Kamis, 08 Oktober 2015

Doro Raja 3


“Kenapa diam?”
“Aku sedang berenang di udara. Menyusup di sudut-sudut bumi antara harapan dan pertanyaan. Aku baru saja belajar arti sebuah ketulusan, pengorbanan atas perujudan rasa. Aku sedang menduga-duga, mengenalmu, apakah itu anugerah, cobaan atau pelajaran, sebab di awal saja engkau telah mengajariku banyak hal. Mengajariku berenang di udara. Mengajariku membangun harapan sekaligus menciptakan sebuntal pertanyaan.”
“Merenang di udara..., apalagi itu?”
“Keindahan yang kautawarkan membuatku merasa berenang di atas udara. Membuatku berani membangun harapan, dan pertanyaan itu muncul begitu saja, kenapa orang sepertimu tidak kutemukan lebih awal sebelum hatiku diremukkan oleh ujud cinta yang salah.”
“Jika aku takdirmu, dan bila engkau adalah takdirku, kelak, satu selimut adalah kita. Tapi, hari ini kita hanya diperuntukan membangun sebuah keyakinan sementara perjalanan kita masih panjang, jauh  dan penuh misteri. Kisah ini baru kita mulai, dan esok siapa yang tahu.”
“Kak!” Dia menggenggam tanganku yang kebetulan kumasukan sejenak dalam kantong jaketku untuk menghangatkannya, dan motor kubawa dengan satu tangan. Erat sekali dan berusaha menatapku wajahku yang sedang fokus melihat ke depan. Aku tidak mau sampai tertabrak atau jatuh hingga menoleh pun tidak. Tapi, jelas kutahu maksud dari semua itu. Dalam pemaknaanku, lelaki ini, bathinnya, telah membuatku takut kehilangan. Lelaki ini, baru di awal telah menabur adiwarna dalam hidupku. Lelaki penyayang ini..., akh, aku jadi berlebihan.
Jam telah menunjukkan angka 3.55 sore. Hari telah sore lagi. Matahari beringsut tanpa kompromi. Bintang yang memiliki diameter 1.390.000 km dan menjadi pusat tata surya kita itu memberi pesan besar pada kehidupan selain perannya bagi kelangsungan hidup di bumi. Uniknya, ia menjadi tanda permulaan siang sekaligus permulaan malam. Permulaan terang dan permulaan gelap. Permulaan hidup dan permulaan mati. Jelas, jika kematian itu gelap, maka kehidupan adalah terang. Susah untuk menemukan akhir dalam hidup ini, sementara jika hidup pun berakhir, itu menjadi sebuah permulaan. Akhirat benar ada, tapi akhir perjalanan tidak pernah ada dan ini bukan sekadar metafor paranoid yang terlepas dari bukti teologinya. Apakah surga dan neraka menjadi akhir perjalanan? Akh..., bukan, lantaran di surga dan neraka perjalanan masih berlanjut. Dan hari ini, aku menyadari bila harus kehilangannya, setidaknya dia telah memberi warna berbeda dalam hidupku. Entah nanti aku dihadapkan pada kenyataan tentang kehilangan, aku telah diajari hidup di masa lalu bahwa kehilangan ada untuk benar-benar memahami sebuah keberadaan. Betapa keberadaan seseorang dalam hidup akan menentukan perjalanan selanjutnya. Betapa hati yang terlanjur bertaut sulit terpisah walau raga memungkiri. Hati, mungkin hanya sebongkah daging, namun akan sulit terlepas pada jejak yang pernah ia rekam walaupun perpisahan menghianatinya. Logika, sesuatu yang bersumber dari kepala itu mungkin yang paling canggih memilah bahwa takdir itu sudah ditetapkan dan menjadi bagian dalam sejarah hidup, tapi di hati tetap menyisakan kedukaan tak tertanggungkan. Setahuku, tak ada yang paling menyakitkan dalam hidup ini, kecuali cinta dan kehilangan. Dan, tak ada yang paling indah mengubah daun kering menjadi hamparan sabana menghijau kecuali cinta. Menjadi sabana di matanya, tapi tetap daun kering di mata orang lain. Aneh. Setiap kehilangan akan membawa serta sebagian besar yang kita miliki. Hati, semangat, cita dan cinta akan dibawanya serta. Kita mungkin akan mencintai orang lain, tapi kita tidak akan mencintainya dengan hati yang utuh, sebab sebagiannya telah dibawa lari oleh kehilangan. Sisanya hanya jejak yang terpahat di sudut hati, sudut kamar, di jendela, di jalan dan di mana saja tempat dicecerkannya rindu dan cinta dahulu, dan sisanya merupa buntalan duka dan rekam jejaknya sungguh menyakitkan. Bisa berupa hujan, air mata, pelangi, bunga, coklat dan bisa berupa apa saja. Ada yang diberi bahagia dan ada yang diberinya nelangsa. Semua tak akan pernah sama. Sekalipun betapa kerasnya kita mencoba. Bila itu mungkin, maka lebih mudah menggali bumi sampai lapisan ketujuh. Harap bintang hendak di tangan, apa daya kaki masih menginjak bumi. Oh.., rekam jejak seperti itukah yang dibawa wanita ini di hidupku yang baru saja sembuh? Duwh..., dari mana datangnya bulir bening payau ini? Lelaki ini..., akh..., cengeng.
“Rumahnya masih jauh, ya, Kak?”
“20 menit dari sekarang sampai, kok, Mawar. Mawar, kamu cantik sekali. Tapi kita mampir dulu di sakuru, ya. Di rumah nenek sekaligus bernostalgia dengan tanah kelahiranku.” Tak lama kemudian kami telah sampai di sakuru dan memasuki sebuah gang tikus, sempit dan menikung. Sebuah desa  di wilayah Kecamatan Monta, Kabupaten Bima. Desa yang menjadi penyaksi lahirnya seorang bayi. Penyaksi celoteh pertamanya. Penuh bebukitan tinggi sejauh mata memandang. Bebatuan yang bertengger di sana seukuran raksasa seolah menjadi penjaga rumah-rumah penduduk yang ada di bawah kakinya. Pohon-pohon jati dan snokeling yang tumbuh jarang-jarang di atasnya seolah bergumul dengan awan-awan. Oh..,sepoi yang  membuat dedaunan berdansa. Sejuk. Di sana, dulu, seorang anak lelaki menatap hidupnya dan di tangannya bertaut benang layang-layang. Tumbuh di balik semak bersama beban yang nyaris tak pernah ada dalam kepalanya. Kaki telanjangnya kuat mencengkeram bebatuan yang membentuk tebing yang curam. Dan, seandainya terjatuh, maka hancurlah tubuhnya berkeping-keping. Keahlian yang diajarkan alam padanya. Indah memang desa ini dan kenangan itu. Begitulah hidup. Setiap jejak ada kenangan dan boleh jadi sementara hilang, tapi jejak yang pernah dipijak akan membuka kembali kenangan itu sekalipun terkubur dan terpendam dalam. Detail-detail yang hilang itu akan hidup kembali. Akh.., indahnya masa-masa itu. Tak ada beban. Seandainya ditanya, kapan aku menemukan kebahagiaanku, maka jawabannya ada pada masa kecilku. Tapi, hidup telah diatur oleh-Nya.  Lahir,  tumbuh, dewasa, menikah, punya keturunan, tua dan mati. Bedanya, masing-masing individu manusia memiliki nilai berbeda dalam sejarah kehidupannya dan di hadapan Tuhannya.
“Ncihi romo nggahi inamu, Ray! Nakambera tantuku pala dou ne’emu sakali ma ake,”1 komentar nenek. Memangnya bunda kapan bertemu, Mawar, pikirku, tapi kuakui di telpon mereka sering mengobrol. Mungkin itu, bunda berkesimpulan bahwa Mawar orangnya asyik.
“Nakambera romo anamu re, Nenek. Selain ede natupa rau,,,”2 godaku.
“Na ore ipiku pala dou ne’ena ramai wa’a ra mai teina ita doho pala, kak Ray ke,”3 Mawar menyambungi komentar nenek dan mereka sama-sama tertawa kecil.
“Sawatipu wa’ana aka umana biasa kai nawa’a wauku ta ake anae..., dou ne’ena, pala wati wara sana kai adeku. Ampode nggomi ake raupa dihi kai adeku,”4 nenek sedikit membongkar rahasiaku dan sedikit memuji Mawar.
“Mada doho wati ndendeke, Nenek, dahu adeta ngadi ai dei ncai,”5 kuperingatkan nenek dan Mawar, karena kelihatannya mereka akur dan membahas banyak hal. Barangkali beliau baru kali ini bisa dekat dengan kekasihku. Mawar memang pandai membawa diri. Gampang tertawa, ramah dan lebih jeli membaca suasana hati.
“Santabe mai mada masubi wauta, Nenek.”6 Mawar menyuntiknya setelah mengukur tekanan darahnya dan segera mengemasi obat-obatan dalam tas kecilnya ke dalam tas yang lebih besar.
“Mada doho dodo wautake,,,nanci’ira edaku liroke. Dahu adeta bune-bune dei ncai ta.”7 Aku berpamitan sama nenek dan sesegera mungkin mencium tangannya dan Mawar pun begitu.
Jalanan ini, hari itu, seorang anak kecil dengan menggamit tangan kakeknya melangkah pendek-pendek untuk sampai ke sawah yang hanya berjarak 2 km. Seorang kakek yang lama meninggal dan waktu itu aku masih berumur kurang dari 10 tahun, 9 tahun 7 bulan. Hari ini, seandainya kakek masih hidup, pasti senang melihat, Mawarku. Aku akan sempatkan waktu lebih lama untuk bercerita dan bertanya kenapa beliau menamaiku dengan nama, Ray Romansyah. Kakek hidup di atas namaku yang ke-kota-an. Ray, aku sering mendengar nama ini disebut di acara sinetron atau dalam film. Apapun itu, namaku adalah jejak nyata yang ditinggalkan sang kakek untuk cucunya tercinta. Memacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang dengan ditemani cahaya senja. Hamparan sawah “pajakai” dengan pepadian yang hampir menguning seolah senja yang saga pindah ke sawah-sawah. Luas dipagari gemunung yang mengitarinya. Ada beberapa desa lagi yang harus kami lewati untuk bisa sampai ke rumah. Aku tidak tahu banyak kenapa orang tuaku pindah dari desa kelahiranku dan tinggal di sebuah desa di pedalaman, desa Tolouwi. Konon, desa ini dahulu adalah hamparan sawah yang hanya ditanami ubi. Tolouwi terdiri dari dua kata “tolo” yang berarti sawah dan “uwi” yang berarti ubi. Kalau digabung bisa berarti sawah yang ditanami ubi. Sederhananya kurang lebih seperti itu. Desa paling ujung ke-2 setelah desa tetangga, yaitu desa Tolotangga. Sebuah desa yang bersedia membentangkan lengannya untuk mengawal perjalananku hingga sampai pada umur sekarang. Desa paling maju dari desa-desa lain. Desa paling besar yang dulunya hanya satu sekarang sudah menjadi tiga desa. Kini, motorku sedang menaiki tanjakan “wai kancio” yang memisah Kecamatan Monta luar dan Monta dalam. Monta dalam terdiri dari banyak desa yang berkembang di bagian pedalaman termasuk desaku. Jalan “wai kancio” adalah sebuah gunung utuh yang dibelah untuk membentuk jalan dan pada turunannya dapat ditemukan sebuah jurang yang sangat dalam dan ditumbuhi pohon-pohon besar. Fauna seperti monyet dengan ukuran berbeda dapat dilihat di pinggir jalan, atau bergelantungan di sana-sini dari atas pohon.
“Capek, ya, Mawar?”
“Lumayan capek, sih, tapi bukankah semua itu telah terbayar oleh pemandangan yang tak mampu kubeli  walaupun dengan setumpuk rupiah, dan denganmu hilang rasa capekku. Apakah, Kak Ray tidak merasa capek?”
“Capek, dong. Pundakku terasa ngilu semua.”
“Aku bisa bantu apa, Kak?”
“Kreatif sedikit kenapa...” Belum selesai kuberbicara, dengan sigap, Mawar memukulkan tangannya pelan-pelan di atas pundakku dan tangannya mirip ahli kungfu shaolin, atau kungfu panda.
“Kau tidak perlu melakukan itu, Mawar!”
“Tidak perlu, tapi aku ingin melakukannya, Kak.”
Matahari senja kini telah menyelimuti diri di balik gunung. Burung-burung telah pulang ke sarangnya. Suara jangkrik mulai menandai datangnya malam. Desaku telah diselimuti jubah gulita. Lampu-lampu telah dinyalakan. Adzan mulai terdengar samar-samar ketika kami menuruni motor di depan rumah.
“Mawar, simpan barang-barangmu. Kita sholat dulu.” Waktu kami sampai, orang-orang rumah sedang sholat. Tidak ada acara sambutan seperti di film-film yang pernah kutonton, atau seperti yang kulihat di rumah tetangga.
“Iya, Kak.”
Kami sama-sama mengenakan wudhu dan sholat berjamaah. Ini bukan pengalaman pertama aku mengimani sholat. Semua teman-temanku, baik yang laki-laki dan perempuan pernah kuimani sholatnya. Jadi, aku sudah terbiasa tapi, berdiri di depan wanita ini serupa anak-anak yang belajar pidato dan demam panggung membuatnya menggigil seketika. Bacaanku, dalam pendengaranku terasa sedikit bergetar, gemetar. Keringat bercucuran tapi, lama-lama khusyuk juga. Satu kesimpulan yang bisa kupetik dari setiap peristiwa yang pernah terjadi. Salah satu tanda kita benar-benar mencintai adalah merasa kikuk dan grogi. Kalau tidak, bisa dipastikan itu palsu, atau lebih parahnya seorang lelaki menggombali wanita tanpa canggung sudah membuktikan dia ingin main-main. Sederhana saja. Lelaki dengan tatapan jerihnya, bisa jadi tanda paling kecil bahwa wanita yang ditatapnya diam-diam adalah yang paling mekar dalam hatinya, barangkali, karena semua bisa dipalsukan. Sebab, tak ada satu pakar pun yang benar-benar mampu mengungkap hal ini. Ia relatif. Daun kering di mata orang lain, di mata pelakunya adalah permata. Aku bisa menduga, tingginya angka perceraian mungkin karena cinta tanpa diawali rasa kikuk dan grogi ini. Hanya tumbal dari “great spiker” atau “great sex”. Bisa jadi korban MBA, yang merupakan akronim Marriage By Accident, atau menikah lantaran kecelakaan. Mengungkapkan perasaan tanpa canggung hanya butuh diakui hebat.  Ketololan yang dilakukan kaum lelaki ini sungguh miris. Pernah aku mengenal sekelompok anak muda yang berjumalah lima orang. Mereka menamai  gangnya jojoba yang bila dipanjangkan berarti jomblo-jomblo bahagia. Kerjaannya memacari semua wanita dari umur yang berbeda, incarannya yang paling cantik dan sebelumnya mereka arisan dulu. Siapa yang duluan keluar namanya dia yang dapat giliran. Akh.., untung aku bukan salah satu dari mereka. Untung saja lelaki romantis yang sedikit berbahaya ini tidak terpengaruh untuk bergabung. Mirisnya lagi, wanita, baru dirayu gayung bersambut. Katanya, ini aku kekasihmu. Kuserahkan semuanya untukmu. Uiiiiih...
“De... wara tamu keni,”8 sapa daeku setelah beliau selesai sholatnya. Kami baru saja selesai sholat dan aku masih mengenakan peci hitamku.
“Iyota, dae. Kalembo ade ta waura karepomu mada,”9 jawab Mawar dan mereka bersalaman. Kulihat Mawar mencium tangannya. Wujud penghormatan yang muda kepada yang lebih tua.
“Be kombi inamu kandere.., sadia weapu dingaha lengamu, Ray,”10 perintah dae langsung kukerjakan. Aku mengambil jar cake setoples. Kuseduh teh jahe untuknya. Aku memang tidak begitu suka nge-teh tapi, aku bisa meracik teh jahe paling nikmat dengan jahe bakar.
“Maaf, ya, hanya ini yang bisa kusuguhkan, Mawarku,” rayuku.
“Doho kalembo ademu ana ndo. Doho nono waupu labo sa’emu. Dae matio wau inamu.”11 dae pamit dan membiarkan kami duduk. Kebetulan si bungsu sedang duduk dengan kami. Dia masih duduk di kelas 3 sekolah dasar.
Bersambung.
 
Note: Terjemahan dialog.
1.       “Benar kata bundamu, Ray! Kekasihmu kali ini asyik dan menyenangkan.
2.        “Selain asyik dan menyenangkan, dia lebih pandai membawa diri.”
3.        “Berarti ada banyak pacarnya yang, Kak Ray bawa ke sini sebelumnya.”
4.        “Sebelum dia bawa ke rumah untuk diperkenalkan dengan orang tuanya, dia pamer dulu di sini, tapi kali ini aku merasa cocok dan senang.”
5.        “Kami tidak bisa lama-lama, Nenek. Takutnya kemalaman dalam perjalanan.”
6.        “Ke sini, Nek! Saya suntik dulu.”
7.        “Kami pamit dulu,,,kelihatannya matahari hampir tenggelam dan takutnya ada apa-apa di jalan.”
8.       “Rupanya ada tamu.”
9.        “Iya, Dae. Maaf kalau saya merepotkan.
10.    “Bundamu lagi ada perlu di luar. Sediain minuman buat temanmu, Ray.”
11.    “Kalian duduk saja dulu, ya. Minum saja dulu. Dae permisi panggilkan bundamu.”
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar