Doro Raja 3
“Kenapa diam?”
“Aku sedang berenang di udara. Menyusup di sudut-sudut bumi
antara harapan dan pertanyaan. Aku baru saja belajar arti sebuah ketulusan,
pengorbanan atas perujudan rasa. Aku sedang menduga-duga, mengenalmu, apakah
itu anugerah, cobaan atau pelajaran, sebab di awal saja engkau telah
mengajariku banyak hal. Mengajariku berenang di udara. Mengajariku membangun
harapan sekaligus menciptakan sebuntal pertanyaan.”
“Merenang di udara..., apalagi itu?”
“Keindahan yang kautawarkan membuatku merasa berenang di
atas udara. Membuatku berani membangun harapan, dan pertanyaan itu muncul
begitu saja, kenapa orang sepertimu tidak kutemukan lebih awal sebelum hatiku
diremukkan oleh ujud cinta yang salah.”
“Jika aku takdirmu, dan bila engkau adalah takdirku, kelak,
satu selimut adalah kita. Tapi, hari ini kita hanya diperuntukan membangun
sebuah keyakinan sementara perjalanan kita masih panjang, jauh dan penuh misteri. Kisah ini baru kita mulai,
dan esok siapa yang tahu.”
“Kak!” Dia menggenggam tanganku yang kebetulan kumasukan
sejenak dalam kantong jaketku untuk menghangatkannya, dan motor kubawa dengan
satu tangan. Erat sekali dan berusaha menatapku wajahku yang sedang fokus melihat
ke depan. Aku tidak mau sampai tertabrak atau jatuh hingga menoleh pun tidak.
Tapi, jelas kutahu maksud dari semua itu. Dalam pemaknaanku, lelaki ini,
bathinnya, telah membuatku takut kehilangan. Lelaki ini, baru di awal telah
menabur adiwarna dalam hidupku. Lelaki penyayang ini..., akh, aku jadi
berlebihan.
Jam telah menunjukkan angka 3.55 sore. Hari telah sore lagi.
Matahari beringsut tanpa kompromi. Bintang yang memiliki diameter 1.390.000 km dan
menjadi pusat tata surya kita itu memberi pesan besar pada kehidupan selain
perannya bagi kelangsungan hidup di bumi. Uniknya, ia menjadi tanda permulaan
siang sekaligus permulaan malam. Permulaan terang dan permulaan gelap.
Permulaan hidup dan permulaan mati. Jelas, jika kematian itu gelap, maka
kehidupan adalah terang. Susah untuk menemukan akhir dalam hidup ini, sementara
jika hidup pun berakhir, itu menjadi sebuah permulaan. Akhirat benar ada, tapi
akhir perjalanan tidak pernah ada dan ini bukan sekadar metafor paranoid yang terlepas
dari bukti teologinya. Apakah surga dan neraka menjadi akhir perjalanan?
Akh..., bukan, lantaran di surga dan neraka perjalanan masih berlanjut. Dan
hari ini, aku menyadari bila harus kehilangannya, setidaknya dia telah memberi
warna berbeda dalam hidupku. Entah nanti aku dihadapkan pada kenyataan tentang
kehilangan, aku telah diajari hidup di masa lalu bahwa kehilangan ada untuk
benar-benar memahami sebuah keberadaan. Betapa keberadaan seseorang dalam hidup
akan menentukan perjalanan selanjutnya. Betapa hati yang terlanjur bertaut
sulit terpisah walau raga memungkiri. Hati, mungkin hanya sebongkah daging,
namun akan sulit terlepas pada jejak yang pernah ia rekam walaupun perpisahan
menghianatinya. Logika, sesuatu yang bersumber dari kepala itu mungkin yang
paling canggih memilah bahwa takdir itu sudah ditetapkan dan menjadi bagian
dalam sejarah hidup, tapi di hati tetap menyisakan kedukaan tak tertanggungkan.
Setahuku, tak ada yang paling menyakitkan dalam hidup ini, kecuali cinta dan
kehilangan. Dan, tak ada yang paling indah mengubah daun kering menjadi
hamparan sabana menghijau kecuali cinta. Menjadi sabana di matanya, tapi tetap
daun kering di mata orang lain. Aneh. Setiap kehilangan akan membawa serta
sebagian besar yang kita miliki. Hati, semangat, cita dan cinta akan dibawanya
serta. Kita mungkin akan mencintai orang lain, tapi kita tidak akan
mencintainya dengan hati yang utuh, sebab sebagiannya telah dibawa lari oleh kehilangan.
Sisanya hanya jejak yang terpahat di sudut hati, sudut kamar, di jendela, di
jalan dan di mana saja tempat dicecerkannya rindu dan cinta dahulu, dan sisanya
merupa buntalan duka dan rekam jejaknya sungguh menyakitkan. Bisa berupa hujan,
air mata, pelangi, bunga, coklat dan bisa berupa apa saja. Ada yang diberi
bahagia dan ada yang diberinya nelangsa. Semua tak akan pernah sama. Sekalipun
betapa kerasnya kita mencoba. Bila itu mungkin, maka lebih mudah menggali bumi
sampai lapisan ketujuh. Harap bintang hendak di tangan, apa daya kaki masih
menginjak bumi. Oh.., rekam jejak seperti itukah yang dibawa wanita ini di
hidupku yang baru saja sembuh? Duwh..., dari mana datangnya bulir bening payau ini?
Lelaki ini..., akh..., cengeng.
“Rumahnya masih jauh, ya, Kak?”
“20 menit dari sekarang sampai, kok, Mawar. Mawar, kamu
cantik sekali. Tapi kita mampir dulu di sakuru, ya. Di rumah nenek sekaligus
bernostalgia dengan tanah kelahiranku.” Tak lama kemudian kami telah sampai di
sakuru dan memasuki sebuah gang tikus, sempit dan menikung. Sebuah desa di wilayah Kecamatan Monta, Kabupaten Bima.
Desa yang menjadi penyaksi lahirnya seorang bayi. Penyaksi celoteh pertamanya. Penuh
bebukitan tinggi sejauh mata memandang. Bebatuan yang bertengger di sana
seukuran raksasa seolah menjadi penjaga rumah-rumah penduduk yang ada di bawah kakinya.
Pohon-pohon jati dan snokeling yang tumbuh jarang-jarang di atasnya seolah
bergumul dengan awan-awan. Oh..,sepoi yang
membuat dedaunan berdansa. Sejuk. Di sana, dulu, seorang anak lelaki
menatap hidupnya dan di tangannya bertaut benang layang-layang. Tumbuh di balik
semak bersama beban yang nyaris tak pernah ada dalam kepalanya. Kaki
telanjangnya kuat mencengkeram bebatuan yang membentuk tebing yang curam. Dan,
seandainya terjatuh, maka hancurlah tubuhnya berkeping-keping. Keahlian yang
diajarkan alam padanya. Indah memang desa ini dan kenangan itu. Begitulah
hidup. Setiap jejak ada kenangan dan boleh jadi sementara hilang, tapi jejak
yang pernah dipijak akan membuka kembali kenangan itu sekalipun terkubur dan
terpendam dalam. Detail-detail yang hilang itu akan hidup kembali. Akh.., indahnya
masa-masa itu. Tak ada beban. Seandainya ditanya, kapan aku menemukan
kebahagiaanku, maka jawabannya ada pada masa kecilku. Tapi, hidup telah diatur
oleh-Nya. Lahir, tumbuh, dewasa, menikah, punya keturunan, tua
dan mati. Bedanya, masing-masing individu manusia memiliki nilai berbeda dalam
sejarah kehidupannya dan di hadapan Tuhannya.
“Ncihi romo nggahi inamu, Ray! Nakambera tantuku pala dou
ne’emu sakali ma ake,”1 komentar nenek. Memangnya bunda kapan bertemu, Mawar,
pikirku, tapi kuakui di telpon mereka sering mengobrol. Mungkin itu, bunda
berkesimpulan bahwa Mawar orangnya asyik.
“Nakambera romo anamu re, Nenek. Selain ede natupa rau,,,”2
godaku.
“Na ore ipiku pala dou ne’ena ramai wa’a ra mai teina ita
doho pala, kak Ray ke,”3 Mawar menyambungi komentar nenek dan mereka sama-sama
tertawa kecil.
“Sawatipu wa’ana aka umana biasa kai nawa’a wauku ta ake
anae..., dou ne’ena, pala wati wara sana kai adeku. Ampode nggomi ake raupa
dihi kai adeku,”4 nenek sedikit membongkar rahasiaku dan sedikit memuji Mawar.
“Mada doho wati ndendeke, Nenek, dahu adeta ngadi ai dei
ncai,”5 kuperingatkan nenek dan Mawar, karena kelihatannya mereka akur dan
membahas banyak hal. Barangkali beliau baru kali ini bisa dekat dengan
kekasihku. Mawar memang pandai membawa diri. Gampang tertawa, ramah dan lebih
jeli membaca suasana hati.
“Santabe mai mada masubi wauta, Nenek.”6 Mawar menyuntiknya
setelah mengukur tekanan darahnya dan segera mengemasi obat-obatan dalam tas
kecilnya ke dalam tas yang lebih besar.
“Mada doho dodo wautake,,,nanci’ira edaku liroke. Dahu adeta
bune-bune dei ncai ta.”7 Aku berpamitan sama nenek dan sesegera mungkin mencium
tangannya dan Mawar pun begitu.
Jalanan ini, hari itu, seorang anak kecil dengan menggamit tangan
kakeknya melangkah pendek-pendek untuk sampai ke sawah yang hanya berjarak 2
km. Seorang kakek yang lama meninggal dan waktu itu aku masih berumur kurang
dari 10 tahun, 9 tahun 7 bulan. Hari ini, seandainya kakek masih hidup, pasti
senang melihat, Mawarku. Aku akan sempatkan waktu lebih lama untuk bercerita
dan bertanya kenapa beliau menamaiku dengan nama, Ray Romansyah. Kakek hidup di
atas namaku yang ke-kota-an. Ray, aku sering mendengar nama ini disebut di
acara sinetron atau dalam film. Apapun itu, namaku adalah jejak nyata yang
ditinggalkan sang kakek untuk cucunya tercinta. Memacu sepeda motorku dengan
kecepatan sedang dengan ditemani cahaya senja. Hamparan sawah “pajakai” dengan
pepadian yang hampir menguning seolah senja yang saga pindah ke sawah-sawah.
Luas dipagari gemunung yang mengitarinya. Ada beberapa desa lagi yang harus
kami lewati untuk bisa sampai ke rumah. Aku tidak tahu banyak kenapa orang
tuaku pindah dari desa kelahiranku dan tinggal di sebuah desa di pedalaman,
desa Tolouwi. Konon, desa ini dahulu adalah hamparan sawah yang hanya ditanami
ubi. Tolouwi terdiri dari dua kata “tolo” yang berarti sawah dan “uwi” yang
berarti ubi. Kalau digabung bisa berarti sawah yang ditanami ubi. Sederhananya
kurang lebih seperti itu. Desa paling ujung ke-2 setelah desa tetangga, yaitu
desa Tolotangga. Sebuah desa yang bersedia membentangkan lengannya untuk
mengawal perjalananku hingga sampai pada umur sekarang. Desa paling maju dari
desa-desa lain. Desa paling besar yang dulunya hanya satu sekarang sudah
menjadi tiga desa. Kini, motorku sedang menaiki tanjakan “wai kancio” yang
memisah Kecamatan Monta luar dan Monta dalam. Monta dalam terdiri dari banyak
desa yang berkembang di bagian pedalaman termasuk desaku. Jalan “wai kancio”
adalah sebuah gunung utuh yang dibelah untuk membentuk jalan dan pada
turunannya dapat ditemukan sebuah jurang yang sangat dalam dan ditumbuhi
pohon-pohon besar. Fauna seperti monyet dengan ukuran berbeda dapat dilihat di
pinggir jalan, atau bergelantungan di sana-sini dari atas pohon.
“Capek, ya, Mawar?”
“Lumayan capek, sih, tapi bukankah semua itu telah terbayar
oleh pemandangan yang tak mampu kubeli
walaupun dengan setumpuk rupiah, dan denganmu hilang rasa capekku.
Apakah, Kak Ray tidak merasa capek?”
“Capek, dong. Pundakku terasa ngilu semua.”
“Aku bisa bantu apa, Kak?”
“Kreatif sedikit kenapa...” Belum selesai kuberbicara,
dengan sigap, Mawar memukulkan tangannya pelan-pelan di atas pundakku dan
tangannya mirip ahli kungfu shaolin, atau kungfu panda.
“Kau tidak perlu melakukan itu, Mawar!”
“Tidak perlu, tapi aku ingin melakukannya, Kak.”
Matahari senja kini telah menyelimuti diri di balik gunung.
Burung-burung telah pulang ke sarangnya. Suara jangkrik mulai menandai
datangnya malam. Desaku telah diselimuti jubah gulita. Lampu-lampu telah
dinyalakan. Adzan mulai terdengar samar-samar ketika kami menuruni motor di
depan rumah.
“Mawar, simpan barang-barangmu. Kita sholat dulu.” Waktu
kami sampai, orang-orang rumah sedang sholat. Tidak ada acara sambutan seperti
di film-film yang pernah kutonton, atau seperti yang kulihat di rumah tetangga.
“Iya, Kak.”
Kami sama-sama mengenakan wudhu dan sholat berjamaah. Ini
bukan pengalaman pertama aku mengimani sholat. Semua teman-temanku, baik yang
laki-laki dan perempuan pernah kuimani sholatnya. Jadi, aku sudah terbiasa
tapi, berdiri di depan wanita ini serupa anak-anak yang belajar pidato dan
demam panggung membuatnya menggigil seketika. Bacaanku, dalam pendengaranku
terasa sedikit bergetar, gemetar. Keringat bercucuran tapi, lama-lama khusyuk
juga. Satu kesimpulan yang bisa kupetik dari setiap peristiwa yang pernah
terjadi. Salah satu tanda kita benar-benar mencintai adalah merasa kikuk dan
grogi. Kalau tidak, bisa dipastikan itu palsu, atau lebih parahnya seorang
lelaki menggombali wanita tanpa canggung sudah membuktikan dia ingin main-main.
Sederhana saja. Lelaki dengan tatapan jerihnya, bisa jadi tanda paling kecil
bahwa wanita yang ditatapnya diam-diam adalah yang paling mekar dalam hatinya,
barangkali, karena semua bisa dipalsukan. Sebab, tak ada satu pakar pun yang
benar-benar mampu mengungkap hal ini. Ia relatif. Daun kering di mata orang
lain, di mata pelakunya adalah permata. Aku bisa menduga, tingginya angka
perceraian mungkin karena cinta tanpa diawali rasa kikuk dan grogi ini. Hanya
tumbal dari “great spiker” atau “great sex”. Bisa jadi korban MBA, yang
merupakan akronim Marriage By Accident, atau menikah lantaran kecelakaan. Mengungkapkan
perasaan tanpa canggung hanya butuh diakui hebat. Ketololan yang dilakukan kaum lelaki ini
sungguh miris. Pernah aku mengenal sekelompok anak muda yang berjumalah lima
orang. Mereka menamai gangnya jojoba
yang bila dipanjangkan berarti jomblo-jomblo bahagia. Kerjaannya memacari semua
wanita dari umur yang berbeda, incarannya yang paling cantik dan sebelumnya
mereka arisan dulu. Siapa yang duluan keluar namanya dia yang dapat giliran. Akh..,
untung aku bukan salah satu dari mereka. Untung saja lelaki romantis yang
sedikit berbahaya ini tidak terpengaruh untuk bergabung. Mirisnya lagi, wanita,
baru dirayu gayung bersambut. Katanya, ini aku kekasihmu. Kuserahkan semuanya
untukmu. Uiiiiih...
“De... wara tamu keni,”8 sapa daeku setelah beliau selesai
sholatnya. Kami baru saja selesai sholat dan aku masih mengenakan peci hitamku.
“Iyota, dae. Kalembo ade ta waura karepomu mada,”9 jawab Mawar
dan mereka bersalaman. Kulihat Mawar mencium tangannya. Wujud penghormatan yang
muda kepada yang lebih tua.
“Be kombi inamu kandere.., sadia weapu dingaha lengamu,
Ray,”10 perintah dae langsung kukerjakan. Aku mengambil jar cake setoples.
Kuseduh teh jahe untuknya. Aku memang tidak begitu suka nge-teh tapi, aku bisa
meracik teh jahe paling nikmat dengan jahe bakar.
“Maaf, ya, hanya ini yang bisa kusuguhkan, Mawarku,” rayuku.
“Doho kalembo ademu ana ndo. Doho nono waupu labo sa’emu.
Dae matio wau inamu.”11 dae pamit dan membiarkan kami duduk. Kebetulan si
bungsu sedang duduk dengan kami. Dia masih duduk di kelas 3 sekolah dasar.
Bersambung.
Note: Terjemahan dialog.
1.
“Benar kata bundamu, Ray! Kekasihmu kali ini
asyik dan menyenangkan.
2.
“Selain
asyik dan menyenangkan, dia lebih pandai membawa diri.”
3.
“Berarti
ada banyak pacarnya yang, Kak Ray bawa ke sini sebelumnya.”
4.
“Sebelum
dia bawa ke rumah untuk diperkenalkan dengan orang tuanya, dia pamer dulu di
sini, tapi kali ini aku merasa cocok dan senang.”
5.
“Kami
tidak bisa lama-lama, Nenek. Takutnya kemalaman dalam perjalanan.”
6.
“Ke sini,
Nek! Saya suntik dulu.”
7.
“Kami
pamit dulu,,,kelihatannya matahari hampir tenggelam dan takutnya ada apa-apa di
jalan.”
8.
“Rupanya ada tamu.”
9.
“Iya,
Dae. Maaf kalau saya merepotkan.
10.
“Bundamu
lagi ada perlu di luar. Sediain minuman buat temanmu, Ray.”
11.
“Kalian
duduk saja dulu, ya. Minum saja dulu. Dae permisi panggilkan bundamu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar