Pagi ini, aku mendapati diriku tertidur di meja komputerku.
Layarnya masih dalam keadaan nyala. Kuperiksa puisi yang kubuat semalam. Masih
belum selesai. Tubuhku terasa ngilu. Kepalaku berat. Dengan perasaan limbung
kususuri kamar mandi dengan membawa handuk sekenanya. Aku ingat hari ini ada
janji sama teman untuk menonton konser di “ Convention Hall” paruga Na’e.
Konser yang bertujuan untuk menggalang
dana bagi palestina ini kabarnya akan ramai pengunjung dan dimeriahkan oleh
Opick dan Fadly padi.
“ Sekarang posisinya dimana, Bung? Tanya temanku lewat sms
“ Tunggu saja, aku
masih di kos dan sedang ingin kesana, “ balasku
“ Aku sudah di tempat konser, “ balasnya
“ Tunggu saja di situ, Bung! Aku akan segera menuju lokasi.”
Kawan! Temanku ini namanya Zainal. Dia adalah seorang KPK Intelligence Service yang secara
khusus ditugasi untuk menyelidiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di
bima. Berpenampilan sangat sederhana. kami saling mengenal tak sengaja beberapa
bulan yang lalu di sebuah Cafe. Belakangan aku mengetahui jati dirinya setelah
beberapa hari yang lalu. Aku penasaran kenapa polisi-polisi begitu
menghormatinya dan kadang memergokinya tengah berbincang-bincang dengan
orang-orang penting. Aku beranikan diri mengutak-atik dompetnya waktu dia mandi
dan disana kutemukan jati dirinya yang sebenarnya dari Kartu Anggota yang dia
punya. Tentunya aku rapikan dompet dan isinya dalam keadaan aman setelahnya.
Aku kembali menapaki jalanan kota Bima yang berkelok-kelok.
Kembali mengukurnya dengan ban motorku. Jalanan kota yang tertata rapi dan
diapit gedung-gedung kota yang semakin lama memberi kesan bahwa kota bima sudah
sedemikian gagah berdiri. Lima belas menit aku sampai di tempat konser setelah
melewati sebuah taman kecil yang memisah pengguna kendaraan yang datang dari
arah timur dan barat. Taman ini hanya berisi bunga kamboja dan bunga-bunga
kecil lainnya. Tapi, setidaknya ini memberi kenyamaan bagi mata. Aku melewati
sebuah selasar yang tidak terlalu luas. Kiri dan kanan terdapat hamparan luas
yang sedikit di isi bunga-bunga di setiap tepiannya. Di malam hari tempat ini
biasa digunakan oleh muda-mudi bahkan yang berusia senja sebagai tempat
nongkrong, nge-teh, ngopi atau, sekedar menunggu waktu tidur. Di samping kiri
gedung convention hall yang oleh orang bima menyebutnya “ Paruga Na’e”
berdiri kokoh sebuah tower panjat tebing yang dipakai bagi penggila olahraga climbing
hill. Aku memasuki gedung konser. Cukup ramai. Kurasakan kesejukan
menyelimuti seluruh tubuhku. Udara dingin yang keluar dari celah-celah AC
menelan semua peluhku. Gedung ini berdiri megah di atas kesederhanaannya. Di
dalam ruangan terdapat beberapa tiang penyangga raksasa. Serupa balairung
pertemuan Walaupun tidak begitu luas, tapi cukup menampung ribuan orang. Di
langit-langitnya terpasang ratusan lampu-lampu yang menyerupai aurora di malam
tanpa bulan. Aku menyukainya. Sayangnya, gedung yang biasa terbuka untuk umum
dan menjadi tempat asah kreatifitas ini telah diubah wajahnya menjadi bangunan
yang tertutup. Serupa manusia yang bungkam setelah disuap dengan Rupiah, lalu
terisolasi dari keramaian, menyepi dan terbuang. Bangunan yang menjadi
satu-satunya tempat diselenggarakan pagelaran budaya, ruang psikologi dan
berbagai bentuk kreatifitas ini harus tertutup dari umum. Menurut berbagai
sumber, perubahan wajah bangunan ini, sebagai tempat untuk menyambut kegiatan
Asosiasi Pemerintah Kota seluruh Indonesia ( Apeksi ) tahun 2012 lalu dan,
dimana kota Bima ditunjuk sebagai tuan rumah. Alasan yang tidak begitu tepat.
Dengan memegang bendera mini di tangannya, Zainal
melambaikan tangannya ke arahku. Satu bendera dengan warna berbeda, di samping
kiri warna bendera Palestina: hitam, putih, biru dan merah di tengah depan dan
samping kanan bendera Indonesia, merah putih. Aku cukup haru melihat pengunjung
dengan menampakan wajah surga. Semua yang duduk di depan berjilbab panjang dan
hanya beberapa yang berjilbab biasa serta ada yang tidak berjilbab dan mereka
lebih suka cengar-cengir di barisan paling belakang. Mereka nyaman dengan
celana jeans ketat yang membuat lekuk-lekuk tubuhnya mencuat. Mereka terlihat
bangga sekali. Aku merasa gedung ini serupa pengadilan tuhan, dimana mereka
yang beramal sholeh dan sholehah berada di depan dan dekat dengan sisi tuhan,
sedangkan yang lainnya jauh dari belakang menunggu nasib. Ini sudah jelas mengukuhkan perbedaan di
antara mereka. Mana yang secara penuh mengenal tuhannya, mana yang
setengah-setangah dan jelas mana yang tidak tahu sama sekali atau, tidak mau
tahu. Di deretan sebelah kanan duduk pria-pria berjanggut dengan rupa berbeda. Peci
di kepalanya memesona. Wajahnya damai.
Ada warna surga di sana. Apa yang kulihat Jelas memberi ruang dan jarak antara
yang munafik dan yang hanif. Betapa wajah-wajah wanita dalam gedung ini adalah
wajah-wajah surga yang kuimpikan menjadi bagian dalam hidupku. Wanita yang
mengenakan pakaian syar’i dan secara kaffah. Wanita dengan sosok seperti ini
yang tengah mengganggu tidurku. Tatapnya damai, suaranya lembut. Aku larut
dalam imajiku, sedang Fadly, sang fokalis dari Grup Band Padi sedang
melantunkan lagu Insya Allah-nya Maher Zain. Dan, aku larut dalam keduanya:
Imajinasiku tentang wanita berwajah surga dan suaranya Fadly sang fokalis. Aku
gamang berada di antara orang-orang ini. Betapa aku terlihat hina mengingat
ibadahku yang pasang-surut. Kadang rajin kadang tidak dan, melebur dengan
kehidupan kaum urban di kota ini malah mengurangi ibadahku. Mengurangi
kepercayaan diriku, walaupun hanya sekedar berimajinasi memiliki wanita berwajah surga yang kuimpikan
itu. Wanita
baik-baik akan diperuntukan bagi lelaki baik-baik dan begitu sebaliknya.
Begitu keadilan tuhan tidak akan pernah terbantahkan dan dengannya, sekali
lagi, aku gamang walaupun hanya berimajinasi memiliki wanita berwajah surga itu,
mengingat siapa diriku.
Kini, waktu surut dihisap gaduh. Aku tidak merasa waktu
begitu cepat berlalu. Tak terasa aku sudah berdiri mematung di tempat ini
selama hampir 4 jam.
“ Hei, Bung! Melamun saja dari tadi?” Zainal memecah
kesunyian di tengah-tengah opick menyudahi lagunya.
“ Aku sedang berpikir keras, bung! “ aku menimpali.
“ Engkau berpikir keras tentang apa? Wajah lembek begitu
berpikir keras, yang tepat itu kau sedang berkhayal, “ Zainal menimpali antara
bertanya dan mengolok.
“ Kau tidak lihat, Bung! Betapa orang-orang ini meninggalkan
kepentingan pribadinya demi agama Allah. Segenap tenaga berjuang mengumpulkan
rupiah demi rupiah untuk saudara seiman dan seagamanya di seberang sana. Aku
sedang meneka-nerka, kesabaran seperti apa yang bersemayam dalam hatinya hingga
sedemikian ikhlas berjuang dan berbagi seperti ini. Coba lihat! Ibu-ibu yang
menyumbang puluhan juta rupiah itu. Nah, yang tak kalah hebatnya lagi, lihat
anak-anak yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak itu. Mereka menyumbang melebihi
kemampuan yang dewasa. Aku iri kenapa aku tidak dididik untuk mencintai sedekah
sejak dini seperti mereka? Tidakkah kita mengambil satu hikmah hari ini, bahwa
sedekah itu indah, bahwa berbagi itu indah? “ Jawabku panjang lebar.
“ Kawan! Kita tak pernah tahu dengan jelas bagaimana mereka
bisa sampai pada titik ini. Tapi, jelas mereka berkali-kali jatuh bangun
melawan dirinya sendiri hingga menjadi mereka yang sekarang. Kau perlu banyak
belajar, kawan! Ada pepatah yang mengatakan, bahwa roma tidak dibangun dalam
sehari. Tentu mereka melewati hari-hari yang keras. Tidak langsung jadi seperti
mereka yang sekarang. Kau belajar untuk
tidak menimang dirimu dengan cara-cara manja. Kau harus keras pada dirimu
sendiri, kawan!” Zainal menasehatiku. Aku diam dan kubiarkan saja kata-katanya
mengalir.
Puluhan wanita, anak-anak dan laki – laki berpeci telah
memadati altar atas panggung guna memberikan sumbangannya. Lima juta, sepuluh juta,
lima belas juta hingga mencapai total yang terkumpul 270 juta Rupiah. Menutup
konser Amal itu, Opick menyanyikan lagu terakhirnya dengan mengajak seluruh
penonton. Riuhnya bagai memecah ruangan hingga akhirnya, Opick menutup konser
dengan ucapan ‘Alhamdulillah’ dan ‘salam’. Teriakan “ Allahu Akbar “ menggema
dari ujung ke ujung. Serta merta puluhan penonton menyumbang. Seratus ribu
rupiah, gelang, cincin, dan aku tidak mau kalah. Jam tangan kesayanganku harus
ikhlas lepas dari singgasananya menuju karung yang menganga di tangan para
rombongan. Sesaat aku terkesima, setelah
beberapa menit, Opick menutup konser, Syaikh Murweh Mouse Nasser Nasar, lelaki
berperawakan tinggi besar dengan janggut putih panjang sampai dada. Ulama yang
sengaja didatangkan dari palestina sendiri dan ikut dalam rombongan
penggalangan dana berdo’a dalam Bahasa Arab dengan jari telunjuk kanan di
hadapkan ke atas. Ini dalam pemaknaanku, bahwa ketentuan dan keputusan tentang
hidup umat manusia dan segala isi serta masalahnya adalah mutlak urusan yang di
atas. Aku bertanya pada rombongan, apakah aku boleh sedikit berbincang-bincang
dengan beliau. Tapi memang tidak bisa. Aku mencari di internet pun tidak
kutemukan profilnya. Belakangan aku tahu memang ulama-ulama penting di sana
harus disembunyikan keberadaannya dari dunia luar mengingat kejahatan
kemanusiaan yang terjadi di sana.
Pukul 4 sore, aku baru saja membanting tubuhku ke tempat
tidur. Kembali kepalaku diisi wanita-wanita berhijab yang kulihat di ruang
konser tadi. Tak kuhiraukan rasa lapar yang mendera. Badan terasa lemas.
Kuingat suara halus mereka bernyanyi. Senyum damai yang mereka ukir. Jelas
sekali lahir dari hati yang paling ikhlas. Satu pelajaran yang kupetik dari
sebuah kelembutan, bahwa puncak keberhasilannya adalah kebaikan. Memang benar
kelembutan itu harus dimulai dan dicapai dengan kelembutan. Untuk memperoleh keikhlasan harus dimulai
dengan keikhlasan itu sendiri. Dan, tentang penghargaan, maka kita akan
dihargai sepadan dengan penghargaan yang kita beri. Kesalahan dalam menasehati
adalah memulainya dengan caci-maki. Jelas tak ada kebaikan yang dibangun dari
sebuah kekerasan, kecuali akan terdampar dalam kekerasan itu sendiri. Dari
kedamaian wajah mereka aku belajar apa itu kedamaian tanpa harus mendengar. Aku
lebih suka belajar pada kesunyian. Sebab, di sini, aku lebih banyak menemukan
hikmah dan tauladan daripada harus mendengar teriakan dalam mimbar-mimbar
majelis dakwah. Kesunyian bagiku adalah diam yang berbicara. Kesunyian adalah
kedamaian.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar