NGGAHI RAWI PAHU 4
Hilir mudik kelelawar yang merebut
buah jambu di halaman telah usai. Tak ada lagi suara seng yang berdentum ketika
buah-buah jambu itu lepas dari cengkeraman mulut kelelawar, atau lepas dari
dahannya. Dari arah barat bau laut tercium dan suaranya bagai nelangsa nyanyian
burung yang kehilangan pasangannya, sementara suasana pagi masih bungkam dalam balutan dingin yang
menusuk-nusuk kulit. Aku tersadar dari
lelap dan kutangkap suara yang bersumber dari handphone-ku. Ada seseorang menelepon dan di layarnya
terpampang nomor baru.
“Assalamualaikum, Bang.”
“Iya, Waalaikum salam. Maaf dengan
siapa, ya?”
“Ini Zainab, Bang.”
“Zaenab mana, ya?”
“Itu, Bang, yang kemarin minta
bantuan belikan bensin.”
“Oh, iya, Zainab. Dapat nomor
handphone-ku dari siapa?”
“Kemarin sempat cerita kalau saya meminta pertolongan
sama abang, eh, ternyata orang yang saya ceritakan kenal sama Abang. Katanya
abang sepupuan sama dia. Dunia ini tidak seluas yang kukira, Bang.”
“Siapa, ya?”
“Atin, Bang. Dia satu kelas juga
denganku dan kami duduk di bangku yang sama.”
“Oh, iya, dia memang sepupuku.”
Aku memang punya sepupu yang kuliah di perguruan tinggi tempat zainab kuliah.
Atin adalah anak dari kakak perempuan Daengku. Anaknya yang ketiga.
“Maaf, ya, Zainab, aku harus
shubuhan dulu.”
“Owh..., iya, Bang.
Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Kupakai lagi jubah dingin yang
akan menyucikan tubuh fakir ini dari kotoran kehidupan. Udara dingin yang turun
melewati pematang senja kemarin belum juga reda. Meresap menembus
tulang-tulang. Kukirim dua kalimat sahadat setelahnya dengan tangan tengadah.
Kudapati embun turun dari wajahku yang basah, sementara seluruh ragaku
mengimaji dapat bersentuhan langsung dengan Rab-ku. Damai ketika wajah ini
kuhadapkan pada kiblat. Di sujud-sujudku yang panjang. Kudapati air mata yang
meleleh di sela-sela doaku. Lirih seperti puisi angin yang tak bersentuhan
dengan apapun. Iya, damai yang sebenarnya hanya bisa didapatkan di tempat ini.
Tidak harus dicari jauh-jauh. Di atas sajadah ini mengalir sungai-sungai yang
tenang. Damai di bawah rerimbun pohon. Jika di atas sajadah ini begitu
damainya, bagaimana nanti jika menggelar sajadah di jannah-Nya?
“Kemarin sudah ke rumah ayahnya?”
kakekku bertanya. Kakek adalah saudara lelaki dari orang tua ibuku, alias
saudara nenekku. Dia hidup menduda setelah dua tahun yang lalu ditinggal mati
oleh sang istri. Tinggal sendirian, maka kupilih rumahnya untuk menginap jika
sudah ada di desa di mana Mawar tinggal. Kadang dia sibuk mengurusi kucing
kesangannya. Takut kalau kucing itu kelaparan. Ini kucing kesangan almarhumah,
katanya. Dia kadang berkisah untuk mengisi waktu senggang jika duduk-duduk di
beranda denganku.
“Dulu, waktu kakek seumuran kamu,
ke sini jalan kaki berhari-hari melewati beberapa gunung.” Katanya memulai
cerita. Aku tidak bisa bayangkan betapa lelahnya berhari-hari dalam perjalanan
melewati belantara demi memenuhi kehendak hati, memenuhi titah perasaan. Aku
yang menggunakan kendaraan saja bisa setengah hari untuk sampai ke tempat ini.
Tanpa dijelaskan pun aku tahu persis bagaimana wujud perasaan orang yang sedang
jatuh cinta dan rela bersimbah keringat untuk sekadar bertemu. Kehidupan
manusia ini hanya sebuah perulangan. Aku yang jatuh cinta saat ini hanya
mengulang kisah yang pernah ada dan dilakoni oleh orang-orang sebelumku dan
kisahnya itu-itu saja. kita belajar ketegaran dari orang-orang yang pernah
mengalami kehilangan. Dan, tak pernah ada kebersamaan yang abadi. Tidak ada
kebahagiaan yang abadi di dunia ini, pun tak ada kecewa yang menggelar
keangkuhannya di atas kehidupan manusia selamanya. Bagi mereka yang pernah
kecewa, ia mulai belajar ketegaran. Belajar membangun kepercayaan dan
keyakinan. Bagi mereka yang sedang dilanda bahagia harus menyiapkan diri untuk
berbagai kekecewaan.
“Iya, sudah, kek.”
“Bagaimana tanggapan keluarganya?”
“Sejauh ini baik-baik saja, kek.
Entahlah besok lusa.”
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar