Doro Raja 2
***
PAGI ini, seperti biasa, aku bangun lebih awal. Adzan
berkumandang bersahut-sahutan dari menara masjid yang sama tingginya dengan
bangunan-bangunan di samping kiri dan kanannya. Tidak lupa kujunjung subuh-ku yang dua rakaat itu sebagai
upaya untuk membedakan diriku di hadapan Tuhan dengan manusia lain yang dzolim.
Mungkin saja ini akan jadi bekal meraih jannah-Nya yang baunya saja bisa
tercium dari jarak 70 tahun perjalanan itu. Mungkin saja akan jadi pelindung
dari berkumpul dengan para pendengar khutbah penduduk surga yang meminta diri
turun ke bumi untuk menggoda manusia, iblis laknatullah di neraka kelak. Kewajiban
yang harus kutunaikan sebagai penyangga Agama Allah dari keruntuhannya. Tidak
lupa juga kubangunkan, Mawar, via
handphone untuk menunaikan sholatnya. Rutinitas yang tidak pernah luput
kulakukan semenjak mengenalnya, dan sudah menjadi kebiasaan. Kadang aku
terlambat bangun karena harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaanku hingga
larut malam, dan dia bangunkan. Kurasa hal yang paling romantis di altar
kehidupan ini bukan tentang Romantic kiss yang biasa didaratkan
di kening, atau Angel kiss yang dilakukan di dekat pelipis yang notabene
terkesan hangat dan penuh kasih itu. Bukan tentang warna pink sebuah boneka yang
menjadi favorit wanita sebagai hadiah ulang tahunnya, dan bukan pula bagusnya
jaket kulit bermerek yang diminati oleh kaum pria. Hal paling romantis bagiku
adalah menikmati rajukan seorang wanita karena diganggu tidurnya untuk
menunaikan sholatnya, “Sayang, bangun! Sudah adzan dan tunaikan sholatnya.
Nanti kalau sudah berkeluarga, kita sudah lebih dulu melatih diri sebelum kita
melatih anak-anak kita untuk mengenal tuhannya.” Kalau mau sesuatu yang lebih
romantis lagi, perkenalkan kepada wanitamu bagaimana berpakaian yang baik.
Belikan mereka jilbab dan kirimi dengan menyertakan tulisan ‘Pakaian istri
adalah kemulian suami’ di pinggir sampul kadonya, atau di sehelai kertas
berwarna jingga yang diselipkan di sela-sela jilbab tadi. Kalimat-kalimat dan
hadiah ini jauh lebih romantis, bahkan sangat ajaib lebih dari sekadar adagium.
Bentangan lengan berwarna saga di ufuk timur menjamuku. Percikan
sinarnya memantul pada dinding-dinding. Memanggilku untuk menyongsongnya lewat
kokok ayam jantan, atau lewat tawa burung pengisap madu. Embun berguguran di
dahan-dahan bunga karena guncangan yang ditimbulkan kaki mungil sang pengisap
madu. Tangis bayi yang baru saja sadar dari mimpi kecilnya sebagai penanda hari
baru. Anak-anak kecil dengan peci yang masih terpasang di kepala mereka asyik jalan-jalan
pagi dengan ayah dan ibunya. Guruku bilang, orang yang suka jalan pagi selama
15 sampai 20 menit akan menjadi sehat dan awet muda.
“Jemput, Kak! Sebentar lagi pertemuan dengan rekan-rekan
bisnis dimulai.”
“Aku baru saja mau mengeluarkan motor, sebentar lagi sampai
ke tempatmu.”
“Belikan makanan, ya, Kak! Belum sarapan, neh.”
“Iya, tanpa kamu kasih tahu pun aku akan belikan. Tahu
kenapa?”
“Tidak tahu, Kak!”
“Itu karena aku juga lapar.”
“Oh..., kukira mau mencuri-curi kesempatan makan berdua
sambil suap-suapan.”
“Itu salah satunya. Oya..., Pipit sedang apa?”
“Dia masih tidur, Kak. Usai subuh dia langsung tidur lagi.
Beberapa hari ini jarang tidur katanya.”
Hidup memang hanya diperuntukkan untuk sebuah perulangan. Kalau
itu tentang cinta pasti hanya berkutat pada masalah mencintai, dicintai, dan
selanjutnya ada bahagia dan kecewa. Di jalanan ini, orang-orang ramai memulai mengulang
kegiatan yang itu-itu saja. Mengantor, absen, kerja dan pulang. Mereka
berkelompok sesuai profesi dan kelasnya. Seorang dokter bergaul sesama dokter.
Anak jalanan dengan sesama anak jalanan. Besoknya lagi masih melakoni kegiatan
yang sama, besoknya lagi, lagi dan lagi hingga tiba waktunya pulang ke suatu
tempat yang asing dan tidak pernah kembali. Mengantor di sebuah kantor yang
gelap. Sendirian di sebuah jalan yang teramat sepi dan sangat jauh. Seperti
tetua bilang ‘Ramai kese, dula kese’ (datang sendiri dan pulang pun sendiri). Bahkan
di jalanan ini, banyak yang dihianati takdir, tergeletak tanpa nyawa, mati,
usai. Perulangan itu betapa menjemukan, dan betapa indah bagi sebagian yang
lain. Kita dihadirkan di muka bumi sebagai manusia yang memiliki batas
kemampuan. Diracik sedemikian rupa hanya melakoni sebuah perulangan sepanjang hayatnya.
Bercengkrama dengan anak-anak dan istri bagi yang sudah berkeluarga sepulang
kerja. ‘Kalalo kai maki ra hompa’ begitu kata orang Bima. Bertanya-tanya, kapan
peristiwa penting yang mengubah statusnya dari pacaran menjadi suami-istri, dan
menjadi seorang ayah dan ibu bagi yang masih sendiri. Hanya itu-itu saja, tidak terkecuali diriku.
Hari ini, aku sedang melakoni perulangan itu setelah ia sempat pergi dariku.
Mencintai dan merasakan lagi getarannya. Masih di kota ini, dan bedanya kali
ini dengan orang lain. Orang baru yang sedang menjamah hatiku. Di jalanan ini,
entah berapa ribu kali aku menapaknya. Bila perlu mengendarai kendaraan di atas
jalan ini dengan mata tertutup masih bisa kulakukan saking seringnya. Ini bentuk
racikan Tuhan, di balik sifat tergesa-gesanya, manusia dititahkan kesabaran
dalam dirinya agar perulangan ini dirasa tidak begitu menjemukan. Memasuki
gerbang sebuah sekolah dan di pintu gerbangnya terpampang nama sekolah tersebut
yang ditulis dengan huruf balok. Sebuah sekolah kejuruan di mana anak-anak
bangsa mengukir prestasi dan tempatnya menimba ilmu untuk menyongsong masa
depannya, SMK 2 Kota Bima. Di tempat inilah, Mawar dan teman—teman bisnisnya mengadakan
pertemuan. Sebuah aula yang hanya cukup menampung dua ratus orang. Di depannya
berdiri sebuah bangunan tempat disahkannya sepasang kekasih yang berstatus
pacaran menjadi suami-istri sekaligus yang mengesahkan sebuah majelis
perceraian secara agama dan hukum, Pengadilan Agama. Tempat yang menjadi saksi
bisu dilangsungkannya sebuah ikatan resmi yang membahagiakan sekaligus
mengesahkan sebuah perpisahan yang paling menyakitkan. Menjunjung titah Tuhan
agar menyempurnakan separuh dien-Nya dan menjadi bagian dari Ummat Rasul-Nya.
Ini adalah bagian yang membahagiakan. Sedihnya, jika dalam mengarungi bahtera
rumah tangga dirasa paling menyakitkan, maka perceraian akan menjadi jalan
satu-satunya untuk mengakhirinya. Jalan yang akan dipilih setelah semua jalan
kebaikan untuk memperbaiki keadaan dicoba. Ada kesamaan antara perceraian dan
perang. Dalam pidatonya, The Audacity of Hope, Barack Obama menuturkan
bahwa perang memang kadang-kadang harus menjadi pilihan, tetapi tidak pernah
menjadi pilihan pertama. Perceraian tidak pernah jadi pilihan pertama dalam
sejarah kehidupan manusia. Perkara halal yang sangat dibenci Allah itu, akan
dipilih jikalau pengharapan tidak terpenuhi dalam kehidupan rumah tangga.
Kehidupan kaum urban sedemikian canggih hingga mengubah cara berpikirnya, bahwa
menikah itu akan menyenangkan dan bersenang-senang, bahagia setiap waktu dan
terus bersukacita selamanya. Padahal itu adalah awal kehidupan yang lebih sulit
dan baru saja dimulai. Hal yang luput dari kesadaran mereka. Rumput tetangga
lebih hijau, katanya, hingga mengampuni kesalahan saja sulit. Yang salah, maka
akuilah, dan ketika benar pun, maka katakan juga maaf. Itu seharusnya. Uang,
ya, benda ini tampak tidak berbahaya, namun dapat menuntun pada masalah yang
lebih besar. Jarang sekarang ada istri yang mengatakan “jangan engkau beri
makan aku kecuali yang halal dari apa yang engkau peroleh, dan dari usahamu
yang diridhoi Tuhan.” Jarang ada suami
yang berpikir menyejahterakan istri dan anak-anaknya dengan jalan yang halal. Kualitas
orang tua menentukan kualitas anak-anak. Mereka lebih suka malas-malasan di
rumah daripada menjemput rezeki. Memaksa wanita yang berlabel istri ini menjadi
tenaga kerja di luar negeri, atau bekerja apa saja dan tidak peduli halal atau
haram. Padahal ketentuan yang ditetapkan dalam islam, istri hanya menjaga
anak-anak dan harta suami dan membelanjakannya dengan baik. Adapun mereka
bekerja menghasilkan uang yang lebih besar untuk memperbaiki ekonomi itu adalah
bonus yang patut disyukuri. Hebatnya wanita, dia mampu melakukan peran ganda,
ini luar biasa. Menjadi seorang anak, seorang istri, seorang ibu juga seorang
wanita karier.
“Kalau sudah selesai pertemuannya, ditelepon, ya!”
“Bukannya, Kakak harus menungguku di sini sampai pertemuan
selesai.”
“Gantiin satpam maksudmu?”
“Lalu, siapa coba yang pernah mengatakan ‘I always by your
side’ setiap saat itu?”
“Tentu saja itu aku, tapi tidak harus menemanimu buang
hajat, kan? Apa kata orang-orang kalau misalnya aku mengekorimu sedang
presentasi di depan, atau hanya menikmati harum bokongmu yang pernah engkau
banggakan itu?” Aku tertawa sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Benar aku mencintaimu, dan kebenarannya seperti teori,
Christopher Columbus, bahwa bumi bulat. Bila berlayar di timur akan sampai di
barat,” tambahku.
“Cinta jenis apalagi itu?”
“Bila aku ke timur, ke selatan, ke utara, ke barat, atau ke
mana saja, maka aku akan tetap sampai di sini, di hatimu. Tak ada yang mampu
menghalangiku dari memilikimu, kecuali jika kau yang meminta kupergi.” Kutunjuk
hatinya yang tersembunyi dalam rongga dadanya. Dia menatapku. Mungkin dalam
hatinya, aku ini adalah lelaki seperti apa, atau betapa romantisnya lelaki ini.
“Iya, sudah, Kakak tunggu saja di kos-kosan, dan nanti
kukabari kalau sudah selesai.”
“Nanti ke rumah, ya. Aku mau memperkenalkanmu sama orang
tuaku.”
“Iya, tapi..., aku tidak membawa apa-apa, Kak?”
“Tidak usah bawa apa-apa. Cukup bawa senyummu itu sebagai
oleh-oleh buat mereka.”
“Iya, sudah kalau begitu. Kakak pulang dan istrahat saja
dulu. Acaranya sudah dimulai.”
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar