Selasa, 06 Oktober 2015

KABAR DARI SEBERANG 2


Pagi ini, aku mendapati diriku tertidur di meja komputerku. Layarnya masih dalam keadaan nyala. Kuperiksa puisi yang kubuat semalam. Masih belum selesai. Tubuhku terasa ngilu. Kepalaku berat. Dengan perasaan limbung kususuri kamar mandi dengan membawa handuk sekenanya. Aku ingat hari ini ada janji sama teman untuk menonton konser di “ Convention Hall” paruga Na’e. Konser  yang bertujuan untuk menggalang dana bagi palestina ini kabarnya akan ramai pengunjung dan dimeriahkan oleh Opick dan Fadly padi.

“ Sekarang posisinya dimana, Bung? Tanya temanku lewat sms

“ Tunggu saja,  aku masih di kos dan sedang ingin kesana, “ balasku

“ Aku sudah di tempat konser, “ balasnya

“ Tunggu saja di situ, Bung! Aku akan segera menuju lokasi.”

Kawan! Temanku ini namanya Zainal. Dia adalah seorang KPK Intelligence Service yang secara khusus ditugasi untuk menyelidiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di bima. Berpenampilan sangat sederhana. kami saling mengenal tak sengaja beberapa bulan yang lalu di sebuah Cafe. Belakangan aku mengetahui jati dirinya setelah beberapa hari yang lalu. Aku penasaran kenapa polisi-polisi begitu menghormatinya dan kadang memergokinya tengah berbincang-bincang dengan orang-orang penting. Aku beranikan diri mengutak-atik dompetnya waktu dia mandi dan disana kutemukan jati dirinya yang sebenarnya dari Kartu Anggota yang dia punya. Tentunya aku rapikan dompet dan isinya dalam keadaan aman setelahnya.
Aku kembali menapaki jalanan kota Bima yang berkelok-kelok. Kembali mengukurnya dengan ban motorku. Jalanan kota yang tertata rapi dan diapit gedung-gedung kota yang semakin lama memberi kesan bahwa kota bima sudah sedemikian gagah berdiri. Lima belas menit aku sampai di tempat konser setelah melewati sebuah taman kecil yang memisah pengguna kendaraan yang datang dari arah timur dan barat. Taman ini hanya berisi bunga kamboja dan bunga-bunga kecil lainnya. Tapi, setidaknya ini memberi kenyamaan bagi mata. Aku melewati sebuah selasar yang tidak terlalu luas. Kiri dan kanan terdapat hamparan luas yang sedikit di isi bunga-bunga di setiap tepiannya. Di malam hari tempat ini biasa digunakan oleh muda-mudi bahkan yang berusia senja sebagai tempat nongkrong, nge-teh, ngopi atau, sekedar menunggu waktu tidur. Di samping kiri gedung  convention hall yang oleh orang bima menyebutnya “ Paruga Na’e” berdiri kokoh sebuah tower panjat tebing yang dipakai bagi penggila olahraga climbing hill. Aku memasuki gedung konser. Cukup ramai. Kurasakan kesejukan menyelimuti seluruh tubuhku. Udara dingin yang keluar dari celah-celah AC menelan semua peluhku. Gedung ini berdiri megah di atas kesederhanaannya. Di dalam ruangan terdapat beberapa tiang penyangga raksasa. Serupa balairung pertemuan Walaupun tidak begitu luas, tapi cukup menampung ribuan orang. Di langit-langitnya terpasang ratusan lampu-lampu yang menyerupai aurora di malam tanpa bulan. Aku menyukainya. Sayangnya, gedung yang biasa terbuka untuk umum dan menjadi tempat asah kreatifitas ini telah diubah wajahnya menjadi bangunan yang tertutup. Serupa manusia yang bungkam setelah disuap dengan Rupiah, lalu terisolasi dari keramaian, menyepi dan terbuang. Bangunan yang menjadi satu-satunya tempat diselenggarakan pagelaran budaya, ruang psikologi dan berbagai bentuk kreatifitas ini harus tertutup dari umum. Menurut berbagai sumber, perubahan wajah bangunan ini, sebagai tempat untuk menyambut kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota seluruh Indonesia ( Apeksi ) tahun 2012 lalu dan, dimana kota Bima ditunjuk sebagai tuan rumah.  Alasan yang tidak begitu tepat.

Dengan memegang bendera mini di tangannya, Zainal melambaikan tangannya ke arahku. Satu bendera dengan warna berbeda, di samping kiri warna bendera Palestina: hitam, putih, biru dan merah di tengah depan dan samping kanan bendera Indonesia, merah putih. Aku cukup haru melihat pengunjung dengan menampakan wajah surga. Semua yang duduk di depan berjilbab panjang dan hanya beberapa yang berjilbab biasa serta ada yang tidak berjilbab dan mereka lebih suka cengar-cengir di barisan paling belakang. Mereka nyaman dengan celana jeans ketat yang membuat lekuk-lekuk tubuhnya mencuat. Mereka terlihat bangga sekali. Aku merasa gedung ini serupa pengadilan tuhan, dimana mereka yang beramal sholeh dan sholehah berada di depan dan dekat dengan sisi tuhan, sedangkan yang lainnya jauh dari belakang menunggu nasib.  Ini sudah jelas mengukuhkan perbedaan di antara mereka. Mana yang secara penuh mengenal tuhannya, mana yang setengah-setangah dan jelas mana yang tidak tahu sama sekali atau, tidak mau tahu. Di deretan sebelah kanan duduk pria-pria berjanggut dengan rupa berbeda. Peci di kepalanya memesona.  Wajahnya damai. Ada warna surga di sana. Apa yang kulihat Jelas memberi ruang dan jarak antara yang munafik dan yang hanif. Betapa wajah-wajah wanita dalam gedung ini adalah wajah-wajah surga yang kuimpikan menjadi bagian dalam hidupku. Wanita yang mengenakan pakaian syar’i dan secara kaffah. Wanita dengan sosok seperti ini yang tengah mengganggu tidurku. Tatapnya damai, suaranya lembut. Aku larut dalam imajiku, sedang Fadly, sang fokalis dari Grup Band Padi sedang melantunkan lagu Insya Allah-nya Maher Zain. Dan, aku larut dalam keduanya: Imajinasiku tentang wanita berwajah surga dan suaranya Fadly sang fokalis. Aku gamang berada di antara orang-orang ini. Betapa aku terlihat hina mengingat ibadahku yang pasang-surut. Kadang rajin kadang tidak dan, melebur dengan kehidupan kaum urban di kota ini malah mengurangi ibadahku. Mengurangi kepercayaan diriku, walaupun hanya sekedar berimajinasi  memiliki wanita berwajah surga yang kuimpikan itu. Wanita baik-baik akan diperuntukan bagi lelaki baik-baik dan begitu sebaliknya. Begitu keadilan tuhan tidak akan pernah terbantahkan dan dengannya, sekali lagi, aku gamang walaupun hanya berimajinasi memiliki wanita berwajah surga itu, mengingat siapa diriku.
Kini, waktu surut dihisap gaduh. Aku tidak merasa waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa aku sudah berdiri mematung di tempat ini selama hampir 4 jam.

“ Hei, Bung! Melamun saja dari tadi?” Zainal memecah kesunyian di tengah-tengah opick menyudahi lagunya.

“ Aku sedang berpikir keras, bung! “ aku menimpali.

“ Engkau berpikir keras tentang apa? Wajah lembek begitu berpikir keras, yang tepat itu kau sedang berkhayal, “ Zainal menimpali antara bertanya dan mengolok.

“ Kau tidak lihat, Bung! Betapa orang-orang ini meninggalkan kepentingan pribadinya demi agama Allah. Segenap tenaga berjuang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk saudara seiman dan seagamanya di seberang sana. Aku sedang meneka-nerka, kesabaran seperti apa yang bersemayam dalam hatinya hingga sedemikian ikhlas berjuang dan berbagi seperti ini. Coba lihat! Ibu-ibu yang menyumbang puluhan juta rupiah itu. Nah, yang tak kalah hebatnya lagi, lihat anak-anak yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak itu. Mereka menyumbang melebihi kemampuan yang dewasa. Aku iri kenapa aku tidak dididik untuk mencintai sedekah sejak dini seperti mereka? Tidakkah kita mengambil satu hikmah hari ini, bahwa sedekah itu indah, bahwa berbagi itu indah? “ Jawabku panjang lebar.

“ Kawan! Kita tak pernah tahu dengan jelas bagaimana mereka bisa sampai pada titik ini. Tapi, jelas mereka berkali-kali jatuh bangun melawan dirinya sendiri hingga menjadi mereka yang sekarang. Kau perlu banyak belajar, kawan! Ada pepatah yang mengatakan, bahwa roma tidak dibangun dalam sehari. Tentu mereka melewati hari-hari yang keras. Tidak langsung jadi seperti mereka yang sekarang.  Kau belajar untuk tidak menimang dirimu dengan cara-cara manja. Kau harus keras pada dirimu sendiri, kawan!” Zainal menasehatiku. Aku diam dan kubiarkan saja kata-katanya mengalir.

Puluhan wanita, anak-anak dan laki – laki berpeci telah memadati altar atas panggung guna memberikan sumbangannya. Lima juta, sepuluh juta, lima belas juta hingga mencapai total yang terkumpul 270 juta Rupiah. Menutup konser Amal itu, Opick menyanyikan lagu terakhirnya dengan mengajak seluruh penonton. Riuhnya bagai memecah ruangan hingga akhirnya, Opick menutup konser dengan ucapan ‘Alhamdulillah’ dan ‘salam’. Teriakan “ Allahu Akbar “ menggema dari ujung ke ujung. Serta merta puluhan penonton menyumbang. Seratus ribu rupiah, gelang, cincin, dan aku tidak mau kalah. Jam tangan kesayanganku harus ikhlas lepas dari singgasananya menuju karung yang menganga di tangan para rombongan.  Sesaat aku terkesima, setelah beberapa menit, Opick menutup konser, Syaikh Murweh Mouse Nasser Nasar, lelaki berperawakan tinggi besar dengan janggut putih panjang sampai dada. Ulama yang sengaja didatangkan dari palestina sendiri dan ikut dalam rombongan penggalangan dana berdo’a dalam Bahasa Arab dengan jari telunjuk kanan di hadapkan ke atas. Ini dalam pemaknaanku, bahwa ketentuan dan keputusan tentang hidup umat manusia dan segala isi serta masalahnya adalah mutlak urusan yang di atas. Aku bertanya pada rombongan, apakah aku boleh sedikit berbincang-bincang dengan beliau. Tapi memang tidak bisa. Aku mencari di internet pun tidak kutemukan profilnya. Belakangan aku tahu memang ulama-ulama penting di sana harus disembunyikan keberadaannya dari dunia luar mengingat kejahatan kemanusiaan yang terjadi di sana.

Pukul 4 sore, aku baru saja membanting tubuhku ke tempat tidur. Kembali kepalaku diisi wanita-wanita berhijab yang kulihat di ruang konser tadi. Tak kuhiraukan rasa lapar yang mendera. Badan terasa lemas. Kuingat suara halus mereka bernyanyi. Senyum damai yang mereka ukir. Jelas sekali lahir dari hati yang paling ikhlas. Satu pelajaran yang kupetik dari sebuah kelembutan, bahwa puncak keberhasilannya adalah kebaikan. Memang benar kelembutan itu harus dimulai dan dicapai dengan kelembutan.  Untuk memperoleh keikhlasan harus dimulai dengan keikhlasan itu sendiri. Dan, tentang penghargaan, maka kita akan dihargai sepadan dengan penghargaan yang kita beri. Kesalahan dalam menasehati adalah memulainya dengan caci-maki. Jelas tak ada kebaikan yang dibangun dari sebuah kekerasan, kecuali akan terdampar dalam kekerasan itu sendiri. Dari kedamaian wajah mereka aku belajar apa itu kedamaian tanpa harus mendengar. Aku lebih suka belajar pada kesunyian. Sebab, di sini, aku lebih banyak menemukan hikmah dan tauladan daripada harus mendengar teriakan dalam mimbar-mimbar majelis dakwah. Kesunyian bagiku adalah diam yang berbicara. Kesunyian adalah kedamaian.  

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar