NGGAHI RAWI PAHU 1
“Bagaimana tidurmu
semalam, Mawar?”
“Tidak terlalu nyenyak, kak, padahal semalam kita menonton
pentas musik Rawa Mbojo sampai jam 12 malam.”
“Kenapa begitu?”
“Ya, tidak tahu kenapa, Kak. Mungkin baru pertama kali tidur
di rumah orang.”
“Kau memikirkan sesuatu, atau adik perempuanku yang menemani
tidurmu mengganggu?” Tak ada jawaban. Dia hanya menatapku sesaat dan berpaling,
lalu fokus dengan pekerjaannya merapikan kamarku yang sangat berantakan.
Tumpukan buku-buku yang menggunung dan
berdebu, meja komputer yang tidak terurus, kertas-kertas berserakan dari sudut
ke sudut.
“Mawar, engkau rapikan saja, ya, buku-buku dan apa yang ada
di kamar ini. Jangan kamu pindah tempatnya, sebab nanti aku akan sangat
kesulitan menemukan barang-barangku. Kau tahu? Tumpukan buku itu telah kuhafal
semua. Dari yang paling bawah sampai yang teratas, aku hafal judulnya apa,
warnanya bagaimana, isi dan pengarangnya siapa.” Aku memang paling tidak suka
barang-barangku dipindah tempatnya. Di rumah, semuanya sudah kuperingatkan
bahwa jangan sampai memindahkan barang-barangku apalagi buku. Aku bisa marah,
sebab menemukan kembali barang yang sudah dipindahkan, bagiku seperti nelayan menemukan
kembali sebutir keringatnya yang
terjatuh di lautan. Aku paling tidak bisa.
“Iya, Kak. Tapi, dirapikan tidak apa-apa, kan?”
“Bukankah sudah kukatakan, Mawar. Silakan dirapikan dan
jangan dipindahkan mereka.” Kutunjuk tumpukan buku-buku yang ada di samping
kanan meja komputerku.
“Dan satu lagi. Jangan kaupindahkan hati dan pikiranmu dari
mencintai dan mengingatku.” Aku menatapnya dan kulihat matanya memandangku.
Serasa ada aliran tak kasat mata yang menjalar dari dua pasang mata itu.
Takjub.
“Selalu, Kak.”
“Ya, sudah kalau begitu. Aku mengajar dulu, nanti sore kau
kuantar pulang.”
Mengajar adalah rutinitas yang tak luput dari
keseharianku. Pekerjaan yang bergelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” itu
sebenarnya bukan cita-cita kecilku. Cita-cita kecilku adalah menjadi seorang
tentara, atau setidaknya menjadi seorang dokter. Tapi kenyataanya, pekerjaanku sekarang
jauh dari dunia militer dan kesehatan. Aku yakin sebagian besar manusia di bumi
ini bekerja tidak menurut apa yang dia cita-citakan. Kenapa? Karena hidup tidak
terlepas dari keberadaan dan campur tangan Tuhan. Bagiku, Tuhanlah yang
menuntunku hingga sampai pada pekerjaan ini. Harus kusyukuri. Imajinasi kecilku
selalu melulu senjata militer dan membela negara, selebihnya tentang alat
medis, tapi hari ini aku sadar, bahwa membela negara tidak semata-mata dengan
senjata dan kekuatan militer. Pena, ya, aku bisa menggunakan pena sebagai
senjataku yang lebih hebat dari senjata militer atau alat medis sebagai media
menolong. Melihat kenyataan hari ini, hiruk-pikuk dunia militer yang tidak lagi
menggunakan kekuatannya untuk melindungi, tapi untuk menindas,
memorak-porandakan negara lain untuk mendapatkan pengakuan power-nya. Dunia medis
juga banyak mengambil andil dalam dunia kriminal, di mana oknum-oknum tertentu
menggunakan keahliannya membantu upaya kejahatan medis, atau hal-hal lain yang
hampir serupa. Ini bukan sebuah protes yang menjatuhkan martabat instansi
tertentu, tapi lebih kepada saling memperingatkan satu sama lain, bahwa
sebaiknya kejahatan harus ditinggalkan, sebab hari ini juga, kita menemukan
banyak ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan. Dunia di mana para
Guru-guru bercokol. Tingkat kepedulian yang semakin menurun baik oleh Guru
sebagai salah satu warga pendidikan maupun orang tua dan pemerintah. Tingkat
kesadaran orang tua bahwa begitu pentingnya pendidikan sangat jauh dari
harapan. “Sakola daraka kai” (apa yang didapat dengan sekolah), atau “indoja di
bora kai sakola” (sekolah tidak menjanjikan jabatan), begitu kata mereka.
Akibatnya, banyak anak-anak yang sebenarnya memiliki bakat untuk sukses harus
berakhir menjadi manusia tanpa masa depan yang jelas. Tingkat pengangguran yang
menanjak. Puncaknya, kemajuan dan sumber daya manusia yang tidak siap
menghambat pertumbuhan. Dana-dana kucuran pemerintah dipangkas oleh pimpinan dan oknum-oknum tertentu. Aku orang
pendidkan dan tahu jelas ketimpangan yang ada di dalamnya. Era korupsi massal. Terlepas
dari itu, hidup ini ada pada dua unsur besar, pujian dan kritikan. Aku sampai
terheran-heran atas keahlian manusia secara alami menemukan dua kata itu.
Sekarang barulah aku menyadari bahwa pena lebih tajam dari senjata apapun. Dua
kata itu ditemukan oleh bahasa dan diabadikan oleh pena. Pujian, walaupun oleh
sebagian orang menganggapnya sebagai ujian dan pemutus kreatiftas, tapi hidup
juga memerlukannya sebagai obat penawar semenjak kata protes itu ada. Bukankah
orang yang paling sukses dalam hidupnya adalah orang yang pandai memuji dan
sekaligus memiliki keahlian memprotes? Jika demikian, kenapa kita marah
diprotes sedangkan tujuannya untuk memperbaiki, selebihnya yang didapat adalah
pujian lantaran telah diperbaikinya yang salah. Praduga tidak serta merta jauh
dari realita walaupun dalam dunia medis dilarang karena dunia medis butuh
keakuratan agar bisa memberikan penanganan yang tepat. Alangkah datarnya hidup
ini jika semua manusia enggan memuji. Alangkah semrawutnya hidup ini jika tak
seorang pun yang peduli untuk memperbaiki. Aku sering diprotes baik oleh
pimpinan atau pengawas, tapi setelahnya tak ada hal lain yang kutemukan kecuali
kebaikan. Hidup ini banyak warna, tapi hidup selalu terikat pada hitam dan
putih tanpa kita menelusuri baik-baik bahwa dalam hitam dan putih itu ada
banyak warna lain. Dan, kadang hidup mempermainkan kita, tapi sejatinya yang mempermainkan
kita adalah rencana padahal sebenarnya hidup itu mengalir apa adanya. Rencana
besarku ada pada dunia militer atau paling tidak di dunia kesehatan, tapi hidup
menolakku bekerjasama untuk berada di dunia itu. Akhirnya hidup telah menemukan
jalannya sendiri hingga aku bisa menjadi penulis dan seorang Guru. Dunia yang
sangat kucintai.
Perjalanan hidup selalu bermula
pada pagi hari setelah sadar dalam dekapan malam, dan menjejaki jalanan untuk
mengais rezeki. Setiap hari selalu saja begitu walau orang-orang tertentu tidak
melakukannya. Setiap jalan yang ditempuh selalu ada kisah baru. Ada jejak yang
direkam kepala setiap detiknya. Entah sebuah permulaan itu tangis atau tawa
tetap berakhir pada satu titik: misteri. Tetap berakhir di sana. Ada yang
diciptakan lemah, dan ada yang kuat. Ada yang terlihat jujur akan kelemahannya,
ada yang selalu tertawa hanya untuk meyakinkan diri dia kuat, tapi sebenarnya
ia menangis. Aneh betul hidup ini, tapi satu hal yang pasti bahwa hidup punya
tujuan. Apapun itu, satu hal yang memiliki daya super kuat untuk membuat
manusia terus bergerak. Seorang ayah akan bekerja keras demi cintanya kepada
anak dan istrinya. Ia akan rela sendirian menghadapi lumpur kehidupan di
pagi-pagi buta dan pulang menjelang senja. Seorang ibu rela meluangkan sebagian
besar hidupnya untuk anak dan suaminya. Melayani keperluan orang asing yang
tiba-tiba saja hadir dalam kehidupannya. Ia mampu bangun tengah malam mendengar
bayinya menangis. Padahal ketika masih gadis masih berselimut tebal meski
matahari sudah beranjak dari peraduan. Seorang kekasih yang tulus rela
melakukan apa saja demi kebahagiaan kekasihnya sepanjang itu baik, sekalipun
dia rela mengesampingkan kebahagiaannya sendiri. Aneh betul sesuatu yang kita
sebut cinta itu. Tak ada kebahagiaan yang lebih besar dari kebahagiaan cinta, pun
tak ada kekecewaan yang lebih besar dari yang ditimbulkannya. Orang akan jauh
lebih sehat bila ia bahagia dan tak ada penyakit yang lebih besar dari yang
diakibatkannya. Pada getarnya yang misterius, ia hanya dapat dirasa oleh yang
mengalami. Pohon yang meranggas dapat berwujud hijau dengan bunga rupa warna.
Melayang seperti tidak memijak. Misterius. Aku pikir, barangkali munculnya
Sinar X yang ditemukan oleh Wilhelm Conrad Rontgen ini bermula
dari misteriusnya cinta. Sinar Misterius itu sendiri merupakan lambang
Matematika yang digunakan untuk menyebut suatu bilangan yang belum diketahui.
Ya, dia misterius, tapi pada akhirnya terungkap satu-satunya oleh yang
mengalami, sebab manusia diciptakan berbeda tentu memandang hidup dari
sudut-sudut yang berbeda. Jika saja manusia memandang hidup dari sudut yang
sama, maka cinta tidak layak disebut misterius, dan satu kesimpulan berlaku
untuk semua. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, entah kejayaannya atau
keruntuhannya berkaitan erat dengan satu hal itu. Cinta Tanah Air rupanya telah
menjadi bukti kemerdekaan negara ini. Cinta yang telah membangun jiwa raga
untuk bergerak dan bertindak untuk bebas, maka tidak salah, cinta selalu bisa
menemukan jalannya sendiri agar ia berakhir bahagia.
Untuk pertama kalinya, aku
menyusuri sebuah jalan yang didominasi tikungan. Bukan pertama kali
menjejakinya, tapi pertama kali menjejakinya atas nama cinta. Setelah, Mawar
pamit dua jam yang lalu pada orang tuaku, aku mengantarnya pulang. Sesaat kami
mampir di rumah pamannya yang kemarin jadi tempat pertemuan kami, di sila.
Setelah bercakap-cakap dengan paman, kami pamit. Hari ini begitu cerah. Matahari menggodam
kepala. Menggedor-gedor tembok rumah, sedang di dalamnya orang-orang bersimbah
keringat. Nun di sana, di hamparan sawah-sawah petani, fatamorgana bertengger
di ujung daun pepadian. Aspal meleleh. Februari, di Bima masih musim hujan, dan
kalau musim hujan memang matahari lebih menyengat dari matahari musim kemarau.
Di “dana Mbari” ini kalau musim kemarau tiba akan ditandai dengan dingin seolah
turun salju di malam hari. Tidak heran di wilayah-wilayah tertentu orang lebih
suka di dalam rumah, dan kalau ada di luar mereka akan mengenakan sarung, Tembe
nggoli, yaitu sarung tenun asli orang Bima yang dituntunnya untuk
membungkus badan bahkan dari kepala sampai kaki sekaligus. Unik.
“Lemparkan biskuitnya, Kak!”
“Ya..., yang dapat biskuitnya
adalah yang paling besar. Lemparkan di dekat anaknya yang kecil itu, Kak.
Jangan dekat yang besar.”
“Itu si kerdil dapat jatah.”
“Hahaha..., dapat juga dia.”
Kerumunan monyet-monyet jinak di
pinggir jalan Gunung Mada Pangga ini memberikan keindahan
lain lewat solidaritas manusia dengan binatang. Mereka hidup berkelompok.
Seperti manusia mereka memiliki pemimpin yang akan menjaga wilayahnya dari
kelompok lain. Duduk memagari jalan dengan memperhatikan kendaraan dan menunggu
makanan-makanan yang dilempar orang dari atas mobil dan motor. Berebutan.
Betina dengan bayi di pangkuannya cekatan meraih makanan yang dilempar orang ke
tanah. Sebagian dimakannya dan sebagian lagi buat bayi dipangkuannya. Perilaku
mereka hebat, maka manusia yang tidak beragama bisa saja terpengaruh dan
membenarkan darwinisme, bahwa cikal-bakal manusia berasal dari mereka yang
berevolusi. Pohon-pohon berumur ratusan tahun dengan diameter yang tak mampu
dipeluk sepuluh tangan lelaki dewasa, berjejer merupa pagar hidup seolah turut
menjaga keindahannya dari tangan-tangan jahil manusia, atau menjadi penanda
wilayah kekuasan fauna yang ada di dalamnya. Di bawah akarnya memercik mata air
yang mengalir kecil-kecil dan merampungkan diri di sebuah “Diwu” dan dialirkan
ke sebuah kolam yang dipakai pengunjung untuk mandi. Bau hutan sungguh nikmat
di hidung. Burung-burung ratusan jenisnya. Udara segar tak tercemar.Tempatnya
dipagar keliling. Selain menjadi tempat wisata dan pemandian, mata air Madapangga
menjadi sumber air yang diolah menjadi air minum dalam kemasan. Sungguh kaya
negeri ini. Gunung-gunungnya menyediakan keperluan yang tak pernah habis.
Hamparan sawah yang luas. Aku cukup heran kenapa hamparan sawah yang luas ini
sebagiannya hanya bisa ditumbuhi ilalang. Betapa kesadaran masyarakat Bima akan
pertanian sebagai pendongkrak laju pertumbuhan ekonomi keluarga dan Negara jauh
dari harapan. Melihat kenyataan bahwa mayoritas warga Indonesia adalah petani,
maka satu-satunya cara sederhana untuk meningkatkan taraf kehidupannya adalah
meningkatkan sektor pertanian. Kesadaran Nasional akan sektor pertanian ini
perlu didongkrak melalui upaya-upaya yang membuahkan hasil. Sebagai anak seorang
petani, aku cukup tahu bagaimana besar ketergantungan warga Bima ini terhadap
hasil pertaniannya. Mata dan pikiranku susah diajak untuk diam. Selalu saja di
sana bertengger berbagai hal kendati hangat nafas seorang wanita yang duduk di
belakangku membelai daun telingaku. Aku senang bercakap-cakap dengan pohon dan
bertanya hal yang muskil dijawab, sementara ban motorku terus berputar membawa
tuannya ke tempat tujuan. Beberapa saat kami hanya diam. Hanya suara angin, dan
sekali lagi hangat nafas wanita di belakang menghangatkanku dari dari dinginnya
jalanan yang diapit belantara, sedang di langit, mendung mulai menutupi gagah
sinar mentari. Setelah melewati sebuah tikungan dan jembatan, Mawar mengajakku beristirahat.
Berdiri sebuah kedai kopi di sudut tebing sungai dengan air jernih mengalir di
bawahnya, putih seperti hamparan permadani. Malam menyuguhkan bintang-bintang,
tapi siang telah menyiapkan keindahannya sendiri. Coleteh burung, suara air. Jika
sungai di dunia saja sedemikian indahnya, bagaimana dengan sungai-sungai dengan
air yang mengalir di surga? Ainul Mardiah bidadari surga yang disebut dalam
hadist riwayat Tirmidzi itu apa akan mandi di sungai itu? Akh..., andai saja,
kelak di surga nanti, aku yang mempersuntingnya walaupun kutahu hanya orang dengan
akhlak termulia yang berhak mendapatkannya. Tapi, sekarang pun aku memiliki
bidadari itu. Dia Mawarku yang selalu ranum dalam pandanganku. Semoga kelak,
dialah Ainul Mardiah-ku.
“Tempat ini, aku lupa namanya. Aku
pernah dua kali mandi di sini.”
“Sori......(?). Biasanya pada saat
hari raya atau akhir pekan banyak orang-orang di desa terdekat yang
menghabiskan waktunya di sini dengan keluarga atau kekasih mereka. Yaaa...,
seperti kita.”
“Iya, kita. Sepasang kekasih yang
dipertemukan cinta dari tanah kelahiran yang terpisah. Bertaut dalam rasa yang
gagal didefinisi, bahkan oleh kita yang mengalaminya. Entah apa itu namanya. Seperti
kita, yang jika saling memandang, maka indah adalah satu-satunya kata yang
mampu mewakili. Kita yang saat ini sedang merampungkan kebahagiaan sepasang
burung yang bertengger di sana.” Kutunjuk sepasang burung yang bertengger di
dahan yang merayu pasangannya. Lagi-lagi wanita ini mengarahkan pandangannya ke
arah di mana tanganku menunjuk, dan segera matanya beralih di ujung hidungku.
Dalam sangkaanku, ingin rasanya dia menarik ujung hidungku, tapi ikatan
hubunganku dengannya hanya sebatas kekasih, bukan suami-istri yang boleh bebas
bercengkrama.
“Akh..., Sok puitis,” katanya
sambil berpaling ke bebatuan di depannya.
Batu-batu ukuran raksasa meruncing seperti
taring sepanjang sungai. Tebingnya curam ditumbuhi pohon-pohon dengan akar yang
menggantung, besar seperti menyimpan sesuatu yang mistis. Benar saja nenek
moyangku sebelum islam datang menjamah tanah Bima dan Dompu ini menjadikan
pohon-pohon besar ini sebagai sesembahan. Tempat mereka melakukan ritual dengan
sesajian dari hasil mereka berburu, atau dari buah-buahan yang dikumpulkannya. Apabila dilihat
dari sudut mata pencariannya, periode ini disebut masa food gathering,
manusianya masih hidup secara nomaden yaitu berpindah-pindah dari
satu tempat ke tempat lain dan belum tahu bercocok tanam. Mereka
berkeyakinan bahwa roh-roh nenek moyang mereka tinggal di pohon-pohon besar
seperti itu. Makakamba-makakimbi,
begitulah sebutan kepercayaan mereka di masa lampau bahkan ada sampai
sekarang.
“Alam adalah pemuisi yang terhebat.
Kita hanya mampu berkata-kata dari sedikit perilaku alam ini, tidak secara
keseluruhan, sebab ada bagian dari ini yang ghaib. Apa ada kata-kata yang mampu
menyaingi puisi daun yang bertemu dengan angin, yang menjadikan keduanya
berkisah lewat gerakan? Apa ada puisi yang melebihi keindahan air yang menabrak
bebatuan sehingga mereka bersentuhan menciptakan suara yang magis? Tidak!
Mereka adalah pemuisi ulung yang tidak memerlukan kata-kata. Mereka diam tapi
berbicara.”
“Lalu adakah gerimis ini
berpuisi?”
“Apa kau tidak sadar rinainya
telah bertengger di hidungmu. Bagiku ia sedang berpuisi dengan mengajariku
untuk menyadari betapa indah wajahmu.”
“Hahaha..., selalu saja seperti
itu.”
Gerimis mulai turun jarang-jarang,
sedang langit tampak hitam. kelihatan sekali awan-awan yang bertengger di atas
sana menyimpan gelembung air yang akan segera ditumpahkannya. Dangau tanpa atap
yang kesepian di pinggir sungai tidak bisa dijadikan tempat berlindung, maka
kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Hujan-hujanan. Kini bumi “Nggahi Rawi
Pahu” telah dipijak. Kota Dompu mulai menjamah mataku. Hujan deras membuatnya
kelihatan sepi seperti kota mati. Sesekali berpapasan dengan kendaraan yang
terpaksa menembus hujan karena terburu-buru, atau sedang mengalami hal yang
sama denganku. Dari balik jaketku, Mawar kedinginan. Jaket kulit yang tidak
tembus air itu hanya mampu menjaga bagian kepalanya, lain tidak. Memang lelaki
terlahir sebagai pelindung. Mahluk yang lebih kuat dari wanita, tapi mereka sebenarnya
lebih rapuh dari wanita itu sendiri. Mahluk yang memiliki ego lebih tinggi itu
akan rela kedinginan saat hujan untuk melindungi kekasih yang sangat
dicintainya. Ia adalah atap jika diibaratkan sebuah bangunan. Dompu, di masa
lampau memang lebih dulu ada. Kerajaan ini ada jauh sebelum kerajaan Bima ada
dan pada masa itu Bima hanya sebuah wilayah yang hanya dikuasai oleh para Ncuhi. Sebuah kerajaan yang pernah
menjadi korban dari perluasan wilayah kerajaan majapahit dan menjadi tumbal
sumpah Palapa-nya Maha patih Gajah Mada yang ingin menyatukan
nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Peristiwa itu juga yang telah mengawali
berdirinya kerajaan Bima yang pada saat itu, Laksamana Nala, yang ditugasi melakukan
ekspansi perluasan wilayah menisbatkan diri sebagai Sang Bima dan menikahi putri seorang nelayan yang menolongnya saat
kapalnya karam sebelum sampai pada kerajaan dompu, lalu membentuk kekuatan yang
juga dibantu para Ncuhi dan pasukan Majapahitnya sehingga kerajaan Dompu dapat
ditaklukkan. Laksamana Nala inilah yang dipercaya menjadi cikal-bakal
berdirinya kerajaan Bima.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar