Pukul 8.22 malam, aku dan Mawar sudah berada di tengah
kerumunan muda-mudi yang melewatkan malam minggu dengan kekasih mereka atau,
keluarga kecil yang sengaja bernostalgia mengingat masa mudanya. Mungkin saja
tempat ini adalah tempat bersejarah bagi mereka. Ada juga yang datang sesama
cowok atau sesama cewek untuk sekedar menikmati suasana di tempat bersejarah
ini. Mereka duduk membentuk lingkaran di tempat-tempat yang sengaja disediakan
oleh penjual makanan dan minuman ringan di sini. Sebuah puncak yang diratakan dan
di tembok rata membentuk persegi panjang serta diaspal. Di sebelah selatan ada
dangau kecil. Tempat dimana kusaksikan sepasang kekasih mengikat janji. Entah
apa yang disabdakan oleh cowoknya, si cewek menangis sesenggukan. Tangis
bahagiakah yang pecah itu? batinku. Entahlah, tapi lewat binaran mata dan
cahaya bulan yang tumpah ke dalamnya, aku dapat menangkap sinyal bahwa
tangisannya adalah bentuk bahagia yang meluap. Aku diajari lagi dengan kejadian
ini, bahwa kekecewaan dan kebahagiaan tetap memerlukan tangisan. Setiap
sudutnya ada lampu besar sebagai media
penerang. Gemintang bertaburan dengan
semburat putih tipis di selatan membentuk huruf patah-patah yang tidak
kumengerti, yang oleh ahli Astronomi menamainya Sistem Bintang Ganda Gerhana.
Diapit oleh beberapa rasi Bintang Vela,
Carina, Volans, Crux dan Musca; si
lebah langit. Hebatnya lagi ada beberapa bintang besar dan terang di dekatnya, salah
satu di antaranya; Miaplacidus. Benda
yang sebagian besarnya terdiri dari Hidrogen
dan Helium itu memang menakjubkan.
Menatap dengan arah enam puluh derajad, memendar bintang yang berkelompok
dengan enam anggota, Alcyone namanya.
Konon, bintang ini adalah jelmaan tujuh bidadari tapi, sayang salah satunya
telah tinggal di bumi dan telah dinikahi oleh manusia. Tempatnya tidak terlalu
luas namun keindahan kota Bima seluruhnya dapat dinikmati di sini. Nyaris tak
bisa kubedakan antara langit dan bumi sebab malam telah menyuguhkan pemandangan
yang sama. Kota Bima menampilkan dirinya sebagai langit yang bisa dilihat dari
atas, dan di atas puncak ini terlalu sempurna bagi kota Bima untuk bersembunyi.
Langit yang dipindahkan malam dari atas langit ke bumi. Pijar-pijar lampu kota
dari ujung ke ujung dapat dilihat secara menyeluruh. Pohon-pohon yang mengitari
sebelah utara nampak tak kuasa menahan binal pendarnya lampu kota. Ketika mata
menuding langit, maka mataku nyaris tidak menemukan perbedaan dari keduanya.
Bedanya, lampu-lampu yang terlihat seperti bintang itu tidak tersusun seperti
di langit, sedang di langit mereka tersusun atas garis edarnya masing-masing. Rasi
andromeda. Aurora yang
memperlihatkan keindahan adiluhungnya. Sungguh malam telah menyuguhkan
teatrikal tak tertandingi. Mataku tersangkut pada rasi bintang utara yang
membentuk huruf ‘W’, salah satu rasi
bintang dari 88 yang berhasil ditemukan pakar Astronomi modern dan diakui oleh International Astronomical Union. Cassiopeia sendiri diidentifikasi pada
abad ke- 2 oleh astronom yunani, Claudius Ptolemaeus yang juga dikenal sebagai
Ptolemi. Rasi bintang yang bernama Cassiopeia
merupakan bagian dari keluarga rasi perseus,
rasi bintang yang paling jelas dilihat pada bulan november ini, berlimpah
dengan emisi nebula, berbagai gugus
bintang dan bahkan sisa-sisa supernova.
Rasi ini dikelilingi oleh rasi Andromeda di
selatan, Cepheus di utara dan rasi Perseus di tenggara. Konon, Cassiopeia diambil dari nama seorang
ratu dari mitologi yunani kuno. Cassiopeia
adalah seorang ratu yang menyombongkan kecantikannya dan kecantikan
putinya, Andromeda, melebihi
siapapun. Kesombongan ini lantas memicu murka dewa laut, Poseidon. Cassiopeia berada di antara para bintang akibat hukuman
dari para dewa. Mitos yang makin mengukuhkan bahwa kesombongan adalah sesuatu
yang sangat tidak baik. Membuat pemiliknya lupa diri. Bahwa ‘janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
congkak dan sombong’ bukan lagi sesuatu yang dipatuhi dan ditakuti, bahkan
jelas ancaman-Nya orang yang congkak dan sombong itu tidak diperkenankan
mencium bau jannah-Nya.
“ Kamu lihat tidak bintang yang paling terang itu? tanyaku
mulai mencairkan suasana.
“ iya, lihat, kak!
“ Bintang itu namanya, Sirius
yang juga dikenal dengan nama ‘Bintang anjing’ adalah salah satu bintang
paling terang di langit.”
“ Kenapa namanya Sirius,
kok bukan ismail atau Rhoma irama? “ Kelakarnya disertai tawa.
“ Ya, kalau Ismail itu nama orang di kampungku. Atau yang
paling tenar adalah nama anaknya Nabi Ibrahim yang gagal disembelih lantaran
ditukar domba oleh malaikat jibril. Nah, kalau Rhoma irama jelas adalah satria
bergitar. “ aku tertawa sambil menuding wajahnya dengan telunjukku.
“ Terus kalau yang di sebelah barat yang dekat dengan
bintang yang serupa bajak itu bintang apa namanya? “
“ Kalau yang itu namanya, Mba’i romba. “ nama buaya paling
ganas itu spontan keluar dari mulutku. Mba’i romba adalah sebutan orang Bima
yang ditujukan pada buaya paling ganas yang dikenal buaya putih bagi kalangan
umum.
“ Akh...bercandanya keterlaluan. Masa nama bintang, Mba’i
romba. Bukannya binatang itu yang sering di laut dan kalau jemur diri di
matahari mulutnya menganga? “ Protesnya.
“ Iya, protes biasa saja. Masa gara-gara itu mulutnya sudah
maju lebih dari 20 cm. Bintang itu namanya, Betelgeuse,
ia merupakan bintang super raksasa merah dengan sekitar 13 ribu kali lebih
terang dari matahari dan berukuran 1000 kali lebih besar. Kau tahu? Jika Betelgeuse menggantikan posisi matahari
maka diameternya akan mencapai orbit
jupiter.“
“ Bumi akan terpanggang tentunya kalau Betelgeuse menggantikan posisi matahari ? “ Sergahnya serius.
“ Iya, tepatnya begitu. Inilah yang perlu kita sadari bahwa
apa yang tercipta di tangan-Nya diatur sedemkian rupa menurut ukurannya
masing-masing. Kalau seandainya itu terjadi, barangkali tak akan ada kehidupan
di muka bumi ini. “
“ Kakak pintar. Tahu dari mana nama bintang-bintang itu, “
pujinya antara mengejek dan senang.
“ Jangan puji, kakak. Pujilah Guruku yang susah payah
mengajariku sampai mulut berbusa. Dia adalah Guru terbaik di sekolahku. Dia
rela datang lebih awal dan menunggu kami siswanya dalam ruangan kelas.
Sosoknya
masih yang terbaik. Pada akhirnya, dulu, waktu sekolah menengah pertama itu,
aku menamatkan sekolahku dan lulus dengan Nem tertinggi, “ jelasku panjang
lebar.
“ Kalau begitu, kakak tidak pintar. Gurumu yang pintar
sekali. “
“ Tentu saja pintar, muridnya saja sudah pintar apalagi
Gurunya.”
“ Kalau begitu jelaskan tentang bintang-bintang lain selain
yang kakak jelaskan tadi, “ tantangnya.
“ Procyon kenapa
lebih terang? Kau lihat Bintang di barat itu? Itu namanya Procyon, bintang kuning putih yang merupakan salah satu bintang
yang cukup dekat dengan planet kita, Bumi. Mungkin itulah alasannya kenapa
bintang ini menjadi salah satu yang paling terang. Aku juga pernah belajar
sejarah mesir kuno, yang pada saat itu ada sebuah kota di utara mesir, namanya Canopus. Aku tidak tahu persis kenapa
nama kota mesir kuno itu dikaitkan dengan bintang. Canopus adalah bintang paling terang ke-2 di langit.”
“ Nama bintang-bintang yang kakak sebutkan dari tadi
aneh-aneh. Kenapa bukan Duruhama,
Durukaleli atau Sma’i mangge?” dia
tertawa terpingkal-pingkal. Dapat dari mana dia nama-nama aneh seperti itu.
“ Seandainya nenek moyang kita yang lebih dahulu
mengidentifikasi benda-benda langit itu tentu saja namanya pasti, Duruhama, Durukaleli atau Sma’i
Mangge seperti yang kamu sebutkan tadi.
Tapi sayang bukan. Orang-orang yunani dan barat lebih dulu
mengidentifikasinya dan jelaslah kenapa nama bintang-bintang jadi aneh.“
sanggahku.
“ Sekaligus membuka mata kita bahwa dunia barat sudah
sedemikian canggih, sedang kita di sini, mungkin saja masih di jaman batu
apalagi mengenal kemerdekaan, “ Mawar menambahkan.
“ Nah, sekarang yang pintar siapa? Tanyaku sambil wajah
kubuat lucu. Kami tertawa sepantasnya dan diam beberapa saat. Menyeruput
minuman yang hangat yang telah kami pesan dan memakan makanan ringannya juga.
“ Nah, kalau yang hampir tenggelam di bagian selatan itu,
bintang apa namanya? “
“ Kalau yang itu masih dalam kelompok super raksasa, menurut
Astronom warnanya putih kebiruan dan berjarak sekitar 69 tahun cahaya dari
bumi. Coba bayangkan, alangkah jauhnya dari planet kita. Langit sendiri tidak
terbayangkan lagi jauhnya. Sayang, manusia tidak mau belajar dan berpikir,
betapa maha karya ini adalah karya-Nya, Tuhan semesta alam.”
“ Mendadak ustad.”
“ Huuusss...jangan mengejek doa orang. Aamiin-kan saja.
Siapa tahu aku benaran jadi ustad dan bisa membimbing ummat, bukankah setiap
ucapan itu adalah doa? “ Sergahku.
“ Sebenarnya masih banyak bintang-bintang besar dan terang
tapi jam segini sudah tenggelam, “ tambahku sambil kuselidik sudut-sudut
langit.
“ Sepertinya kakak tahu segalanya tentang peta langit.”
“ Ada yang aku tidak tahu, yaitu peta hatimu.”
“ Kenapa dengan
hatiku? “ Tanyanya.
“ Apakah ada aku di sana? “ Dia memandangku lama sekali. Dia
melihat wajahku detail.
“ Wajahmu tidak bosan dipandang, Kak! Oya, tempat ini, kalau tidak salah, tempat
paling bersejarah.
Kalau, iya, ceritakan, donk, kak!” cepat-cepat dia alihkan
pembicaraan ke topik lain. Entahlah alasannya kenapa.
“ Tentu saja tempat ini sangat bersejarah. Kaulihat tempat
ini terbagi atas dua tempat? Yang sebelah timur dan dipagar besi keliling itu
adalah makam para raja dan sultan Bima. Dae Fery juga salah satu pemilik makam
itu.”
“ Menurut cerita, nama Mbojo berasal dari istilah bahasa Bima
“ BABUJU” . Babuju adalah tanah yang tinggi, busut jantan. Nah, tanah itu
adalah tempat ini. Tanah semacam ini dalam bahasa Bima disebut “ DANA MA
BABUJU” . Babuju adalah tempat diadakannya Musyawarah para Ncuhi tentang ‘ di tuha Ro Lanti’ atau dinobatkannya Indra Zamrud sebagai raja Mbojo yang
pertama. Selain itu tempat dimana para Ncuhi menentukan nama kerajaan,” tambahku.
“ Kadang bingung juga kalau ada teman-teman yang ngajak ke
sini, kadang sebutannya Bima, kadang Mbojo. Jadi kesannya pulau tempat, kakak
bermukim ini punya dua nama.”
“ Kalau Bima itu diambil dari nama ayah Raja Indra Zamrud, sang Bima, yang sangat
berjasa dalam merintis pendirian kerajaan, dan oleh karena sang Bima berasal dari jawa, maka orang-orang jawa mengenalnya
dengan nama Bima. Jadi, sampai sekarang dana
Mbojo (tanah Bima) mempunyai dua nama, yaitu Mbojo dan Bima.”
Tak terasa malam ‘kian larut dan aku baru sadar setelah
melihat jam tanganku, ternyata sudah jam 10 lewat lima belas menit. Dingin
mulai menggigit-gigit kulit. Awan-awan tipis mulai mencium daun-daun pohon
tertinggi dan perlahan hamparannya berselimut halimun. Kuedarkan pandangan dari
ujung ke ujung, semakin malam tempat ini
semakin indah. Langit semakin terang dengan gemintangnya. Kabut-kabut
telah menepi. Nyanyian horor burung malam mencitrakan keindahannya yang
misterius. Kalong-kalong bergelantungan di pohon-pohon liar yang rasa buahnya,
barangkali kecut. Pengunjung yang tadinya ramai, sekarang tinggal beberapa orang saja. Rasa lapar mulai
menyerang. Ada suara aneh di dalamnya. Dan kulihat, Mawar, cekikikan
mendengarnya. Aku cukup menikmati suara tawanya sekaligus bibirnya yang
mengembang dengan gigi yang kelihatan rata.
“ Lapar, ya?”
“ Menurutmu?”
“ Ya, tadinya kupikir tidak, tapi
suara gamelan di perutmu mengirim sinyal, bahwa ia butuh makanan,” kata Mawar.
“ Ya, sudah, Kita cari makanan,
yuk!” ajakku.
“ Dasar perut purba. Selalu
terikat dengan makanan pokok. Setelah menghabiskan banyak makanan ringan masih
saja keroncongan,” Gerutunya ngejek.
“ Duwh...kaya ibu rumah tangga
saja yang omelin anaknya menghabiskan makanan sekulkas. Atau mengajak
teman-temannya yang berjumlah sepuluh orang dan bermain bola dengan makanan
tersebut,” kataku mengejek sambil menghidupkan mesin motorku.
“ Yuk, naik tuan putri!” ejekku
lagi.
Kami menuruni Gunung Raja yang
menukik. Jalannya melengkung merupa huruf ‘C’
yang makin ke kiri. Kiri dan kanannya diapit pohon-pohon kecil yang
sudah lama tidak dipotong petugas. di beberapa bagian terdapat tangga dan
tampak beberapa pasangan muda, atau barangkali berusia setengah senja sedang
duduk bercengkerama di sana. Enam belas menit kemudian, kami sudah berada di
tengah kota. Sudah mulai sepi dan warung-warung sudah tutup. Mengelilingi kota
hanya sekedar mengisi perut, tapi tak ada satu pun yang terbuka. Alasannya
habis. Malam minggu memang manusia di kota ini tak ada yang masak di rumah.
Mereka akan makan di luar dengan keluarga mereka dan kami tidak mendapatkan
jatah. Kami meninggalkan pusat kota dan menyisir lokasi Amahami dan di tempat ini
masih sangat ramai. Aku memarkir motorku di halaman sebuah cafe. Sebuah cafe
dengan pesona dominan merah, Surf cafe. Kami
mengambil tempat duduk paling strategis dan kebetulan yang duduk di tempat
tersebut baru saja pergi. Kini pantai Amahami
dalam genggaman mata. Barisan
kendaraan yang terparkir sepanjang lebih kurang dua kilo meter dari Lawata sampai ujung utara Ama hami serupa barisan aparat yang
mengawal aksi demonstrasi. Berada di lantai dua cafe ini, gelombang kecil yang
berkejaran dapat dengan jelas dilihat bersamaan dengan cahaya bulan yang tumpah,
tak ada awan yang menghalangi. Daratan yang menyimpang di pantai Lawata masih dapat kulihat dengan jelas.
Sejauh mata memandang, kerlipan lampu-lampu desa orang Donggo juga dapat dinikmati. Surf
cafe berdiri dari sebidang tanah berukuran 20 x 20 Meter. Bercat merah
maroon dan semua lampu-lampu ruangannya bernuansa merah, mirip hari imlek.
Penyanyi-penyanyi cafe bergantian bernyanyi. Mula-mula yang bernyanyi seorang
gadis berumur sekitar 19 tahun dan 40 m3nit kemudian digantikan lelaki umuran
25 tahun.
Kini kumenemukanmu
Di ujung waktuku
patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang
selamatkan hidupku
Kiniku telah bersamamu
Berjanji ‘tuk sehidup semati
Walau akhir sang waktu
Kita bersama ‘tuk selamanya
Lagu ‘seventeen’ mengalun merdu sementara riuh suara pengunjung dan deru kendaraan sama
sekali tidak mengurangi romantisme yang ditimbulkannya. Keadaan selalu bisa membaca suasana hati. Aku yang sedang
diamuk asmara tengah tenggelam di dalamnya. Merenangi bening mata wanita yang
tengah duduk di hadapanku sekarang.
“ Kau mau makan apa?” Tanyaku
“ pesan yang sama saja, ya!” Jawabnya
“ Mau pesan apa, mas? Untuk menu-nya dapat dilihat di list
menu,” pelayan menyarankan
“ Untuk minumannya, coklat float, ya, dan makanannya, nasi
goreng saja,” kataku
“ Dan, mbak!” Pelayan menunjuk Mawar.
“Menu-nya sama saja, mas!” Mawar menjawab.
“Iya, baik, mas, mbak, pesanannya ditunggu saja,” pelayan
mengingatkan dan segera melayani tamu lain.
“Sudah kamu beritahu
temanmu bahwa kita akan pulang selesai makan,” tanyaku
“Iya, sudah. Dia masih di rumah sakit, ada pasien kecelakaan
katanya dan sekitar 35 menit lagi akan pulang,” jawabnya.
“Berarti kita makannya tidak usah pake ngebut. Masih ada
waktu. Aku takutnya gerbang depan kos-kosan digembok,” Kataku
“Saya juga bawa kuncinya,” Jawabnya.
Pengunjung surf cafe tinggal beberapa saja. Deretan meja dan
kursi sebagian besar telah kosong. Kami menuruni anak tangga disusul beberapa
orang di belakang. Samar-samar nyanyian penyanyi cafe masih terdengar. Aku
kembali mengukur jalan. Kali ini tidak sendiri. Ada seseorang di belakang diam
seribu bahasa. Menjamah lagi jalanan sekitar pantai Amahami yang semakin
lengang dan mulai kelihatan sepi. Kendaraan yang terparkir jarang-jarang serupa
sebuah desa yang baru dihuni beberapa orang. Jalan sukarno-hatta kembali dilindap ban
motorku. Kalau saja tidak ada seseorang di belakangku, mungkin aku merasa
perulangan ini adalah hal yang paling menjemukan. Di bawah nuansa malam yang
terang dengan taburan bintangnya, kami memasuki sebuah gang kecil dan beberapa
saat kemudian kami sampai di kos-kosan temannya. Seperti sudah dijanjikan,
sebuah motor scutter tiba di depan pintu
gerbang tempat kami berdiri. Sesosok wanita mungil seumuran 24 tahun dengan postur
tubuh ramping dan cukup manis. Pipit namanya. Kalau tidak jeli melihat, mungkin
orang-orang akan mengira dia baru berumur 17 tahun.
“Kenapa berdiri saja? Dibuka, dong gemboknya!” Pipit
menyarankan.
“Sini kuncinya biar aku saja,” aku menimpali.
Setelah kubukakan gerbangnya, mereka masuk bersamaan dan
mendorong motor masuk dan memarkirnya.
“Kakak tidak masuk dulu?” Pipit bertanya.
“Tidak usah, Pit! Aku langsung pulang saja. Tidak enak sama
pemilik kos, masa jam segini masih ada tamu,” jawabku.
“Iya, sudah kalau begitu. Bisa mampir lain kali, kak!” Jawab
Pipit sambil menatap Mawar dan melangkah masuk.
“Mawar, aku pulang dulu. Oya, Ini untukmu.” Kukecup telapak
tanganku sendiri dan kutempelkan di keningnya. Dia tersenyum manis sekali dan
sesaat dia berbalik dan melangkah masuk. Kuperhatikan dia sampai hilang di
balik pintu kos-kosan temannya. Jalannya lamban dengan postur tubuh serasi dan
berbentuk. Tidak tinggi juga tidak pendek. Kesan pertemuan pertama.
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar