Kamis, 08 Oktober 2015

Doro Raja 2


***
PAGI ini, seperti biasa, aku bangun lebih awal. Adzan berkumandang bersahut-sahutan dari menara masjid yang sama tingginya dengan bangunan-bangunan di samping kiri dan kanannya. Tidak lupa kujunjung subuh-ku yang dua rakaat itu sebagai upaya untuk membedakan diriku di hadapan Tuhan dengan manusia lain yang dzolim. Mungkin saja ini akan jadi bekal meraih jannah-Nya yang baunya saja bisa tercium dari jarak 70 tahun perjalanan itu. Mungkin saja akan jadi pelindung dari berkumpul dengan para pendengar khutbah penduduk surga yang meminta diri turun ke bumi untuk menggoda manusia, iblis laknatullah di neraka kelak. Kewajiban yang harus kutunaikan sebagai penyangga Agama Allah dari keruntuhannya. Tidak lupa juga kubangunkan, Mawar,  via handphone untuk menunaikan sholatnya. Rutinitas yang tidak pernah luput kulakukan semenjak mengenalnya, dan sudah menjadi kebiasaan. Kadang aku terlambat bangun karena harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaanku hingga larut malam, dan dia bangunkan. Kurasa hal yang paling romantis di altar kehidupan ini bukan tentang Romantic kiss yang biasa didaratkan di kening, atau Angel kiss yang dilakukan di dekat pelipis yang notabene terkesan hangat dan penuh kasih itu. Bukan tentang warna pink sebuah boneka yang menjadi favorit wanita sebagai hadiah ulang tahunnya, dan bukan pula bagusnya jaket kulit bermerek yang diminati oleh kaum pria. Hal paling romantis bagiku adalah menikmati rajukan seorang wanita karena diganggu tidurnya untuk menunaikan sholatnya, “Sayang, bangun! Sudah adzan dan tunaikan sholatnya. Nanti kalau sudah berkeluarga, kita sudah lebih dulu melatih diri sebelum kita melatih anak-anak kita untuk mengenal tuhannya.” Kalau mau sesuatu yang lebih romantis lagi, perkenalkan kepada wanitamu bagaimana berpakaian yang baik. Belikan mereka jilbab dan kirimi dengan menyertakan tulisan ‘Pakaian istri adalah kemulian suami’ di pinggir sampul kadonya, atau di sehelai kertas berwarna jingga yang diselipkan di sela-sela jilbab tadi. Kalimat-kalimat dan hadiah ini jauh lebih romantis, bahkan sangat ajaib lebih dari sekadar adagium.
Bentangan lengan berwarna saga di ufuk timur menjamuku. Percikan sinarnya memantul pada dinding-dinding. Memanggilku untuk menyongsongnya lewat kokok ayam jantan, atau lewat tawa burung pengisap madu. Embun berguguran di dahan-dahan bunga karena guncangan yang ditimbulkan kaki mungil sang pengisap madu. Tangis bayi yang baru saja sadar dari mimpi kecilnya sebagai penanda hari baru. Anak-anak kecil dengan peci yang masih terpasang di kepala mereka asyik jalan-jalan pagi dengan ayah dan ibunya. Guruku bilang, orang yang suka jalan pagi selama 15 sampai 20 menit akan menjadi sehat dan awet muda.
“Jemput, Kak! Sebentar lagi pertemuan dengan rekan-rekan bisnis dimulai.”
“Aku baru saja mau mengeluarkan motor, sebentar lagi sampai ke tempatmu.”
“Belikan makanan, ya, Kak! Belum sarapan, neh.”
“Iya, tanpa kamu kasih tahu pun aku akan belikan. Tahu kenapa?”
“Tidak tahu, Kak!”
“Itu karena aku juga lapar.”
“Oh..., kukira mau mencuri-curi kesempatan makan berdua sambil suap-suapan.”
“Itu salah satunya. Oya..., Pipit sedang apa?”
“Dia masih tidur, Kak. Usai subuh dia langsung tidur lagi. Beberapa hari ini jarang tidur katanya.”
Hidup memang hanya diperuntukkan untuk sebuah perulangan. Kalau itu tentang cinta pasti hanya berkutat pada masalah mencintai, dicintai, dan selanjutnya ada bahagia dan kecewa. Di jalanan ini, orang-orang ramai memulai mengulang kegiatan yang itu-itu saja. Mengantor, absen, kerja dan pulang. Mereka berkelompok sesuai profesi dan kelasnya. Seorang dokter bergaul sesama dokter. Anak jalanan dengan sesama anak jalanan. Besoknya lagi masih melakoni kegiatan yang sama, besoknya lagi, lagi dan lagi hingga tiba waktunya pulang ke suatu tempat yang asing dan tidak pernah kembali. Mengantor di sebuah kantor yang gelap. Sendirian di sebuah jalan yang teramat sepi dan sangat jauh. Seperti tetua bilang ‘Ramai kese, dula kese’ (datang sendiri dan pulang pun sendiri). Bahkan di jalanan ini, banyak yang dihianati takdir, tergeletak tanpa nyawa, mati, usai. Perulangan itu betapa menjemukan, dan betapa indah bagi sebagian yang lain. Kita dihadirkan di muka bumi sebagai manusia yang memiliki batas kemampuan. Diracik sedemikian rupa hanya melakoni  sebuah perulangan sepanjang hayatnya. Bercengkrama dengan anak-anak dan istri bagi yang sudah berkeluarga sepulang kerja. ‘Kalalo kai maki ra hompa’ begitu kata orang Bima. Bertanya-tanya, kapan peristiwa penting yang mengubah statusnya dari pacaran menjadi suami-istri, dan menjadi seorang ayah dan ibu bagi yang masih sendiri.  Hanya itu-itu saja, tidak terkecuali diriku. Hari ini, aku sedang melakoni perulangan itu setelah ia sempat pergi dariku. Mencintai dan merasakan lagi getarannya. Masih di kota ini, dan bedanya kali ini dengan orang lain. Orang baru yang sedang menjamah hatiku. Di jalanan ini, entah berapa ribu kali aku menapaknya. Bila perlu mengendarai kendaraan di atas jalan ini dengan mata tertutup masih bisa kulakukan saking seringnya. Ini bentuk racikan Tuhan, di balik sifat tergesa-gesanya, manusia dititahkan kesabaran dalam dirinya agar perulangan ini dirasa tidak begitu menjemukan. Memasuki gerbang sebuah sekolah dan di pintu gerbangnya terpampang nama sekolah tersebut yang ditulis dengan huruf balok. Sebuah sekolah kejuruan di mana anak-anak bangsa mengukir prestasi dan tempatnya menimba ilmu untuk menyongsong masa depannya, SMK 2 Kota Bima. Di tempat inilah, Mawar dan teman—teman bisnisnya mengadakan pertemuan. Sebuah aula yang hanya cukup menampung dua ratus orang. Di depannya berdiri sebuah bangunan tempat disahkannya sepasang kekasih yang berstatus pacaran menjadi suami-istri sekaligus yang mengesahkan sebuah majelis perceraian secara agama dan hukum, Pengadilan Agama. Tempat yang menjadi saksi bisu dilangsungkannya sebuah ikatan resmi yang membahagiakan sekaligus mengesahkan sebuah perpisahan yang paling menyakitkan. Menjunjung titah Tuhan agar menyempurnakan separuh dien-Nya dan menjadi bagian dari Ummat Rasul-Nya. Ini adalah bagian yang membahagiakan. Sedihnya, jika dalam mengarungi bahtera rumah tangga dirasa paling menyakitkan, maka perceraian akan menjadi jalan satu-satunya untuk mengakhirinya. Jalan yang akan dipilih setelah semua jalan kebaikan untuk memperbaiki keadaan dicoba. Ada kesamaan antara perceraian dan perang. Dalam pidatonya, The Audacity of Hope, Barack Obama menuturkan bahwa perang memang kadang-kadang harus menjadi pilihan, tetapi tidak pernah menjadi pilihan pertama. Perceraian tidak pernah jadi pilihan pertama dalam sejarah kehidupan manusia. Perkara halal yang sangat dibenci Allah itu, akan dipilih jikalau pengharapan tidak terpenuhi dalam kehidupan rumah tangga. Kehidupan kaum urban sedemikian canggih hingga mengubah cara berpikirnya, bahwa menikah itu akan menyenangkan dan bersenang-senang, bahagia setiap waktu dan terus bersukacita selamanya. Padahal itu adalah awal kehidupan yang lebih sulit dan baru saja dimulai. Hal yang luput dari kesadaran mereka. Rumput tetangga lebih hijau, katanya, hingga mengampuni kesalahan saja sulit. Yang salah, maka akuilah, dan ketika benar pun, maka katakan juga maaf. Itu seharusnya. Uang, ya, benda ini tampak tidak berbahaya, namun dapat menuntun pada masalah yang lebih besar. Jarang sekarang ada istri yang mengatakan “jangan engkau beri makan aku kecuali yang halal dari apa yang engkau peroleh, dan dari usahamu yang diridhoi Tuhan.”  Jarang ada suami yang berpikir menyejahterakan istri dan anak-anaknya dengan jalan yang halal. Kualitas orang tua menentukan kualitas anak-anak. Mereka lebih suka malas-malasan di rumah daripada menjemput rezeki. Memaksa wanita yang berlabel istri ini menjadi tenaga kerja di luar negeri, atau bekerja apa saja dan tidak peduli halal atau haram. Padahal ketentuan yang ditetapkan dalam islam, istri hanya menjaga anak-anak dan harta suami dan membelanjakannya dengan baik. Adapun mereka bekerja menghasilkan uang yang lebih besar untuk memperbaiki ekonomi itu adalah bonus yang patut disyukuri. Hebatnya wanita, dia mampu melakukan peran ganda, ini luar biasa. Menjadi seorang anak, seorang istri, seorang ibu juga seorang wanita karier.
“Kalau sudah selesai pertemuannya, ditelepon, ya!”
“Bukannya, Kakak harus menungguku di sini sampai pertemuan selesai.”
“Gantiin satpam maksudmu?”
“Lalu, siapa coba yang pernah mengatakan ‘I always by your side’ setiap saat itu?”
“Tentu saja itu aku, tapi tidak harus menemanimu buang hajat, kan? Apa kata orang-orang kalau misalnya aku mengekorimu sedang presentasi di depan, atau hanya menikmati harum bokongmu yang pernah engkau banggakan itu?” Aku tertawa sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Benar aku mencintaimu, dan kebenarannya seperti teori, Christopher Columbus, bahwa bumi bulat. Bila berlayar di timur akan sampai di barat,” tambahku.
“Cinta jenis apalagi itu?”
“Bila aku ke timur, ke selatan, ke utara, ke barat, atau ke mana saja, maka aku akan tetap sampai di sini, di hatimu. Tak ada yang mampu menghalangiku dari memilikimu, kecuali jika kau yang meminta kupergi.” Kutunjuk hatinya yang tersembunyi dalam rongga dadanya. Dia menatapku. Mungkin dalam hatinya, aku ini adalah lelaki seperti apa, atau betapa romantisnya lelaki ini.
“Iya, sudah, Kakak tunggu saja di kos-kosan, dan nanti kukabari kalau sudah selesai.”
“Nanti ke rumah, ya. Aku mau memperkenalkanmu sama orang tuaku.”
“Iya, tapi..., aku tidak membawa apa-apa, Kak?”
“Tidak usah bawa apa-apa. Cukup bawa senyummu itu sebagai oleh-oleh buat mereka.”
“Iya, sudah kalau begitu. Kakak pulang dan istrahat saja dulu. Acaranya sudah dimulai.”
Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar