Kamis, 15 Oktober 2015

NGGAHI RAWI PAHU 2


Buk..., Wanita bermata sipit dan berwajah korea itu menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Meraung-raung menahan sesak yang menghimpit jiwanya. Ditatapnya langit-langit kamar dengan airmata menebal menutupi pupil matanya. Nyaris warna hitamnya lenyap tenggelam dengan air payau yang mendanau di dalamnya. Tatapannya buram tidak jelas. Sesekali sesenggukannya terdengar dan memantul di dinding. Hendak dukanya menembus dinding dan terbang bebas di udara, namun tembok itu terlalu kuat untuk dihempas. Disambut makian atas dirinya dan takdir yang menimpa lantaran cinta yang dikandung badannya mengalahkan keteguhan hatinya. Kening yang biasa basah oleh sujud telah dinodai oleh runtuhnya keteguhan yang disusunnya selama ini sebelum cinta tak bersarang di hatinya. Airmata yang biasa mengucur pada saat “Sholatun Lail” untuk menunjukan kecintaan seorang hamba pada Rab-nya pun telah ternoda. Nestapa yang ditanggungnya tak bisa dihempas karena kecintaannya pada seorang hamba yang sama sekali tak mencintainya walau harus berkali-kali orang itu mencoba mencintainya. Ray, disebutnya nama itu berkali-kali, dan ia hapus airmatanya lantaran nama yang disebutnya telah menelan dukanya sesaat. Ada damai yang ia temukan di sana. Ray, nama itu telah dirapalnya dalam doa-doa. Memeluknya dalam lengan cinta. Menguatkan tulang-belulangnya untuk bangun tengah malam dalam balutan dingin. Nama yang disebut-sebutnya dalam sujud-sujudnya yang panjang. Tubuhnya yang jangkung semampai meringkuk membentuk bulatan dengan lutut hampir saja bertemu dengan dagunya seperti orang kedinginan. Dalam bingkai bulu mata lentiknya masih saja air bening itu mengucur. Deras serupa banjir selepas hujan usai. Menggenang di cekungan kelopak matanya dan perlahan bermuara di sudut bantal, basah. Jarum pendek jam yang bertengger di sebelah timur kamar kos-kosannya telah melewati angka dua belas. Perlahan-lahan makin ke selatan. Diingat-ingatnya kembali saat lelaki bernama Ray, yang menolongnya beberapa bulan yang lalu. Diingat-ingatnya senyuman lelaki yang membuatnya insomnia dan terjaga sepnjang malam itu.
“Maaf, Bang! Bisa bantu saya untuk membelikan bensin di pom bensin terdekat? Motor saya kehabisan bensin padahal saya harus kuliah. Sudah telat beberapa menit ini, Bang.” Wanita itu memicingkan matanya dan terlalu sering melihat jam tangannya. Lelaki yang bernama, Ray itu tancap gas demi membantu wanita yang menyuguhkannya pahala padanya itu. Bukankah merengkuh pahala dan kecintaan-Nya harus lewat hamba-Nya? Tanpa berkata-kata, dan dengan wajah yang sangat datar.
“Maaf, Dek. Namanya siapa?” Bertanya Ray setelah disodorkannya botol yang berisi bensin sekembalinya dari tempat pengisian bensin.
“Zainab, Bang!”
“Jurusan apa?”
“Sosiologi, Bang.”
“Ya, sudah Zainab, kamu penuhi dulu kewajibanmu di kampus itu. Aku mau pulang.”
“Iya, terimakasih, Bang, tapi namanya siapa?”
“Ray Romansyah. Panggil saja , Ray.”
“Iya, hati-hati di jalan, Bang!”
Tiba-tiba saja senyumnya mengembang. Rupanya dia sedang mengenang hari di mana dia terpaksa meminta tolong pada orang asing, karena takut terlambat kuliah empat bulan yang lalu. Walaupun airmatanya enggan berhenti karena keteledoran perasaannya, tetap saja senyum itu mengembang lama sampai ia pulas dalam tidurnya. Ray, sesekali nama itu masih disebutnya tanpa sadar.
***
Perlahan-lahan bulu matanya yang lentik bergerak. Menandai tabir tipis yang menutupi bola matanya akan tersibak. Didapatinya airmata masih menggantung di kelopaknya yang lebam. Diusapnya berkali-kali.  Rupanya aku ketiduran, katanya, berbicara dengan dirinya sendiri. Sampai sepagi ini bayang lelaki yang menjamah hatinya terbit di kepalanya bersamaan dengan matanya yang terbuka. Hadir sebagaimana fajar mengganti kegelapan dan dengannya bumi terang benderang. Namun kehadiran lelaki itu bukan sebagaimana matahari mengganti bumi jadi terang, tapi menjadikan hidupnya dilanda tanya dan redup. Kenapa harus terjadi, di sisi lain ia sadar ini bagian dari skenario yang maha mencipta. Dari lantai dua kos-kosannya, dia menatap jauh ke utara. Dipalingkannya dari timur tempat bola saga mulai merangkak naik. Takut kalau keteguhannya makin runtuh karena pernah saat seperti itu, sehabis lari pagi dia bertemu pemuda yang bernama, Ray itu. Ray, lelaki tinggi semampai yang biasa menghabiskan waktu liburnya hanya di kota Bima, dan tinggal di kos-kosan depan lapangan manggemaci. Ray, setiap lari pagi lebih memilih arah yang ke timur. Melawan matahari yang mulai naik, sedangkan Zainab yang tinggal di Mande memilih arah utara dan membelok ke barat. Tentunya mereka akan saling berpapasan di arah berlawanan. Kenangan-demi kenangan dikenangnya kembali. Yang indah-indah tentunya. Ia sama sekali tak ingin mengenang pengakuan Ray,  yang hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Walau demikian keras ia mencoba, tapi sepenuhnya penolakan itu tak lekas raib di kepalanya.
“Kau salah paham tentang hubungan kita, Zainab. Kita hanya bersahabat, lain tidak.”
Kata-kata itulah yang telah berhasil membuatnya sedemikian sakit. Pertama kali dirasakannya, karena Ray adalah orang pertama yang dicintainya.
Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar