berurai air mata. Karena prosesi ini tidak sekedar meminta ijin
orang tua, tapi memiliki makna yang luas, karena nikah adalah perjalanan
mengarungi bahtera yang terbentang penuh tantangan. Lafa atau Akad
nikah merupakan acara kunci dalam pernikahan. Pada intinya akad nikah adalah
upacara keagamaan untuk pernikahan antara dua insan manusia. Melalui akad
nikah, maka hubungan antara dua insan yang saling bersepakat untuk berumah
tangga diresmikan di hadapan manusia dan Tuhan. Penganten pria bersama sara
hukum didampingi ompu tua(Orang Yang Dituakan) dan ompu panati akan melaksnakan
satu upacara adat yang dilaksanakan setelah upacara lafa yaitu Hengga Dindi
dan Hengga Kelambu. Secara harfiah “hengga dindi” berari “buka tabir”, atau
hengga kalambu berarti “buka kelambu”. Sebelum masuk ke kamar bunti siwe, bunti
mone (penganten laki – laki) bersama pendamping berdiri di luar “dinding
satampa” (tabir pemisah). Di bagian dalam dindi satampa ada Ina ruka (inang
pengasuh) bersama istri lebe, istri galara dan tokoh adat perempuan. Upacara dimulai
oleh pihak bunti mone diwakili oleh ompu panati. Diawali dengan shalawat dan
salam, ompu panati penyampaikan syair dan pantun. Sambil melemparkan beberapa
keping uang perak ke dalam tabir. Setelah lemparan ketiga, akhirnya ina ruka
membuka dindi satampa( Tabir pembatas). Dengan mempersembahkan puji syukur
kepada Allah SWT, disusul dengan bacaan basmallah, akhirnya bunti mone bersama
gelara dan lebe didampingi ompu panati dan keluarga memasuki kamar bunti siwe. Sesudah
berada di dalam kamar, bunti mone melaksanakan shalat sunat dua rakaat untuk
memohon kehadapan Allah SWT, agar mahligai rumah tangga selalu mendapat rahmat
dan hidayah-Nya. Kini tiba saatnya bunti mone untuk melangkah mendekati bunti
siwe guna melaksanakan upacara nenggu, yaitu mempersembahkan jungge
ke sanggul sang bunti siwe tercinta. Upacara ini kadang – kadang disebut upacara
cepe jenggu.Bunti mone mengawali upacara dengan mempersembahkan
sekuntum jungge kala( Sanggul Merah) sebagai isyarat bahwa bunti mone
seorang gagah berani, namun jungge kala lambang keberanian dibantik oleh
bunti siwe. Kini bunti mone mempersembahkan jungge
monca (Sanggul Kuning) kepada sang istri tercinta bunti siwe. Namun apa
hendak dikata, jungge monca lambang kejayaan juga ditolak oleh
bunti siwe. Bunti mone tidak putus asa, di tangan masih ada sekuntum jungge
bura(Sanggul Putih) sebagai lambang keikhlasan hati dalam membina mahligai
rumah tangga. Penyerahan jungge bura(Sanggul Putih) disambut gembira oleh bunti
siwe. Jungge bura sebagai simbul keikhlasan lebih utama dari sekuntum
bunga merah dan kuning. Karena keberanian tanpa keikhlasan akan menimbulkan
petaka bagi keluarga. Kejayaan diraih dengan hasad dan dengki tidak akan
berguna. Semua perjuangan tanpa kesucian akan sia – sia. Setelah itu acara
Boho Oi Ndeu (Siraman) disebut juga Elo Rawi. Elo Rawi terdiri dari kata “elo”
dan “rawi”. Elo berarti ekor atau akhir, sedangkan “rawi” berarti pekerjaan,
dalam hal ini berarti “upacara”. Pengertian Elo Rawi dalam upacara adat Bima adalah
upacara adat yang mengakhiri seluruh rangkain upacara adat tersebut. Boho oi ndeu adalah upacara memandikan penganten,
dilakukan oleh ina ruka dan disaksikan oleh kaum ibu. Berlangsung pagi hari jam
09.00. karena itu upacara ini di namakan “boho oi ndeu” atau menyiram air
mandi. Pada upacara boho oi ndeu, kedua penganten berdiri di atas “tampe dan
lihu” (dua jenis alat tenun tradisional), keduanya berdiri menghadap
kiblat. Badan mereka disatukan dengan ikatan “ero lanta” (benang putih).
Kemudian di sekitar penganten dinyalakan lampu lilin. Sesudah upacara
boho oi ndeu, maka dilanjutkan dengan upacara adat yang di kenal dengan “Ngaha
Nggula”. Sebenarnya upacara ini merupakan upacara do’a yang dihadiri oleh
gelara, lebe dan para tokoh agama dan adat beserta sanak saudara. Dalam upacara
ini para undangan akan menikmati makanan khas Mbojo yaitu “Mangge Mada”. Mangge
mada sejenis lauk pauk yang dibuat dari isi perut kambing atau kerbau, yang di
cincang halus. Kemudian dicampur dengan santan kelapa, diberi bumbu “ringa”
(wijen) dan bumbu khas Mbojo yang lain. Pada sore hari sesudah sholat ashar,
dilanjutkan dengan upacara adat “tawori” atau “pamaco”. Upacara
ini berlangsung di uma ruka dihadiri oleh para sanak keluarga atau anggota
keluarga saja. Dalam upacara tawori atau pamaco, seluruh keluarga
akan datang memberikan sumbangan kepada penganten baru untuk dijadikan modal
dalam membina rumah tangganya. Pada masa lalu tawori atau pamaco hanya
upacara untuk keluarga dalam rangka mengumpulkan sumbangan untuk kedua
penganten. Para handai taulan serta kerabat di luar lingkungan keluarga sudah
hadir pada mada rawi yaitu upacara lafa, sesuai dengan sunah Nabi yang
menganjurkan kita menghadiri upacara lafa (akad nikah).Para kerabat dan
seluruh masyarakat di sekitar sudah memberikan sumbangan pada awal pelaksanaan nika
ro neku. Mereka datang bermai – ramai untuk melaksanakan “teka ro ne’e”
(memberikan sumbangan).Pada perkembangan selanjutnya, upacara tawori atau
pamaco dikenal dengan istilah rama tamah atau resepsi pernikahan. Pada masa
sekarang sumbanngan yang diberikan oleh undangan tidak seimbang dengan biaya
yang dikeluarkan oleh keluarga penganten, sehingga tujuan dari upacara sudah
tidak sama dengan tujuan tawori atau pamaco masa lalu.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar