Selasa, 13 Oktober 2015

NGGAHI RAWI PAHU 1


 “Bagaimana tidurmu semalam, Mawar?”
“Tidak terlalu nyenyak, kak, padahal semalam kita menonton pentas musik Rawa Mbojo sampai jam 12 malam.”
“Kenapa begitu?”
“Ya, tidak tahu kenapa, Kak. Mungkin baru pertama kali tidur di rumah orang.”
“Kau memikirkan sesuatu, atau adik perempuanku yang menemani tidurmu mengganggu?” Tak ada jawaban. Dia hanya menatapku sesaat dan berpaling, lalu fokus dengan pekerjaannya merapikan kamarku yang sangat berantakan. Tumpukan  buku-buku yang menggunung dan berdebu, meja komputer yang tidak terurus, kertas-kertas berserakan dari sudut ke sudut.
“Mawar, engkau rapikan saja, ya, buku-buku dan apa yang ada di kamar ini. Jangan kamu pindah tempatnya, sebab nanti aku akan sangat kesulitan menemukan barang-barangku. Kau tahu? Tumpukan buku itu telah kuhafal semua. Dari yang paling bawah sampai yang teratas, aku hafal judulnya apa, warnanya bagaimana, isi dan pengarangnya siapa.” Aku memang paling tidak suka barang-barangku dipindah tempatnya. Di rumah, semuanya sudah kuperingatkan bahwa jangan sampai memindahkan barang-barangku apalagi buku. Aku bisa marah, sebab menemukan kembali barang yang sudah dipindahkan, bagiku seperti nelayan menemukan kembali sebutir keringatnya  yang terjatuh di lautan. Aku paling tidak bisa.
“Iya, Kak. Tapi, dirapikan tidak apa-apa, kan?”
“Bukankah sudah kukatakan, Mawar. Silakan dirapikan dan jangan dipindahkan mereka.” Kutunjuk tumpukan buku-buku yang ada di samping kanan meja komputerku.
 
“Dan satu lagi. Jangan kaupindahkan hati dan pikiranmu dari mencintai dan mengingatku.” Aku menatapnya dan kulihat matanya memandangku. Serasa ada aliran tak kasat mata yang menjalar dari dua pasang mata itu. Takjub.
“Selalu, Kak.”
“Ya, sudah kalau begitu. Aku mengajar dulu, nanti sore kau kuantar pulang.”
 
 Mengajar adalah rutinitas yang tak luput dari keseharianku. Pekerjaan yang bergelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” itu sebenarnya bukan cita-cita kecilku. Cita-cita kecilku adalah menjadi seorang tentara, atau setidaknya menjadi seorang dokter. Tapi kenyataanya, pekerjaanku sekarang jauh dari dunia militer dan kesehatan. Aku yakin sebagian besar manusia di bumi ini bekerja tidak menurut apa yang dia cita-citakan. Kenapa? Karena hidup tidak terlepas dari keberadaan dan campur tangan Tuhan. Bagiku, Tuhanlah yang menuntunku hingga sampai pada pekerjaan ini. Harus kusyukuri. Imajinasi kecilku selalu melulu senjata militer dan membela negara, selebihnya tentang alat medis, tapi hari ini aku sadar, bahwa membela negara tidak semata-mata dengan senjata dan kekuatan militer. Pena, ya, aku bisa menggunakan pena sebagai senjataku yang lebih hebat dari senjata militer atau alat medis sebagai media menolong. Melihat kenyataan hari ini, hiruk-pikuk dunia militer yang tidak lagi menggunakan kekuatannya untuk melindungi, tapi untuk menindas, memorak-porandakan negara lain untuk mendapatkan pengakuan power-nya. Dunia medis juga banyak mengambil andil dalam dunia kriminal, di mana oknum-oknum tertentu menggunakan keahliannya membantu upaya kejahatan medis, atau hal-hal lain yang hampir serupa. Ini bukan sebuah protes yang menjatuhkan martabat instansi tertentu, tapi lebih kepada saling memperingatkan satu sama lain, bahwa sebaiknya kejahatan harus ditinggalkan, sebab hari ini juga, kita menemukan banyak ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan. Dunia di mana para Guru-guru bercokol. Tingkat kepedulian yang semakin menurun baik oleh Guru sebagai salah satu warga pendidikan maupun orang tua dan pemerintah. Tingkat kesadaran orang tua bahwa begitu pentingnya pendidikan sangat jauh dari harapan. “Sakola daraka kai” (apa yang didapat dengan sekolah), atau “indoja di bora kai sakola” (sekolah tidak menjanjikan jabatan), begitu kata mereka. Akibatnya, banyak anak-anak yang sebenarnya memiliki bakat untuk sukses harus berakhir menjadi manusia tanpa masa depan yang jelas. Tingkat pengangguran yang menanjak. Puncaknya, kemajuan dan sumber daya manusia yang tidak siap menghambat pertumbuhan. Dana-dana kucuran pemerintah dipangkas oleh  pimpinan dan oknum-oknum tertentu. Aku orang pendidkan dan tahu jelas ketimpangan yang ada di dalamnya. Era korupsi massal. Terlepas dari itu, hidup ini ada pada dua unsur besar, pujian dan kritikan. Aku sampai terheran-heran atas keahlian manusia secara alami menemukan dua kata itu. Sekarang barulah aku menyadari bahwa pena lebih tajam dari senjata apapun. Dua kata itu ditemukan oleh bahasa dan diabadikan oleh pena. Pujian, walaupun oleh sebagian orang menganggapnya sebagai ujian dan pemutus kreatiftas, tapi hidup juga memerlukannya sebagai obat penawar semenjak kata protes itu ada. Bukankah orang yang paling sukses dalam hidupnya adalah orang yang pandai memuji dan sekaligus memiliki keahlian memprotes? Jika demikian, kenapa kita marah diprotes sedangkan tujuannya untuk memperbaiki, selebihnya yang didapat adalah pujian lantaran telah diperbaikinya yang salah. Praduga tidak serta merta jauh dari realita walaupun dalam dunia medis dilarang karena dunia medis butuh keakuratan agar bisa memberikan penanganan yang tepat. Alangkah datarnya hidup ini jika semua manusia enggan memuji. Alangkah semrawutnya hidup ini jika tak seorang pun yang peduli untuk memperbaiki. Aku sering diprotes baik oleh pimpinan atau pengawas, tapi setelahnya tak ada hal lain yang kutemukan kecuali kebaikan. Hidup ini banyak warna, tapi hidup selalu terikat pada hitam dan putih tanpa kita menelusuri baik-baik bahwa dalam hitam dan putih itu ada banyak warna lain. Dan, kadang hidup mempermainkan kita, tapi sejatinya yang mempermainkan kita adalah rencana padahal sebenarnya hidup itu mengalir apa adanya. Rencana besarku ada pada dunia militer atau paling tidak di dunia kesehatan, tapi hidup menolakku bekerjasama untuk berada di dunia itu. Akhirnya hidup telah menemukan jalannya sendiri hingga aku bisa menjadi penulis dan seorang Guru. Dunia yang sangat kucintai.
Perjalanan hidup selalu bermula pada pagi hari setelah sadar dalam dekapan malam, dan menjejaki jalanan untuk mengais rezeki. Setiap hari selalu saja begitu walau orang-orang tertentu tidak melakukannya. Setiap jalan yang ditempuh selalu ada kisah baru. Ada jejak yang direkam kepala setiap detiknya. Entah sebuah permulaan itu tangis atau tawa tetap berakhir pada satu titik: misteri. Tetap berakhir di sana. Ada yang diciptakan lemah, dan ada yang kuat. Ada yang terlihat jujur akan kelemahannya, ada yang selalu tertawa hanya untuk meyakinkan diri dia kuat, tapi sebenarnya ia menangis. Aneh betul hidup ini, tapi satu hal yang pasti bahwa hidup punya tujuan. Apapun itu, satu hal yang memiliki daya super kuat untuk membuat manusia terus bergerak. Seorang ayah akan bekerja keras demi cintanya kepada anak dan istrinya. Ia akan rela sendirian menghadapi lumpur kehidupan di pagi-pagi buta dan pulang menjelang senja. Seorang ibu rela meluangkan sebagian besar hidupnya untuk anak dan suaminya. Melayani keperluan orang asing yang tiba-tiba saja hadir dalam kehidupannya. Ia mampu bangun tengah malam mendengar bayinya menangis. Padahal ketika masih gadis masih berselimut tebal meski matahari sudah beranjak dari peraduan. Seorang kekasih yang tulus rela melakukan apa saja demi kebahagiaan kekasihnya sepanjang itu baik, sekalipun dia rela mengesampingkan kebahagiaannya sendiri. Aneh betul sesuatu yang kita sebut cinta itu. Tak ada kebahagiaan yang lebih besar dari kebahagiaan cinta, pun tak ada kekecewaan yang lebih besar dari yang ditimbulkannya. Orang akan jauh lebih sehat bila ia bahagia dan tak ada penyakit yang lebih besar dari yang diakibatkannya. Pada getarnya yang misterius, ia hanya dapat dirasa oleh yang mengalami. Pohon yang meranggas dapat berwujud hijau dengan bunga rupa warna. Melayang seperti tidak memijak. Misterius. Aku pikir, barangkali munculnya Sinar X yang ditemukan oleh Wilhelm Conrad Rontgen ini bermula dari misteriusnya cinta. Sinar Misterius itu sendiri merupakan lambang Matematika yang digunakan untuk menyebut suatu bilangan yang belum diketahui. Ya, dia misterius, tapi pada akhirnya terungkap satu-satunya oleh yang mengalami, sebab manusia diciptakan berbeda tentu memandang hidup dari sudut-sudut yang berbeda. Jika saja manusia memandang hidup dari sudut yang sama, maka cinta tidak layak disebut misterius, dan satu kesimpulan berlaku untuk semua. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, entah kejayaannya atau keruntuhannya berkaitan erat dengan satu hal itu. Cinta Tanah Air rupanya telah menjadi bukti kemerdekaan negara ini. Cinta yang telah membangun jiwa raga untuk bergerak dan bertindak untuk bebas, maka tidak salah, cinta selalu bisa menemukan jalannya sendiri agar ia berakhir bahagia.
Untuk pertama kalinya, aku menyusuri sebuah jalan yang didominasi tikungan. Bukan pertama kali menjejakinya, tapi pertama kali menjejakinya atas nama cinta. Setelah, Mawar pamit dua jam yang lalu pada orang tuaku, aku mengantarnya pulang. Sesaat kami mampir di rumah pamannya yang kemarin jadi tempat pertemuan kami, di sila. Setelah bercakap-cakap dengan paman, kami pamit.  Hari ini begitu cerah. Matahari menggodam kepala. Menggedor-gedor tembok rumah, sedang di dalamnya orang-orang bersimbah keringat. Nun di sana, di hamparan sawah-sawah petani, fatamorgana bertengger di ujung daun pepadian. Aspal meleleh. Februari, di Bima masih musim hujan, dan kalau musim hujan memang matahari lebih menyengat dari matahari musim kemarau. Di “dana Mbari” ini kalau musim kemarau tiba akan ditandai dengan dingin seolah turun salju di malam hari. Tidak heran di wilayah-wilayah tertentu orang lebih suka di dalam rumah, dan kalau ada di luar mereka akan mengenakan sarung, Tembe nggoli, yaitu sarung tenun asli orang Bima yang dituntunnya untuk membungkus badan bahkan dari kepala sampai kaki sekaligus. Unik.
“Lemparkan biskuitnya, Kak!”
“Ya..., yang dapat biskuitnya adalah yang paling besar. Lemparkan di dekat anaknya yang kecil itu, Kak. Jangan dekat yang besar.”
“Itu si kerdil dapat jatah.”
“Hahaha..., dapat juga dia.”
Kerumunan monyet-monyet jinak di pinggir jalan Gunung Mada Pangga ini memberikan keindahan lain lewat solidaritas manusia dengan binatang. Mereka hidup berkelompok. Seperti manusia mereka memiliki pemimpin yang akan menjaga wilayahnya dari kelompok lain. Duduk memagari jalan dengan memperhatikan kendaraan dan menunggu makanan-makanan yang dilempar orang dari atas mobil dan motor. Berebutan. Betina dengan bayi di pangkuannya cekatan meraih makanan yang dilempar orang ke tanah. Sebagian dimakannya dan sebagian lagi buat bayi dipangkuannya. Perilaku mereka hebat, maka manusia yang tidak beragama bisa saja terpengaruh dan membenarkan darwinisme, bahwa cikal-bakal manusia berasal dari mereka yang berevolusi. Pohon-pohon berumur ratusan tahun dengan diameter yang tak mampu dipeluk sepuluh tangan lelaki dewasa, berjejer merupa pagar hidup seolah turut menjaga keindahannya dari tangan-tangan jahil manusia, atau menjadi penanda wilayah kekuasan fauna yang ada di dalamnya. Di bawah akarnya memercik mata air yang mengalir kecil-kecil dan merampungkan diri di sebuah “Diwu” dan dialirkan ke sebuah kolam yang dipakai pengunjung untuk mandi. Bau hutan sungguh nikmat di hidung. Burung-burung ratusan jenisnya. Udara segar tak tercemar.Tempatnya dipagar keliling. Selain menjadi tempat wisata dan pemandian, mata air Madapangga menjadi sumber air yang diolah menjadi air minum dalam kemasan. Sungguh kaya negeri ini. Gunung-gunungnya menyediakan keperluan yang tak pernah habis. Hamparan sawah yang luas. Aku cukup heran kenapa hamparan sawah yang luas ini sebagiannya hanya bisa ditumbuhi ilalang. Betapa kesadaran masyarakat Bima akan pertanian sebagai pendongkrak laju pertumbuhan ekonomi keluarga dan Negara jauh dari harapan. Melihat kenyataan bahwa mayoritas warga Indonesia adalah petani, maka satu-satunya cara sederhana untuk meningkatkan taraf kehidupannya adalah meningkatkan sektor pertanian. Kesadaran Nasional akan sektor pertanian ini perlu didongkrak melalui upaya-upaya yang membuahkan hasil. Sebagai anak seorang petani, aku cukup tahu bagaimana besar ketergantungan warga Bima ini terhadap hasil pertaniannya. Mata dan pikiranku susah diajak untuk diam. Selalu saja di sana bertengger berbagai hal kendati hangat nafas seorang wanita yang duduk di belakangku membelai daun telingaku. Aku senang bercakap-cakap dengan pohon dan bertanya hal yang muskil dijawab, sementara ban motorku terus berputar membawa tuannya ke tempat tujuan. Beberapa saat kami hanya diam. Hanya suara angin, dan sekali lagi hangat nafas wanita di belakang menghangatkanku dari dari dinginnya jalanan yang diapit belantara, sedang di langit, mendung mulai menutupi gagah sinar mentari. Setelah melewati sebuah tikungan dan jembatan, Mawar mengajakku beristirahat. Berdiri sebuah kedai kopi di sudut tebing sungai dengan air jernih mengalir di bawahnya, putih seperti hamparan permadani. Malam menyuguhkan bintang-bintang, tapi siang telah menyiapkan keindahannya sendiri. Coleteh burung, suara air. Jika sungai di dunia saja sedemikian indahnya, bagaimana dengan sungai-sungai dengan air yang mengalir di surga? Ainul Mardiah bidadari surga yang disebut dalam hadist riwayat Tirmidzi itu apa akan mandi di sungai itu? Akh..., andai saja, kelak di surga nanti, aku yang mempersuntingnya walaupun kutahu hanya orang dengan akhlak termulia yang berhak mendapatkannya. Tapi, sekarang pun aku memiliki bidadari itu. Dia Mawarku yang selalu ranum dalam pandanganku. Semoga kelak, dialah Ainul Mardiah-ku.
“Tempat ini, aku lupa namanya. Aku pernah dua kali mandi di sini.”
“Sori......(?). Biasanya pada saat hari raya atau akhir pekan banyak orang-orang di desa terdekat yang menghabiskan waktunya di sini dengan keluarga atau kekasih mereka. Yaaa..., seperti kita.”
“Iya, kita. Sepasang kekasih yang dipertemukan cinta dari tanah kelahiran yang terpisah. Bertaut dalam rasa yang gagal didefinisi, bahkan oleh kita yang mengalaminya. Entah apa itu namanya. Seperti kita, yang jika saling memandang, maka indah adalah satu-satunya kata yang mampu mewakili. Kita yang saat ini sedang merampungkan kebahagiaan sepasang burung yang bertengger di sana.” Kutunjuk sepasang burung yang bertengger di dahan yang merayu pasangannya. Lagi-lagi wanita ini mengarahkan pandangannya ke arah di mana tanganku menunjuk, dan segera matanya beralih di ujung hidungku. Dalam sangkaanku, ingin rasanya dia menarik ujung hidungku, tapi ikatan hubunganku dengannya hanya sebatas kekasih, bukan suami-istri yang boleh bebas bercengkrama.
“Akh..., Sok puitis,” katanya sambil berpaling ke bebatuan di depannya.
 Batu-batu ukuran raksasa meruncing seperti taring sepanjang sungai. Tebingnya curam ditumbuhi pohon-pohon dengan akar yang menggantung, besar seperti menyimpan sesuatu yang mistis. Benar saja nenek moyangku sebelum islam datang menjamah tanah Bima dan Dompu ini menjadikan pohon-pohon besar ini sebagai sesembahan. Tempat mereka melakukan ritual dengan sesajian dari hasil mereka berburu, atau dari buah-buahan yang dikumpulkannya. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya, periode ini disebut masa food gathering, manusianya masih hidup secara nomaden yaitu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan belum tahu bercocok tanam. Mereka berkeyakinan bahwa roh-roh nenek moyang mereka tinggal di pohon-pohon besar seperti itu. Makakamba-makakimbi,  begitulah sebutan kepercayaan mereka di masa lampau bahkan ada sampai sekarang.
“Alam adalah pemuisi yang terhebat. Kita hanya mampu berkata-kata dari sedikit perilaku alam ini, tidak secara keseluruhan, sebab ada bagian dari ini yang ghaib. Apa ada kata-kata yang mampu menyaingi puisi daun yang bertemu dengan angin, yang menjadikan keduanya berkisah lewat gerakan? Apa ada puisi yang melebihi keindahan air yang menabrak bebatuan sehingga mereka bersentuhan menciptakan suara yang magis? Tidak! Mereka adalah pemuisi ulung yang tidak memerlukan kata-kata. Mereka diam tapi berbicara.”
“Lalu adakah gerimis ini berpuisi?”
“Apa kau tidak sadar rinainya telah bertengger di hidungmu. Bagiku ia sedang berpuisi dengan mengajariku untuk menyadari betapa indah wajahmu.”
“Hahaha..., selalu saja seperti itu.”
Gerimis mulai turun jarang-jarang, sedang langit tampak hitam. kelihatan sekali awan-awan yang bertengger di atas sana menyimpan gelembung air yang akan segera ditumpahkannya. Dangau tanpa atap yang kesepian di pinggir sungai tidak bisa dijadikan tempat berlindung, maka kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Hujan-hujanan. Kini bumi “Nggahi Rawi Pahu” telah dipijak. Kota Dompu mulai menjamah mataku. Hujan deras membuatnya kelihatan sepi seperti kota mati. Sesekali berpapasan dengan kendaraan yang terpaksa menembus hujan karena terburu-buru, atau sedang mengalami hal yang sama denganku. Dari balik jaketku, Mawar kedinginan. Jaket kulit yang tidak tembus air itu hanya mampu menjaga bagian kepalanya, lain tidak. Memang lelaki terlahir sebagai pelindung. Mahluk yang lebih kuat dari wanita, tapi mereka sebenarnya lebih rapuh dari wanita itu sendiri. Mahluk yang memiliki ego lebih tinggi itu akan rela kedinginan saat hujan untuk melindungi kekasih yang sangat dicintainya. Ia adalah atap jika diibaratkan sebuah bangunan. Dompu, di masa lampau memang lebih dulu ada. Kerajaan ini ada jauh sebelum kerajaan Bima ada dan pada masa itu Bima hanya sebuah wilayah yang hanya dikuasai oleh para Ncuhi. Sebuah kerajaan yang pernah menjadi korban dari perluasan wilayah kerajaan majapahit dan menjadi tumbal sumpah Palapa-nya Maha patih Gajah Mada yang ingin menyatukan nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Peristiwa itu juga yang telah mengawali berdirinya kerajaan Bima yang pada saat itu, Laksamana Nala, yang ditugasi melakukan ekspansi perluasan wilayah menisbatkan diri sebagai Sang Bima dan menikahi  putri seorang nelayan yang menolongnya saat kapalnya karam sebelum sampai pada kerajaan dompu, lalu membentuk kekuatan yang juga dibantu para Ncuhi dan pasukan Majapahitnya sehingga kerajaan Dompu dapat ditaklukkan. Laksamana Nala inilah yang dipercaya menjadi cikal-bakal berdirinya kerajaan Bima.
Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar