Selasa, 06 Oktober 2015

KABAR DARI SEBERANG 3


Beberapa hari ini, kami sering menghabiskan waktu lewat telepon. Bercerita apa saja dan sesekali nyinyir kuda. Kebiasaanku yang pandai melucu membuatnya begitu nyaman berlama-lama menelepon walau hanya membahas hal yang tak penting.
“ Nanti rencana punya anak berapa? “ aku melucu.
“ Satu saja sudah cukup. Hamil dan melahirkan itu tidak mudah. Makanya tidak salah, Nabi Muhammad ketika ditanya oleh para sahabat: Siapa yang harus lebih dulu dihormati oleh seorang anak, maka beliau menjawab: Ibumu dan dijawab ulang sebanyak tiga kali baru beliau menyebut: Kemudian Ayahmu. Di kakinya bau surga itu diperoleh. Sebab seorang ibu melahirkan kita antara hidup dan mati. Berjuang seperti mereka yang tak gentar di medan jihad, “ Dia menjelaskan panjang lebar di balik handphone. Aku tidak menduga kalau dia menanggapinya seperti ini. Wanita seperti apa dia sebenarnya, batinku.
“ Apa tidak terlalu sedikit kalau kita hanya punya satu anak, “ jawabku masih dalam nada gurau.
“ Iya, deh, Dua. Tapi, awas, ya, kalau minta banyak-banyak, “ katanya dan kudengar tawanya pecah. Aku
suka dia tertawa seperti itu. Jika dia sedang bersedih, pikirku, minimal tawanya setelah mengenalku akan menutupi kesedihannya dan, jika dia sedang bahagia, maka aku telah menambah kebahagiaan dalam hidupnya. Inilah yang perlu kusadari arti kehadiranku dalam kehidupannya, yaitu berbagi kebahagiaan, saling menguatkan dan mengurangi kekecewaan walaupun aku sadar bahwa hidup tak akan pernah jauh dari masalah. Aku bingung kenapa aku begitu nyaman dengannya padahal aku belum pernah bertemu. Hanya foto-foto yang dia kirim lewat E-mail atau di akun facebook-nya.  Satu lagi pelajaran yang kupetik di sini, bahwa cinta tidak serta merta hadir melalui mata, kita lihat dan kita rasakan. Cinta yang maha dasyat itu bisa timbul dari apa yang kita dengar. Kita mendengar tawanya sambil membayangkan rona wajahnya. Kita bayangkan gerak-geriknya ketika melucu. Merasa dekat walau dipisah jarak. Cinta itu buta ketika aku belum melihat ia bisa tumbuh. Cinta itu tuli ketika kumendengar dia tidak baik, maka aku mendengar cibiran itu seolah sabda nabi. Dan anehnya, belum bertemu saja sudah rencana mau punya anak berapa. Duwh...cinta!
“ Iya, dua saja dan yang penting jangan satu, kalau boleh usul tambah dua lagi, “ Aku kembali melucu dan kami sama-sama tertawa. Ada sesuatu yang menyusup aneh dan itu indah sekali.
“ Iya, boleh, tapi kakak yang melahirkan, “ lagi-lagi tawanya pecah.
“ baik, kalau begitu, aku jadi kamu dan kamu jadi aku dengan kata lain operasi pemindahan kelamin dan kandungan.”   
Berlama-lama mengobrol kadang lupa waktu. Segala kenangan pahit di masa lalu sementara hilang. Kadang-kadang ibuku ikut nimbrung mengobrol. Katanya kami harus segera dinikahkan. Alasannya takut makin tua dan tak sempat menikahi kami. Ada-ada saja. Kadang di tengah-tengah asyik mengobrol, aku sering ketiduran. Saat aku sadar masih saja dia menunggu dan dia protes. Aku senang dia merajuk manja. Diajak bicara dia diam tanda protes. Kuberi tahu dia kalau suaranya saat mengobrol seperti sedang mendengar lagu paling indah atau, sedang mendengar lantuan ayat Al,qur’an paling merdu. Maka jangan heran kalau aku sampai ketiduran, aku berdalih dan sedikit gombal. Kakak jahat, begitu protesnya. Kuberi tahu dia bahwa aku menjadi jahat setelah mengenal dia dan kejahatanku yang paling besar adalah membuatnya jatuh cinta dan, dia senang mendengarnya. Ada-ada saja yang terjadi dalam kisah cinta. Maka tidak heran sepanjang sejarah, karena cinta, mereka yang bertangan besi akan berubah lembut. Mereka yang awalnya hidup mengagungkan kesenangan rela meninggalkan kesenangan itu demi cintanya. Aku ingat dengan jelas, dulu ketika orang-orang seluruh dunia demam  kisahnya “Titanic” dimana karya besar itu mengisahkan tentang cinta yang sedemikian indah dan juga menyakitkan. Tentang arti sebuah pengorbanan. Kegilaan yang ditimbulkan cinta ini sungguh di luar dugaan. Film yang pertama kali diputar 1 November 1997 di Tokyo International Film Festival, yang kedua tanggal 19 Desember 1997 di Amerika serikat dan di Indonesia sendiri diputar pada tanggal 5 Januari 1998. Anggaran  pembuatannya cukup besar, 200 Juta Dolar. Sebuah epik, Roman dan bencana tentang kisah cinta antara Jack dan Rose yang berstatus sosial berbeda di atas kapal RMS Titanic. Dikisahkan pada bulan April 1912, Rose ( Saat itu bernama Rose Dewitt Bukater)yang masih berusia 17 Tahun menaiki RMS Tiitanic sebagai penumpang Kelas satu bersama ibunya, Ruth Dewitt Bukater, dan tunangannya, Caledon Nathan Hockley ( Cal ), seorang pengusaha sukses di bidang Industri. Rose tidak mencintai Cal, tetapi ibunya memaksanya untuk menikahinya karena masalah keuangan dan kehormatan keluarga. Di saat yang sama, seorang lelaki bernama Jack Dawson memenangkan tiket kelas tiga dalam permainan poker dan ikut serta dalam pelayaran perdana Titanic dari Southhampton menuju New York. Di atas Kapal, Rose yang tidak bahagia atas pertunangannya dan juga kehidupannya yang terkekang memutuskan untuk bunuh diri dengan cara terjun dari buritan kapal. Jack melihat peristiwa itu dan berhasil menghalanginya. Atas hal ini, dengan keberatan Cal mengundang Jack makan malam bersama mereka untuk keesokan harinya pada acara jamuan di kelas satu untuk membalas jasanya. Singkat cerita, Rose dan Jack menjalin persahabatan dan saling berbagi pengalaman serta kisah hidup mereka. Jack menceritakan petualangannya sebagai seorang pelukis sementara Rose berbagi kisah soal keputusasaan dan penderitaannya. Ikatan mereka semakin kuat saat mereka melarikan diri dari jamuan makan malam di kelas satu dan ikut serta dalam pesta penumpang kelas tiga. Lambat laun, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Jack kini telah jatuh cinta pada Rose, namun Rose cenderung tidak mempedulikan perasaan antara mereka yang semakin menebal karena pertunangannya dan juga status sosialnya. Tetapi Rose akhirnya memutuskan untuk melepaskan semua itu dan menyerahkan cintanya kepada Jack. Pada suatu malam, Rose meminta Jack melukis dirinya dengan hanya memakai kalung berlian “ Heart of the Ocean” , lukisan yang sama ditemukan oleh para pemburu harta karun 84 tahun kemudian. Di saat yang sama, kapten Edward J. Smith dan kru-nya seolah-olah tidak menghiraukan peringatan tentang Gunung Es yang berada dalam jalur pelayaran yang dilalui oleh Titanic. Malahan, atas perintah Joseph Bruce Ismay, direktur perusahaan White Star Line, Titanic semakin mempercepat lajunya meskipun pada saat itu malam hari. Pada malam 14 April 1912, dua orang pengawas kapal melihat bongkahan gunung es besar persis di depan jalur Titanic dan memberi tahu anjungan. First Officer William Murdoch memerintahkan kapal dibelokkan dan mesin dimundurkan, tetapi sudah terlambat; sisi kanan Titanic menabrak gunung es, sehingga menciptakan serangkaian lubang di bawah garis air. Lima kompartemen kedap air kapal bocor. Semakin jelas bahwa kapal ini terancam, karena kapal ini tidak bisa selamat jika lebih dari empat kompartemen bocor. Sementara itu, Cal telah mengetahui hubungan antara Jack dan Rose. Cal yang sangat marah lalu merancang  jebakan untuk memfitnah Jack seolah-olah mencuri berliannya. Walaupun Rose berpeluang untuk menyelamatkan diri lebih awal dari bencana kapal dengan menaiki sekoci bersama ibunya, dia memilih untuk kabur dari Cal---dan juga peluangnya untuk menyelamatkan diri dari sekoci---untuk mencari dan menyelamatkan Jack yang diborgol ke tiang di dek bawah oleh Lovejoy, kaki tangan Cal. Jack berhasil dilepaskan dan kini mereka harus keluar dari sana dengan cepat. Mereka berhadapan dengan banyak halangan termasuk pintu yang terkunci dan kemarahan Cal yang memaksa mereka kembali ke dek bawah. Mereka berhasil naik ke dek atas tetapi sekoci sudah tidak ada, memaksa mereka bersama ratusan penumpang lain yang ketakutan mencari ruang untuk bertahan sebelum Titanic tenggelam sepenuhnya ke dalam dasar samudera Atlantik. Buritan kapal tegak dan menjulang tinggi sehingga ketidakseimbangan berat membuat kapal patah jadi dua dan pada pukul 2.20 pagi tanggal 15 April 1912, bagian haluan kapal tenggelam sepenuhnya ke dasar laut dan diikuti oleh bagian buritan. Rose dan jack menceburkan diri ke dalam laut yang sangat dingin itu bersama dengan banyak penumpang lain. Hanya ada selembar papan yang cukup besar untuk seorang, mengambang tidak jauh dari mereka. Jack menaikan Rose dari papan itu, menyelamatkan jiwa kekasihnya itu dari suhu dingin yang mematikan, sementara ia berpegangan di sisi papan itu memegangi tangan Rose untuk menenangkannya. Rose dan Jack bersama dengan ratusan penumpang yang lain menunggu bantuan dari sekoci  yang tak kunjung datang di permukaan air. Ketika petugas di sekoci memutuskan untuk datang membantu, hampir semua penumpang telah tewas akibat Hipotermia.Rose kecewa karena Jack tidak mampu bertahan dan meninggalkannya. Dia mengucapkan selamat tinggal lalu melepaskan jasad Jack yang telah membeku ke dalam lautan, kemudian Rose memanggil sekoci yang selanjutnya datang menyelamatkannya. Iya, aku masih ingat dengan jelas kisah cinta yang ditampilkan dalam kisah ini. Waktu itu, aku menontonnya pertama kali waktu kelas satu Sekolah Menengah. Siapapun akan hanyut kedalamnya seperti hanyutnya sang kekasih Rose, Jack yang tak pernah kembali. Membawa pergi segenap nestapa abadi bersamanya. Kisah cinta yang berlangsung sebentar, namun darinya pecinta banyak belajar. Pengorbanan, kasih sayang dan yang paling penting tidak ada batasan apapun yang membatasi orang jatuh cinta, termasuk status sosial.

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar