Rabu, 07 Oktober 2015

Doro Raja 1


Pukul 8.22 malam, aku dan Mawar sudah berada di tengah kerumunan muda-mudi yang melewatkan malam minggu dengan kekasih mereka atau, keluarga kecil yang sengaja bernostalgia mengingat masa mudanya. Mungkin saja tempat ini adalah tempat bersejarah bagi mereka. Ada juga yang datang sesama cowok atau sesama cewek untuk sekedar menikmati suasana di tempat bersejarah ini. Mereka duduk membentuk lingkaran di tempat-tempat yang sengaja disediakan oleh penjual makanan dan minuman ringan di sini. Sebuah puncak yang diratakan dan di tembok rata membentuk persegi panjang serta diaspal. Di sebelah selatan ada dangau kecil. Tempat dimana kusaksikan sepasang kekasih mengikat janji. Entah apa yang disabdakan oleh cowoknya, si cewek menangis sesenggukan. Tangis bahagiakah yang pecah itu? batinku. Entahlah, tapi lewat binaran mata dan cahaya bulan yang tumpah ke dalamnya, aku dapat menangkap sinyal bahwa tangisannya adalah bentuk bahagia yang meluap. Aku diajari lagi dengan kejadian ini, bahwa kekecewaan dan kebahagiaan tetap memerlukan tangisan. Setiap sudutnya  ada lampu besar sebagai media penerang. Gemintang  bertaburan dengan semburat putih tipis di selatan membentuk huruf patah-patah yang tidak kumengerti, yang oleh ahli Astronomi menamainya Sistem Bintang Ganda Gerhana. Diapit oleh beberapa rasi Bintang Vela, Carina, Volans, Crux dan Musca; si lebah langit. Hebatnya lagi ada beberapa bintang besar dan terang di dekatnya, salah satu di antaranya; Miaplacidus. Benda yang sebagian besarnya terdiri dari Hidrogen dan Helium itu memang menakjubkan. Menatap dengan arah enam puluh derajad, memendar bintang yang berkelompok dengan enam anggota, Alcyone namanya. Konon, bintang ini adalah jelmaan tujuh bidadari tapi, sayang salah satunya telah tinggal di bumi dan telah dinikahi oleh manusia. Tempatnya tidak terlalu luas namun keindahan kota Bima seluruhnya dapat dinikmati di sini. Nyaris tak bisa kubedakan antara langit dan bumi sebab malam telah menyuguhkan pemandangan yang sama. Kota Bima menampilkan dirinya sebagai langit yang bisa dilihat dari atas, dan di atas puncak ini terlalu sempurna bagi kota Bima untuk bersembunyi. Langit yang dipindahkan malam dari atas langit ke bumi. Pijar-pijar lampu kota dari ujung ke ujung dapat dilihat secara menyeluruh. Pohon-pohon yang mengitari sebelah utara nampak tak kuasa menahan binal pendarnya lampu kota. Ketika mata menuding langit, maka mataku nyaris tidak menemukan perbedaan dari keduanya. Bedanya, lampu-lampu yang terlihat seperti bintang itu tidak tersusun seperti di langit, sedang di langit mereka tersusun atas garis edarnya masing-masing. Rasi andromeda. Aurora yang memperlihatkan keindahan adiluhungnya. Sungguh malam telah menyuguhkan teatrikal tak tertandingi. Mataku tersangkut pada rasi bintang utara yang membentuk huruf  ‘W’, salah satu rasi bintang dari 88 yang berhasil ditemukan pakar Astronomi modern dan diakui oleh International Astronomical Union. Cassiopeia sendiri diidentifikasi pada abad ke- 2 oleh astronom yunani, Claudius Ptolemaeus yang juga dikenal sebagai Ptolemi. Rasi bintang yang bernama Cassiopeia merupakan bagian dari keluarga rasi perseus, rasi bintang yang paling jelas dilihat pada bulan november ini, berlimpah dengan emisi nebula, berbagai gugus bintang dan bahkan sisa-sisa supernova. Rasi ini dikelilingi oleh rasi Andromeda di selatan, Cepheus di utara dan rasi Perseus di tenggara. Konon, Cassiopeia diambil dari nama seorang ratu dari mitologi yunani kuno. Cassiopeia adalah seorang ratu yang menyombongkan kecantikannya dan kecantikan putinya, Andromeda, melebihi siapapun. Kesombongan ini lantas memicu murka dewa laut, Poseidon. Cassiopeia berada di antara para bintang akibat hukuman dari para dewa. Mitos yang makin mengukuhkan bahwa kesombongan adalah sesuatu yang sangat tidak baik. Membuat pemiliknya lupa diri. Bahwa ‘janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan congkak dan sombong’ bukan lagi sesuatu yang dipatuhi dan ditakuti, bahkan jelas ancaman-Nya orang yang congkak dan sombong itu tidak diperkenankan mencium bau jannah-Nya.

“ Kamu lihat tidak bintang yang paling terang itu? tanyaku mulai mencairkan suasana.
“ iya, lihat, kak!

“ Bintang itu namanya, Sirius yang juga dikenal dengan nama ‘Bintang anjing’ adalah salah satu bintang paling terang di langit.”

“ Kenapa namanya Sirius, kok bukan ismail atau Rhoma irama? “ Kelakarnya disertai tawa.

“ Ya, kalau Ismail itu nama orang di kampungku. Atau yang paling tenar adalah nama anaknya Nabi Ibrahim yang gagal disembelih lantaran ditukar domba oleh malaikat jibril. Nah, kalau Rhoma irama jelas adalah satria bergitar. “ aku tertawa sambil menuding wajahnya dengan telunjukku.

“ Terus kalau yang di sebelah barat yang  dekat dengan  bintang yang serupa bajak itu bintang apa namanya? “
“ Kalau yang itu namanya, Mba’i romba. “ nama buaya paling ganas itu spontan keluar dari mulutku. Mba’i romba adalah sebutan orang Bima yang ditujukan pada buaya paling ganas yang dikenal buaya putih bagi kalangan umum.

“ Akh...bercandanya keterlaluan. Masa nama bintang, Mba’i romba. Bukannya binatang itu yang sering di laut dan kalau jemur diri di matahari mulutnya menganga? “ Protesnya.

“ Iya, protes biasa saja. Masa gara-gara itu mulutnya sudah maju lebih dari 20 cm. Bintang itu namanya, Betelgeuse, ia merupakan bintang super raksasa merah dengan sekitar 13 ribu kali lebih terang dari matahari dan berukuran 1000 kali lebih besar. Kau tahu? Jika Betelgeuse menggantikan posisi matahari maka diameternya akan  mencapai orbit jupiter.“

“ Bumi akan terpanggang tentunya kalau Betelgeuse menggantikan posisi matahari ? “ Sergahnya serius.

“ Iya, tepatnya begitu. Inilah yang perlu kita sadari bahwa apa yang tercipta di tangan-Nya diatur sedemkian rupa menurut ukurannya masing-masing. Kalau seandainya itu terjadi, barangkali tak akan ada kehidupan di muka bumi ini. “

“ Kakak pintar. Tahu dari mana nama bintang-bintang itu, “ pujinya antara mengejek dan senang.

“ Jangan puji, kakak. Pujilah Guruku yang susah payah mengajariku sampai mulut berbusa. Dia adalah Guru terbaik di sekolahku. Dia rela datang lebih awal dan menunggu kami siswanya dalam ruangan kelas. 

Sosoknya masih yang terbaik. Pada akhirnya, dulu, waktu sekolah menengah pertama itu, aku menamatkan sekolahku dan lulus dengan Nem tertinggi, “ jelasku panjang lebar.

“ Kalau begitu, kakak tidak pintar. Gurumu yang pintar sekali. “

“ Tentu saja pintar, muridnya saja sudah pintar apalagi Gurunya.”

“ Kalau begitu jelaskan tentang bintang-bintang lain selain yang kakak jelaskan tadi, “ tantangnya.

Procyon kenapa lebih terang? Kau lihat Bintang di barat itu? Itu namanya Procyon, bintang kuning putih yang merupakan salah satu bintang yang cukup dekat dengan planet kita, Bumi. Mungkin itulah alasannya kenapa bintang ini menjadi salah satu yang paling terang. Aku juga pernah belajar sejarah mesir kuno, yang pada saat itu ada sebuah kota di utara mesir, namanya Canopus. Aku tidak tahu persis kenapa nama kota mesir kuno itu dikaitkan dengan bintang. Canopus adalah bintang paling terang ke-2 di langit.”

“ Nama bintang-bintang yang kakak sebutkan dari tadi aneh-aneh. Kenapa bukan Duruhama, Durukaleli atau Sma’i mangge?” dia tertawa terpingkal-pingkal. Dapat dari mana dia nama-nama aneh seperti itu.

“ Seandainya nenek moyang kita yang lebih dahulu mengidentifikasi benda-benda langit itu tentu saja namanya pasti, Duruhama, Durukaleli  atau Sma’i Mangge seperti yang kamu sebutkan tadi. Tapi sayang bukan. Orang-orang yunani dan barat lebih dulu mengidentifikasinya dan jelaslah kenapa nama bintang-bintang jadi aneh.“ sanggahku.

“ Sekaligus membuka mata kita bahwa dunia barat sudah sedemikian canggih, sedang kita di sini, mungkin saja masih di jaman batu apalagi mengenal kemerdekaan, “ Mawar menambahkan.
“ Nah, sekarang yang pintar siapa? Tanyaku sambil wajah kubuat lucu. Kami tertawa sepantasnya dan diam beberapa saat. Menyeruput minuman yang hangat yang telah kami pesan dan memakan makanan ringannya juga.

“ Nah, kalau yang hampir tenggelam di bagian selatan itu, bintang apa namanya? “

“ Kalau yang itu masih dalam kelompok super raksasa, menurut Astronom warnanya putih kebiruan dan berjarak sekitar 69 tahun cahaya dari bumi. Coba bayangkan, alangkah jauhnya dari planet kita. Langit sendiri tidak terbayangkan lagi jauhnya. Sayang, manusia tidak mau belajar dan berpikir, betapa maha karya ini adalah karya-Nya, Tuhan semesta alam.”

“ Mendadak ustad.”

“ Huuusss...jangan mengejek doa orang. Aamiin-kan saja. Siapa tahu aku benaran jadi ustad dan bisa membimbing ummat, bukankah setiap ucapan itu adalah doa? “ Sergahku.
“ Sebenarnya masih banyak bintang-bintang besar dan terang tapi jam segini sudah tenggelam, “ tambahku sambil kuselidik sudut-sudut langit.

“ Sepertinya kakak tahu segalanya tentang peta langit.”

“ Ada yang aku tidak tahu, yaitu peta hatimu.”

 “ Kenapa dengan hatiku? “ Tanyanya.

“ Apakah ada aku di sana? “ Dia memandangku lama sekali. Dia melihat wajahku detail.

“ Wajahmu tidak bosan dipandang, Kak!  Oya, tempat ini, kalau tidak salah, tempat paling bersejarah. 

Kalau, iya, ceritakan, donk, kak!” cepat-cepat dia alihkan pembicaraan ke topik lain. Entahlah alasannya kenapa.

“ Tentu saja tempat ini sangat bersejarah. Kaulihat tempat ini terbagi atas dua tempat? Yang sebelah timur dan dipagar besi keliling itu adalah makam para raja dan sultan Bima. Dae Fery juga salah satu pemilik makam itu.”

“ Menurut cerita, nama Mbojo berasal dari istilah bahasa Bima “ BABUJU” . Babuju adalah tanah yang tinggi, busut jantan. Nah, tanah itu adalah tempat ini. Tanah semacam ini dalam bahasa Bima disebut “ DANA MA BABUJU” . Babuju adalah tempat diadakannya Musyawarah para Ncuhi  tentang ‘ di tuha Ro Lanti’ atau dinobatkannya Indra Zamrud sebagai raja Mbojo yang pertama. Selain itu tempat dimana para Ncuhi  menentukan nama kerajaan,” tambahku.

“ Kadang bingung juga kalau ada teman-teman yang ngajak ke sini, kadang sebutannya Bima, kadang Mbojo. Jadi kesannya pulau tempat, kakak bermukim ini punya dua nama.”
“ Kalau Bima itu diambil dari nama ayah Raja Indra Zamrud, sang Bima, yang sangat berjasa dalam merintis pendirian kerajaan, dan oleh karena sang Bima berasal dari jawa, maka orang-orang jawa mengenalnya dengan nama Bima. Jadi, sampai sekarang dana Mbojo (tanah Bima) mempunyai dua nama, yaitu Mbojo dan Bima.”

Tak terasa malam ‘kian larut dan aku baru sadar setelah melihat jam tanganku, ternyata sudah jam 10 lewat lima belas menit. Dingin mulai menggigit-gigit kulit. Awan-awan tipis mulai mencium daun-daun pohon tertinggi dan perlahan hamparannya berselimut halimun. Kuedarkan pandangan dari ujung ke ujung, semakin malam tempat ini  semakin indah. Langit semakin terang dengan gemintangnya. Kabut-kabut telah menepi. Nyanyian horor burung malam mencitrakan keindahannya yang misterius. Kalong-kalong bergelantungan di pohon-pohon liar yang rasa buahnya, barangkali kecut. Pengunjung yang tadinya ramai, sekarang  tinggal beberapa orang saja. Rasa lapar mulai menyerang. Ada suara aneh di dalamnya. Dan kulihat, Mawar, cekikikan mendengarnya. Aku cukup menikmati suara tawanya sekaligus bibirnya yang mengembang dengan gigi yang kelihatan rata.

“ Lapar, ya?”

“ Menurutmu?”

“ Ya, tadinya kupikir tidak, tapi suara gamelan di perutmu mengirim sinyal, bahwa ia butuh makanan,” kata Mawar.

“ Ya, sudah, Kita cari makanan, yuk!” ajakku.

“ Dasar perut purba. Selalu terikat dengan makanan pokok. Setelah menghabiskan banyak makanan ringan masih saja keroncongan,” Gerutunya ngejek.

“ Duwh...kaya ibu rumah tangga saja yang omelin anaknya menghabiskan makanan sekulkas. Atau mengajak teman-temannya yang berjumlah sepuluh orang dan bermain bola dengan makanan tersebut,” kataku mengejek sambil menghidupkan mesin motorku.

“ Yuk, naik tuan putri!” ejekku lagi.

Kami menuruni Gunung Raja yang menukik. Jalannya melengkung merupa huruf  ‘C’  yang makin ke kiri. Kiri dan kanannya diapit pohon-pohon kecil yang sudah lama tidak dipotong petugas. di beberapa bagian terdapat tangga dan tampak beberapa pasangan muda, atau barangkali berusia setengah senja sedang duduk bercengkerama di sana. Enam belas menit kemudian, kami sudah berada di tengah kota. Sudah mulai sepi dan warung-warung sudah tutup. Mengelilingi kota hanya sekedar mengisi perut, tapi tak ada satu pun yang terbuka. Alasannya habis. Malam minggu memang manusia di kota ini tak ada yang masak di rumah. Mereka akan makan di luar dengan keluarga mereka dan kami tidak mendapatkan jatah. Kami meninggalkan pusat kota dan menyisir lokasi Amahami  dan di tempat ini masih sangat ramai. Aku memarkir motorku di halaman sebuah cafe. Sebuah cafe dengan pesona dominan merah, Surf cafe. Kami mengambil tempat duduk paling strategis dan kebetulan yang duduk di tempat tersebut baru saja pergi. Kini pantai Amahami  dalam genggaman mata. Barisan kendaraan yang terparkir sepanjang lebih kurang dua kilo meter dari Lawata sampai ujung utara Ama hami serupa barisan aparat yang mengawal aksi demonstrasi. Berada di lantai dua cafe ini, gelombang kecil yang berkejaran dapat dengan jelas dilihat bersamaan dengan cahaya bulan yang tumpah, tak ada awan yang menghalangi. Daratan yang menyimpang di pantai Lawata masih dapat kulihat dengan jelas. Sejauh mata memandang, kerlipan lampu-lampu desa orang Donggo juga dapat dinikmati. Surf cafe berdiri dari sebidang tanah berukuran 20 x 20 Meter. Bercat merah maroon dan semua lampu-lampu ruangannya bernuansa merah, mirip hari imlek. Penyanyi-penyanyi cafe bergantian bernyanyi. Mula-mula yang bernyanyi seorang gadis berumur sekitar 19 tahun dan 40 m3nit kemudian digantikan lelaki umuran 25 tahun.

Kini kumenemukanmu
Di ujung waktuku patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang selamatkan hidupku

Kiniku telah bersamamu
Berjanji ‘tuk sehidup semati
Walau akhir sang waktu
Kita bersama ‘tuk selamanya

Lagu ‘seventeen’ mengalun merdu sementara riuh  suara pengunjung dan deru kendaraan sama sekali tidak mengurangi romantisme yang ditimbulkannya. Keadaan selalu  bisa membaca suasana hati. Aku yang sedang diamuk asmara tengah tenggelam di dalamnya. Merenangi bening mata wanita yang tengah duduk di hadapanku sekarang.

“ Kau mau makan apa?” Tanyaku

“ pesan yang sama saja, ya!” Jawabnya

“ Mau pesan apa, mas? Untuk menu-nya dapat dilihat di list menu,” pelayan menyarankan
“ Untuk minumannya, coklat float, ya, dan makanannya, nasi goreng saja,” kataku

“ Dan, mbak!” Pelayan menunjuk Mawar.

“Menu-nya sama saja, mas!” Mawar menjawab.

“Iya, baik, mas, mbak, pesanannya ditunggu saja,” pelayan mengingatkan dan segera melayani tamu lain.

 “Sudah kamu beritahu temanmu bahwa kita akan pulang selesai makan,” tanyaku

“Iya, sudah. Dia masih di rumah sakit, ada pasien kecelakaan katanya dan sekitar 35 menit lagi akan pulang,” jawabnya.

“Berarti kita makannya tidak usah pake ngebut. Masih ada waktu. Aku takutnya gerbang depan kos-kosan digembok,” Kataku

“Saya juga bawa kuncinya,” Jawabnya.

Pengunjung surf cafe tinggal beberapa saja. Deretan meja dan kursi sebagian besar telah kosong. Kami menuruni anak tangga disusul beberapa orang di belakang. Samar-samar nyanyian penyanyi cafe masih terdengar. Aku kembali mengukur jalan. Kali ini tidak sendiri. Ada seseorang di belakang diam seribu bahasa. Menjamah lagi jalanan sekitar pantai Amahami yang semakin lengang dan mulai kelihatan sepi. Kendaraan yang terparkir jarang-jarang serupa sebuah desa yang baru dihuni beberapa orang.  Jalan sukarno-hatta kembali dilindap ban motorku. Kalau saja tidak ada seseorang di belakangku, mungkin aku merasa perulangan ini adalah hal yang paling menjemukan. Di bawah nuansa malam yang terang dengan taburan bintangnya, kami memasuki sebuah gang kecil dan beberapa saat kemudian kami sampai di kos-kosan temannya. Seperti sudah dijanjikan, sebuah motor scutter  tiba di depan pintu gerbang tempat kami berdiri. Sesosok wanita mungil seumuran 24 tahun dengan postur tubuh ramping dan cukup manis. Pipit namanya. Kalau tidak jeli melihat, mungkin orang-orang akan mengira dia baru berumur 17 tahun.

“Kenapa berdiri saja? Dibuka, dong gemboknya!” Pipit menyarankan.

“Sini kuncinya biar aku saja,” aku menimpali.

Setelah kubukakan gerbangnya, mereka masuk bersamaan dan mendorong motor masuk dan memarkirnya.
“Kakak tidak masuk dulu?” Pipit bertanya.

“Tidak usah, Pit! Aku langsung pulang saja. Tidak enak sama pemilik kos, masa jam segini masih ada tamu,” jawabku.

“Iya, sudah kalau begitu. Bisa mampir lain kali, kak!” Jawab Pipit sambil menatap Mawar dan melangkah masuk.

“Mawar, aku pulang dulu. Oya, Ini untukmu.” Kukecup telapak tanganku sendiri dan kutempelkan di keningnya. Dia tersenyum manis sekali dan sesaat dia berbalik dan melangkah masuk. Kuperhatikan dia sampai hilang di balik pintu kos-kosan temannya. Jalannya lamban dengan postur tubuh serasi dan berbentuk. Tidak tinggi juga tidak pendek. Kesan pertemuan pertama.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar