NGGAHI RAWI PAHU 2
Buk..., Wanita bermata sipit dan
berwajah korea itu menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Meraung-raung
menahan sesak yang menghimpit jiwanya. Ditatapnya langit-langit kamar dengan
airmata menebal menutupi pupil matanya. Nyaris warna hitamnya lenyap tenggelam
dengan air payau yang mendanau di dalamnya. Tatapannya buram tidak jelas.
Sesekali sesenggukannya terdengar dan memantul di dinding. Hendak dukanya
menembus dinding dan terbang bebas di udara, namun tembok itu terlalu kuat untuk
dihempas. Disambut makian atas dirinya dan takdir yang menimpa lantaran cinta
yang dikandung badannya mengalahkan keteguhan hatinya. Kening yang biasa basah
oleh sujud telah dinodai oleh runtuhnya keteguhan yang disusunnya selama ini
sebelum cinta tak bersarang di hatinya. Airmata yang biasa mengucur pada saat “Sholatun
Lail” untuk menunjukan kecintaan seorang hamba pada Rab-nya
pun telah ternoda. Nestapa yang ditanggungnya tak bisa dihempas karena
kecintaannya pada seorang hamba yang sama sekali tak mencintainya walau harus berkali-kali
orang itu mencoba mencintainya. Ray, disebutnya nama itu berkali-kali, dan ia
hapus airmatanya lantaran nama yang disebutnya telah menelan dukanya sesaat.
Ada damai yang ia temukan di sana. Ray, nama itu telah dirapalnya dalam
doa-doa. Memeluknya dalam lengan cinta. Menguatkan tulang-belulangnya untuk
bangun tengah malam dalam balutan dingin. Nama yang disebut-sebutnya dalam
sujud-sujudnya yang panjang. Tubuhnya yang jangkung semampai meringkuk membentuk
bulatan dengan lutut hampir saja bertemu dengan dagunya seperti orang
kedinginan. Dalam bingkai bulu mata lentiknya masih saja air bening itu
mengucur. Deras serupa banjir selepas hujan usai. Menggenang di cekungan
kelopak matanya dan perlahan bermuara di sudut bantal, basah. Jarum pendek jam
yang bertengger di sebelah timur kamar kos-kosannya telah melewati angka dua
belas. Perlahan-lahan makin ke selatan. Diingat-ingatnya kembali saat lelaki
bernama Ray, yang menolongnya beberapa bulan yang lalu. Diingat-ingatnya
senyuman lelaki yang membuatnya insomnia dan terjaga sepnjang malam itu.
“Maaf, Bang! Bisa bantu saya untuk
membelikan bensin di pom bensin terdekat? Motor saya kehabisan bensin padahal
saya harus kuliah. Sudah telat beberapa menit ini, Bang.” Wanita itu
memicingkan matanya dan terlalu sering melihat jam tangannya. Lelaki yang
bernama, Ray itu tancap gas demi membantu wanita yang menyuguhkannya pahala padanya
itu. Bukankah merengkuh pahala dan kecintaan-Nya harus lewat hamba-Nya? Tanpa
berkata-kata, dan dengan wajah yang sangat datar.
“Maaf, Dek. Namanya siapa?”
Bertanya Ray setelah disodorkannya botol yang berisi bensin sekembalinya dari
tempat pengisian bensin.
“Zainab, Bang!”
“Jurusan apa?”
“Sosiologi, Bang.”
“Ya, sudah Zainab, kamu penuhi
dulu kewajibanmu di kampus itu. Aku mau pulang.”
“Iya, terimakasih, Bang, tapi
namanya siapa?”
“Ray Romansyah. Panggil saja ,
Ray.”
“Iya, hati-hati di jalan, Bang!”
Tiba-tiba saja senyumnya
mengembang. Rupanya dia sedang mengenang hari di mana dia terpaksa meminta
tolong pada orang asing, karena takut terlambat kuliah empat bulan yang lalu. Walaupun
airmatanya enggan berhenti karena keteledoran perasaannya, tetap saja senyum
itu mengembang lama sampai ia pulas dalam tidurnya. Ray, sesekali nama itu
masih disebutnya tanpa sadar.
***
Perlahan-lahan bulu matanya yang
lentik bergerak. Menandai tabir tipis yang menutupi bola matanya akan tersibak.
Didapatinya airmata masih menggantung di kelopaknya yang lebam. Diusapnya
berkali-kali. Rupanya aku ketiduran,
katanya, berbicara dengan dirinya sendiri. Sampai sepagi ini bayang lelaki yang
menjamah hatinya terbit di kepalanya bersamaan dengan matanya yang terbuka.
Hadir sebagaimana fajar mengganti kegelapan dan dengannya bumi terang
benderang. Namun kehadiran lelaki itu bukan sebagaimana matahari mengganti bumi
jadi terang, tapi menjadikan hidupnya dilanda tanya dan redup. Kenapa harus
terjadi, di sisi lain ia sadar ini bagian dari skenario yang maha mencipta.
Dari lantai dua kos-kosannya, dia menatap jauh ke utara. Dipalingkannya dari
timur tempat bola saga mulai merangkak naik. Takut kalau keteguhannya makin
runtuh karena pernah saat seperti itu, sehabis lari pagi dia bertemu pemuda
yang bernama, Ray itu. Ray, lelaki tinggi semampai yang biasa menghabiskan
waktu liburnya hanya di kota Bima, dan tinggal di kos-kosan depan lapangan
manggemaci. Ray, setiap lari pagi lebih memilih arah yang ke timur. Melawan
matahari yang mulai naik, sedangkan Zainab yang tinggal di Mande memilih arah
utara dan membelok ke barat. Tentunya mereka akan saling berpapasan di arah
berlawanan. Kenangan-demi kenangan dikenangnya kembali. Yang indah-indah
tentunya. Ia sama sekali tak ingin mengenang pengakuan Ray, yang hanya menganggapnya sebagai seorang
sahabat. Walau demikian keras ia mencoba, tapi sepenuhnya penolakan itu tak
lekas raib di kepalanya.
“Kau salah paham tentang hubungan
kita, Zainab. Kita hanya bersahabat, lain tidak.”
Kata-kata itulah yang telah
berhasil membuatnya sedemikian sakit. Pertama kali dirasakannya, karena Ray
adalah orang pertama yang dicintainya.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar