Sabtu, 17 Oktober 2015

NGGAHI RAWI PAHU 3


Di tanah “Nggahi Rawi Pahu” ini, aku mulai belajar menyesuaikan diri. Mengenali alamnya. Di ujung selatan Kab. Dompu ini, di sebuah desa kecil, Mawar tinggal dalam sebuah bangunan yang disediakan pemerintah untuk melayani pasien yang melahirkan. Tugas yang sangat mulia, menyelamatkan dua nyawa dalam waktu yang bersamaan. Di kamar sebelah, tinggal juga seorang bidan yang memiliki tugas yang sama. Tapi, mereka lebih suka tidur dalam satu kamar dan mereka sangat akrab.
“Dea, ini Kak Ray dan Kak Ray, ini Bidan Dea. Dia juga tinggal di sini dan teman sekamarku.”
“Senang berteman denganmu, Dea.”
“Senang juga berteman denganmu, Kak.”
“Kak, Dea ini masih sepupuan dengan pipit, lho.”
“Oh, iya, pantas mirip dan tadinya kupikir kembarannya.” Kedua wanita itu tertawa.
“Pandai melucu juga rupanya,” berkata Dea sambil cekikikan.
“Tentu saja bisa.”
“Yuk, ke rumah, Kak! Dea, kami ke rumah dulu, ya. Kak Ray ingin bertemu  Ayahku,” ajak Mawar dan memberitahukannya pada Dea. Jarak antara Polindes dan rumahnya tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit. Rumah itu hanya didiami kakak perempuannya yang baru saja menikah dan seorang saudara laki-laki yang masih berumur kurang dari dua puluh tahun. Barangkali masih 18 tahun.
“Saya adiknya.” Anak lelaki yang baru tamat sekolah menengah atas itu langsung memperkenalkan dirinya dan menyapaku dengan ramah. Tapi, ada sesuatu yang tidak membuatku nyaman di rumah itu. Kakak dan kakak iparnya yang sempat kudengar namanya saat Mawar memanggil keduanya menunjukan sikap acuh tak acuh. Kakaknya bernama, Rista dan iparny bernama Rahim.
“Ayah kemana, kok tidak kelihatan?”  Tanyaku.
“Ayah tidak tinggal di sini. Ayah tinggal dengan istri barunya di desa sebelah. Duduk saja dulu, nanti kita ke sana.”
Tidak ada tumbal lain dari sebuah perpisahan kecuali ketelantaran, walaupun perpisahan itu harus karena maut-Nya. Hidup harus dilanjutkan kendati orang tua yang tidak lengkap dan tengah dilengkapi dengan ibu yang bukan melahirkan kita. Hidup harus terus tegak kendati kendalanya memaksa  menarik kita untuk jatuh dan terjerembab dalam kesedihan. Hidup tidak harus berakhir dengan alasan kehilangan, apapun itu, termasuk di dalamnya kehilangan orang tua yang sangat disayangi. Kehilangan satu tongkat lantas tidak membuat kita kehilangan pegangan. Ibarat burung di tengah rimba. Satu dahan yang patah tidak berarti kehilangan semua dahan untuk bertengger. Masih banyak tangan yang akan menuntun pada arah yang lebih baik. Masih banyak bahu yang bersedia menopang kepala kala membutuhkan. Masih ada saudara dan keluarga yang peduli. Jika sekalipun hidup sendiri, akan ada lengan yang disediakan Tuhan di atas sajadah yang bersedia membelai dan memeluk dengan damai. Yang bersedia mengusap air mata dengan malamnya yang indah. Hidup harus berlanjut sebab Tuhan masih titahkan nyawa di sebalik raga dan jelas ada rencana terbaik yang akan dihadirkannya kelak. Tak ada satu pun yang luput dari kuasa-Nya. Masih ada nikmat yang jika dibandingkan dengan satu kehilangan, maka masih ada mata yang jadi perantara untuk melihat keindahan lain yang tersedia. Beribu-ribu jumlahnya. Satu keindahan yang hilang tidak semestinya menjadi alasan kehilangan banyak keindahan. Masih ada hidung yang bersedia menghirup aroma alam yang bercampur dengan udara. Aroma bunga di pagi hari yang dilewatkan sebelumnya. Hidup harus berlanjut walau harus berdiri di atas kaki sendiri hingga nyawa terlepas dari raga dengan damai dan tanpa beban serta dosa. Tak ada alasan untuk menghianati hidup dan membencinya. Apalagi mengakhirinya dengan tidak wajar atas kekalahan kita terhadap kehidupan, sementara kalau kita bersabar sedikit saja kita mampu mengatasinya. Hidup memang tidak dimaksudkan untuk mudah dan lebih banyak yang dipikul daripada dinikmati.
“Assalamu-Alaikum-Warahmatullahi-Wabarakatuh,” Mawar memberi salam ketika sudah turun dari motor dan memasuki halaman rumah Ayahnya.
“Waalaikum-Salaaam,” terdengar suara cempreng dari dalam rumah. Lewat suara itu aku dapat menerka umur berapa pemiliknya. Tepat sekali ketika pemiliknya membukakan pintu dan kulihat beliau berumur lebih kurang enam puluhan. Segera aku mencium tangan ayahnya dan disusul Mawar. Pria dengan tinggi badan kurang dari seratus tujuh puluh sentimeter dan hitam manis itu cukup ramah.
“Sudah lama di sini,  Nak?”
“Baru saja, Ayah. Ini kali keduanya saya datang ke sini. Pertama, Waktu itu saya masih duduk di sekolah menengah pertama. Sekolahku mengadakan piknik sekolah berhubungan dengan penerimaan raport. Sudah lama sekali.”
“Kapan pulangnya?”
“Insya Allah besok sore, Ayah.” Lelaki yang bernama lengakap Muhtar Loba itu cukup akrab dan menyenangkan, baik dan murah senyum.
“Besok pagi saya harus keliliing dulu, Ayah, ” sambungku.
Hamparan gunung-gunung dengan pohon yang jarang-jarang. Dari arah selatan terdengar dentuman ujung gelombang yang menabrak karang menggoda telinga. Tentu saja pengunjung dari manca negara ada di sana. Pantai yang menjadi kebanggaan Kabupaten Dompu dan menjadi salah satu penyumbang pundi-pundi kas daerah. Pantai yang dikenal dengan nama “Lakey beach” itu terletak tidak jauh dari desa di mana Mawar tinggal, yaitu di desa Marada, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu. Pernah aku mendengar pidato Bupati yang mengadakan perjalanan dinas ke sana, bahwa Kecamatan itu adalah Kecamatan terkaya dengan penyumbang pundi kas daerah dari hasil pariwsata dan tambang. Di kecamatan itu ada tambang emas yang lagi-lagi dikelola oleh pihak asing. Setiap saat holikopter hilir mudik dengan membawa bijih emas yang akan diproses menjadi emas murni dan segera diangkut ke negara asing. Penduduk lokal hanya menikmati polusi yang keluar dari cerobong pembuangannya dan alamnya yang mulai rusak.  Hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkan berkah dari berdirinya tambang itu. Orang-orang yang dipekerjakan saja yang mendapatkan upah seadanya di sana.
Hari telah sore lagi, sementara gugusan angin yang tak kasat mata itu menggerakkan semak-semak dan menciptakan gelombang di darat. Persis seperti gelombang yang ada di hamparan laut di bagian selatannya. Di bahu karang yang gagah berdiri dan serupa manusia, duduk sepasang kekasih. Memandang lekat ke tengah laut dan sesekali saling memandang. 
“Tuhan telah menjawab doaku.”
“Doa apa maksudmu?”
“ Kenapa tidak dari dulu, ya, kak, aku bertemu lelaki sepertimu? Caramu memperlakukanku persis seperti doa-doa yang pernah kulantunkan. Doa-doaku itu wujudnya adalah, Kak Ray.”
“Sebelum tiba di sini, aku tersesat dengan banyak hati. Tentu kau juga mengalami hal itu. Disakiti, menyakiti, dan itu melelahkan sekali. Benar, bahwa kita semua akan didewasakan oleh nasehat yang diberikan langsung oleh pengalaman kita sendiri. Disakiti mengajarkan kita untuk kuat dan belajar ikhlas, sementara menyakiti membuat kita memahami lebih perasaan orang lain, dan meminta maaf setelahnya menyadarkan kita untuk bisa memaafkan. Ada banyak hati yang ingin bertaut dengan hati ini, tentu di hatimu ada banyak pula yang ingin bernaung, tapi sebongkah daging itu selalu bisa menyeleksi , lalu memilih yang menurut ukurannya baik.”
“Apa aku baik untuk ukuran hatimu, Kak?”
“Hatiku telah memilihmu.” Tatapan itu lagi. Tatapan yang selalu berakhir di ujung hidungku. Teduh dan lekatnya tak lekas pergi. Menuding urat-urat kecil yang menjalar di hatiku untuk merasakan lagi keindahan yang ditimbulkannya. Sekali lagi menyadarkanku betapa tak ada keindahan lain yang serasa keindahan cinta. Dan, darinya pun tak ada kekecewaan yang sebanding dengan yang diakibatkannya.
“Jangan memandangku seperti itu. Nanti aku bisa lupa apa nama tempat ini.” Aku segera berdiri dan bertanya.
“Hei..., Nona! Apa nama tempat ini dan siapa namamu?” Tak ayal tingkahku membuatnya tertawa dan mengejarku kaya di film-film itu. Kubiarkan saja, Mawar menjamah tubuhku dengan pukulan-pukulan manjanya. Kunaiki motor yang terparkir tidak jauh dari tempatku dan menghidupkannya.
“Ayo, naik, Nona. Kita akan keliling London.” Mendapati kegilaanku,  Mawar menaiki motor dan aku mulai mengitari satu pohon di tempat yang sama dengan kecepatan sedang. Puluhan kali putaran dan kuhentikan setelah mendapati  Mawar muntah-muntah.
“Kau suka mabuk dalam perjalanan rupanya. Padahal kita baru sebentar mengelilingi kota London. Kita belum mengelilingi Shakespeare’s Globe Theatre, tempat yang spektakuler  di Soutwark, tepi Selatan Sungai Thames yang merupakan sebuah taman bermain anak terbuka dimana penulis drama, Shakespeare, banyak menulis drama terbesarnya. Kau tahu? Di sungai thames itu pulalah salah satu cara terbaik untuk melihat kota London. Kita belum melihat-lihat Istana Kensington di London ini  yang dibentuk oleh generasi perempuan kerajaan dari Queen Mary ke Victoria dan baru-baru ini Diana, Princess of Wales. Iya, oleh perempuan-perempuan yang memahami bahwa gagah itu tidak hanya disandang lelaki. Istana ini memiliki beberapa taman dengan gaya elegan seperti Sunken Garden, sebuah oasis yang tenang dan nyaman dan merupakan tempat yang tepat untuk bertamasya di hari sibuk. Iya, oleh perempuan hebat sepertimu juga yang berhasil membuat istana yang bernama bahagia di hatiku.”
“Kau lari keliling pohon, Kak, bukan kota London,” teriaknya.
“oh, tidak, kita belum mengelilingi Big Ben yang menjadi ikon kota london itu, Mawar. Kau akan menyesal jika perjalanan ini kita hentikan akibat ulah perutmu itu.” Terangku yang kubuat seolah-olah di tengah kota london. Dan, tawa itu meledak-ledak seperti letupan senjata.
“Tu, lihat! Matahari hampir tenggelam. Pulang..., Kak,” sambungnya lagi, sementara aku geli melihatnya memuntahkan isi perutnya.
Sepasang camar melesat di udara menikmati ujung-ujung hari, dan mengantar terang sebelum lindap oleh malam. Tawa yang disusun dua pelakon asmara itu menjadi sebuah bangunan yang terhampar di udara, tempat harapan dan cita-citanya tinggal. Hendak diraihnya mimpi yang telah menjadi sepasang itu setelah lelah sendiri. Telah naik menjadi embun di tengah kerontang dedaunan. Telah menjadi tunas tempat bebunga bermekaran. Dan, memang benar bahwa cinta selalu menemukan cara untuk bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar