NGGAHI RAWI PAHU 3
Di tanah “Nggahi Rawi Pahu” ini,
aku mulai belajar menyesuaikan diri. Mengenali alamnya. Di ujung selatan Kab.
Dompu ini, di sebuah desa kecil, Mawar tinggal dalam sebuah bangunan yang
disediakan pemerintah untuk melayani pasien yang melahirkan. Tugas yang sangat
mulia, menyelamatkan dua nyawa dalam waktu yang bersamaan. Di kamar sebelah,
tinggal juga seorang bidan yang memiliki tugas yang sama. Tapi, mereka lebih
suka tidur dalam satu kamar dan mereka sangat akrab.
“Dea, ini Kak Ray dan Kak Ray, ini
Bidan Dea. Dia juga tinggal di sini dan teman sekamarku.”
“Senang berteman denganmu, Dea.”
“Senang juga berteman denganmu,
Kak.”
“Kak, Dea ini masih sepupuan
dengan pipit, lho.”
“Oh, iya, pantas mirip dan tadinya
kupikir kembarannya.” Kedua wanita itu tertawa.
“Pandai melucu juga rupanya,”
berkata Dea sambil cekikikan.
“Tentu saja bisa.”
“Yuk, ke rumah, Kak! Dea, kami ke
rumah dulu, ya. Kak Ray ingin bertemu
Ayahku,” ajak Mawar dan memberitahukannya pada Dea. Jarak antara
Polindes dan rumahnya tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang dari
sepuluh menit. Rumah itu hanya didiami kakak perempuannya yang baru saja
menikah dan seorang saudara laki-laki yang masih berumur kurang dari dua puluh
tahun. Barangkali masih 18 tahun.
“Saya adiknya.” Anak lelaki yang
baru tamat sekolah menengah atas itu langsung memperkenalkan dirinya dan
menyapaku dengan ramah. Tapi, ada sesuatu yang tidak membuatku nyaman di rumah
itu. Kakak dan kakak iparnya yang sempat kudengar namanya saat Mawar memanggil
keduanya menunjukan sikap acuh tak acuh. Kakaknya bernama, Rista dan iparny
bernama Rahim.
“Ayah kemana, kok tidak
kelihatan?” Tanyaku.
“Ayah tidak tinggal di sini. Ayah
tinggal dengan istri barunya di desa sebelah. Duduk saja dulu, nanti kita ke
sana.”
Tidak ada tumbal lain dari sebuah
perpisahan kecuali ketelantaran, walaupun perpisahan itu harus karena maut-Nya.
Hidup harus dilanjutkan kendati orang tua yang tidak lengkap dan tengah
dilengkapi dengan ibu yang bukan melahirkan kita. Hidup harus terus tegak
kendati kendalanya memaksa menarik kita
untuk jatuh dan terjerembab dalam kesedihan. Hidup tidak harus berakhir dengan
alasan kehilangan, apapun itu, termasuk di dalamnya kehilangan orang tua yang
sangat disayangi. Kehilangan satu tongkat lantas tidak membuat kita kehilangan
pegangan. Ibarat burung di tengah rimba. Satu dahan yang patah tidak berarti
kehilangan semua dahan untuk bertengger. Masih banyak tangan yang akan menuntun
pada arah yang lebih baik. Masih banyak bahu yang bersedia menopang kepala kala
membutuhkan. Masih ada saudara dan keluarga yang peduli. Jika sekalipun hidup
sendiri, akan ada lengan yang disediakan Tuhan di atas sajadah yang bersedia
membelai dan memeluk dengan damai. Yang bersedia mengusap air mata dengan
malamnya yang indah. Hidup harus berlanjut sebab Tuhan masih titahkan nyawa di
sebalik raga dan jelas ada rencana terbaik yang akan dihadirkannya kelak. Tak
ada satu pun yang luput dari kuasa-Nya. Masih ada nikmat yang jika dibandingkan
dengan satu kehilangan, maka masih ada mata yang jadi perantara untuk melihat
keindahan lain yang tersedia. Beribu-ribu jumlahnya. Satu keindahan yang hilang
tidak semestinya menjadi alasan kehilangan banyak keindahan. Masih ada hidung
yang bersedia menghirup aroma alam yang bercampur dengan udara. Aroma bunga di
pagi hari yang dilewatkan sebelumnya. Hidup harus berlanjut walau harus berdiri
di atas kaki sendiri hingga nyawa terlepas dari raga dengan damai dan tanpa
beban serta dosa. Tak ada alasan untuk menghianati hidup dan membencinya. Apalagi
mengakhirinya dengan tidak wajar atas kekalahan kita terhadap kehidupan,
sementara kalau kita bersabar sedikit saja kita mampu mengatasinya. Hidup
memang tidak dimaksudkan untuk mudah dan lebih banyak yang dipikul daripada
dinikmati.
“Assalamu-Alaikum-Warahmatullahi-Wabarakatuh,”
Mawar memberi salam ketika sudah turun dari motor dan memasuki halaman rumah
Ayahnya.
“Waalaikum-Salaaam,” terdengar
suara cempreng dari dalam rumah. Lewat suara itu aku dapat menerka umur berapa
pemiliknya. Tepat sekali ketika pemiliknya membukakan pintu dan kulihat beliau
berumur lebih kurang enam puluhan. Segera aku mencium tangan ayahnya dan
disusul Mawar. Pria dengan tinggi badan kurang dari seratus tujuh puluh
sentimeter dan hitam manis itu cukup ramah.
“Sudah lama di sini, Nak?”
“Baru saja, Ayah. Ini kali
keduanya saya datang ke sini. Pertama, Waktu itu saya masih duduk di sekolah
menengah pertama. Sekolahku mengadakan piknik sekolah berhubungan dengan
penerimaan raport. Sudah lama sekali.”
“Kapan pulangnya?”
“Insya Allah besok sore, Ayah.”
Lelaki yang bernama lengakap Muhtar Loba itu cukup akrab dan menyenangkan, baik
dan murah senyum.
“Besok pagi saya harus keliliing
dulu, Ayah, ” sambungku.
Hamparan gunung-gunung dengan
pohon yang jarang-jarang. Dari arah selatan terdengar dentuman ujung gelombang
yang menabrak karang menggoda telinga. Tentu saja pengunjung dari manca negara
ada di sana. Pantai yang menjadi kebanggaan Kabupaten Dompu dan menjadi salah
satu penyumbang pundi-pundi kas daerah. Pantai yang dikenal dengan nama “Lakey
beach” itu terletak tidak jauh dari desa di mana Mawar tinggal, yaitu di desa
Marada, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu. Pernah aku mendengar pidato Bupati
yang mengadakan perjalanan dinas ke sana, bahwa Kecamatan itu adalah Kecamatan
terkaya dengan penyumbang pundi kas daerah dari hasil pariwsata dan tambang. Di
kecamatan itu ada tambang emas yang lagi-lagi dikelola oleh pihak asing. Setiap
saat holikopter hilir mudik dengan membawa bijih emas yang akan diproses
menjadi emas murni dan segera diangkut ke negara asing. Penduduk lokal hanya
menikmati polusi yang keluar dari cerobong pembuangannya dan alamnya yang mulai
rusak. Hanya orang-orang tertentu saja
yang mendapatkan berkah dari berdirinya tambang itu. Orang-orang yang
dipekerjakan saja yang mendapatkan upah seadanya di sana.
Hari telah sore lagi, sementara
gugusan angin yang tak kasat mata itu menggerakkan semak-semak dan menciptakan
gelombang di darat. Persis seperti gelombang yang ada di hamparan laut di
bagian selatannya. Di bahu karang yang gagah berdiri dan serupa manusia, duduk
sepasang kekasih. Memandang lekat ke tengah laut dan sesekali saling memandang.
“Tuhan telah menjawab doaku.”
“Doa apa maksudmu?”
“ Kenapa tidak dari dulu, ya, kak,
aku bertemu lelaki sepertimu? Caramu memperlakukanku persis seperti doa-doa
yang pernah kulantunkan. Doa-doaku itu wujudnya adalah, Kak Ray.”
“Sebelum tiba di sini, aku
tersesat dengan banyak hati. Tentu kau juga mengalami hal itu. Disakiti,
menyakiti, dan itu melelahkan sekali. Benar, bahwa kita semua akan didewasakan
oleh nasehat yang diberikan langsung oleh pengalaman kita sendiri. Disakiti mengajarkan
kita untuk kuat dan belajar ikhlas, sementara menyakiti membuat kita memahami
lebih perasaan orang lain, dan meminta maaf setelahnya menyadarkan kita untuk
bisa memaafkan. Ada banyak hati yang ingin bertaut dengan hati ini, tentu di
hatimu ada banyak pula yang ingin bernaung, tapi sebongkah daging itu selalu
bisa menyeleksi , lalu memilih yang menurut ukurannya baik.”
“Apa aku baik untuk ukuran hatimu,
Kak?”
“Hatiku telah memilihmu.” Tatapan
itu lagi. Tatapan yang selalu berakhir di ujung hidungku. Teduh dan lekatnya
tak lekas pergi. Menuding urat-urat kecil yang menjalar di hatiku untuk
merasakan lagi keindahan yang ditimbulkannya. Sekali lagi menyadarkanku betapa
tak ada keindahan lain yang serasa keindahan cinta. Dan, darinya pun tak ada
kekecewaan yang sebanding dengan yang diakibatkannya.
“Jangan memandangku seperti itu.
Nanti aku bisa lupa apa nama tempat ini.” Aku segera berdiri dan bertanya.
“Hei..., Nona! Apa nama tempat ini
dan siapa namamu?” Tak ayal tingkahku membuatnya tertawa dan mengejarku kaya di
film-film itu. Kubiarkan saja, Mawar menjamah tubuhku dengan pukulan-pukulan
manjanya. Kunaiki motor yang terparkir tidak jauh dari tempatku dan
menghidupkannya.
“Ayo, naik, Nona. Kita akan
keliling London.” Mendapati kegilaanku, Mawar menaiki motor dan aku mulai mengitari
satu pohon di tempat yang sama dengan kecepatan sedang. Puluhan kali putaran dan
kuhentikan setelah mendapati Mawar
muntah-muntah.
“Kau suka mabuk dalam perjalanan
rupanya. Padahal kita baru sebentar mengelilingi kota London. Kita belum
mengelilingi Shakespeare’s Globe Theatre, tempat yang spektakuler di Soutwark, tepi Selatan Sungai Thames yang
merupakan sebuah taman bermain anak terbuka dimana penulis drama, Shakespeare,
banyak menulis drama terbesarnya. Kau tahu? Di sungai thames itu pulalah salah
satu cara terbaik untuk melihat kota London. Kita belum melihat-lihat Istana
Kensington di London ini yang dibentuk
oleh generasi perempuan kerajaan dari Queen Mary ke Victoria dan baru-baru ini
Diana, Princess of Wales. Iya, oleh perempuan-perempuan yang memahami bahwa
gagah itu tidak hanya disandang lelaki. Istana ini memiliki beberapa taman
dengan gaya elegan seperti Sunken Garden, sebuah oasis yang tenang dan nyaman
dan merupakan tempat yang tepat untuk bertamasya di hari sibuk. Iya, oleh perempuan
hebat sepertimu juga yang berhasil membuat istana yang bernama bahagia di
hatiku.”
“Kau lari keliling pohon, Kak,
bukan kota London,” teriaknya.
“oh, tidak, kita belum
mengelilingi Big Ben yang menjadi ikon kota london itu, Mawar. Kau akan
menyesal jika perjalanan ini kita hentikan akibat ulah perutmu itu.” Terangku
yang kubuat seolah-olah di tengah kota london. Dan, tawa itu meledak-ledak
seperti letupan senjata.
“Tu, lihat! Matahari hampir
tenggelam. Pulang..., Kak,” sambungnya lagi, sementara aku geli melihatnya
memuntahkan isi perutnya.
Sepasang camar melesat di udara
menikmati ujung-ujung hari, dan mengantar terang sebelum lindap oleh malam.
Tawa yang disusun dua pelakon asmara itu menjadi sebuah bangunan yang terhampar
di udara, tempat harapan dan cita-citanya tinggal. Hendak diraihnya mimpi yang
telah menjadi sepasang itu setelah lelah sendiri. Telah naik menjadi embun di
tengah kerontang dedaunan. Telah menjadi tunas tempat bebunga bermekaran. Dan,
memang benar bahwa cinta selalu menemukan cara untuk bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar