Senin, 19 Oktober 2015

NGGAHI RAWI PAHU 4


Hilir mudik kelelawar yang merebut buah jambu di halaman telah usai. Tak ada lagi suara seng yang berdentum ketika buah-buah jambu itu lepas dari cengkeraman mulut kelelawar, atau lepas dari dahannya. Dari arah barat bau laut tercium dan suaranya bagai nelangsa nyanyian burung yang kehilangan pasangannya, sementara suasana pagi  masih bungkam dalam balutan dingin yang menusuk-nusuk kulit.  Aku tersadar dari lelap dan kutangkap suara yang bersumber dari handphone-ku.  Ada seseorang menelepon dan di layarnya terpampang  nomor baru.
“Assalamualaikum, Bang.”
“Iya, Waalaikum salam. Maaf dengan siapa, ya?”
“Ini Zainab, Bang.”
“Zaenab mana, ya?”
“Itu, Bang, yang kemarin minta bantuan belikan bensin.”
“Oh, iya, Zainab. Dapat nomor handphone-ku dari siapa?”
“Kemarin  sempat cerita kalau saya meminta pertolongan sama abang, eh, ternyata orang yang saya ceritakan kenal sama Abang. Katanya abang sepupuan sama dia. Dunia ini tidak seluas yang kukira, Bang.”
“Siapa, ya?”
“Atin, Bang. Dia satu kelas juga denganku dan kami duduk di bangku yang sama.”
“Oh, iya, dia memang sepupuku.” Aku memang punya sepupu yang kuliah di perguruan tinggi tempat zainab kuliah. Atin adalah anak dari kakak perempuan Daengku. Anaknya yang ketiga.
“Maaf, ya, Zainab, aku harus shubuhan dulu.”
“Owh..., iya, Bang. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Kupakai lagi jubah dingin yang akan menyucikan tubuh fakir ini dari kotoran kehidupan. Udara dingin yang turun melewati pematang senja kemarin belum juga reda. Meresap menembus tulang-tulang. Kukirim dua kalimat sahadat setelahnya dengan tangan tengadah. Kudapati embun turun dari wajahku yang basah, sementara seluruh ragaku mengimaji dapat bersentuhan langsung dengan Rab-ku. Damai ketika wajah ini kuhadapkan pada kiblat. Di sujud-sujudku yang panjang. Kudapati air mata yang meleleh di sela-sela doaku. Lirih seperti puisi angin yang tak bersentuhan dengan apapun. Iya, damai yang sebenarnya hanya bisa didapatkan di tempat ini. Tidak harus dicari jauh-jauh. Di atas sajadah ini mengalir sungai-sungai yang tenang. Damai di bawah rerimbun pohon. Jika di atas sajadah ini begitu damainya, bagaimana nanti jika menggelar sajadah di jannah-Nya?
“Kemarin sudah ke rumah ayahnya?” kakekku bertanya. Kakek adalah saudara lelaki dari orang tua ibuku, alias saudara nenekku. Dia hidup menduda setelah dua tahun yang lalu ditinggal mati oleh sang istri. Tinggal sendirian, maka kupilih rumahnya untuk menginap jika sudah ada di desa di mana Mawar tinggal. Kadang dia sibuk mengurusi kucing kesangannya. Takut kalau kucing itu kelaparan. Ini kucing kesangan almarhumah, katanya. Dia kadang berkisah untuk mengisi waktu senggang jika duduk-duduk di beranda denganku.
“Dulu, waktu kakek seumuran kamu, ke sini jalan kaki berhari-hari melewati beberapa gunung.” Katanya memulai cerita. Aku tidak bisa bayangkan betapa lelahnya berhari-hari dalam perjalanan melewati belantara demi memenuhi kehendak hati, memenuhi titah perasaan. Aku yang menggunakan kendaraan saja bisa setengah hari untuk sampai ke tempat ini. Tanpa dijelaskan pun aku tahu persis bagaimana wujud perasaan orang yang sedang jatuh cinta dan rela bersimbah keringat untuk sekadar bertemu. Kehidupan manusia ini hanya sebuah perulangan. Aku yang jatuh cinta saat ini hanya mengulang kisah yang pernah ada dan dilakoni oleh orang-orang sebelumku dan kisahnya itu-itu saja. kita belajar ketegaran dari orang-orang yang pernah mengalami kehilangan. Dan, tak pernah ada kebersamaan yang abadi. Tidak ada kebahagiaan yang abadi di dunia ini, pun tak ada kecewa yang menggelar keangkuhannya di atas kehidupan manusia selamanya. Bagi mereka yang pernah kecewa, ia mulai belajar ketegaran. Belajar membangun kepercayaan dan keyakinan. Bagi mereka yang sedang dilanda bahagia harus menyiapkan diri untuk berbagai kekecewaan.
“Iya, sudah, kek.”
“Bagaimana tanggapan keluarganya?”
“Sejauh ini baik-baik saja, kek. Entahlah besok lusa.”

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar