Rabu, 23 September 2015

Kota Bima Dalam Remang


Januari telah pergi. Terbungkus rapi di bingkai kenangan. Kini Secarik kisah tertuang. Pada senja yang sama Januari mengatup, sementara sebentar lagi Februari memulai harinya. Angin berhembus dengan lincahnya dan berbicara dengan alam dalam wujud dedaunan yang  bergerak  mengantar keduanya ke peraduannya masing –masing.  Kejar-kejaran bak anak kecil bermain layang – layang. Menyibak udara senja yang semakin dingin. Januari telah Hengkang, sementara Februari mulai menyusun kisahnya yang masih mistis. Pada detiknya aku urai rasa di segenap penjuru langit yang memberi pelangi di musim hujan. Pada bumi yang merindu, kini langit membikis jutaan jejarum embun, lalu tertuang di jiwa – jiwa tandus nan hening.  Hadiah pergantian waktu. Pada rasa yang kian erat aku susul rindu yang meronta. Pada raga yang memiliki savana yang indah aku tambatkan pula cinta yang melimpah menghijau. Pada kekasih kulabuhkan semuanya.

Hari ke-4  di bulan Februari pagi ini begitu indah. Hujan yang dari sepertiga malam terakhir telah sisakan rinainya saja. Kutuntun harapan dan kuketuk pintu pengampunan serta doa-doa kulantunkan dalam sholatun lail serta Shubuh-ku yang damai. Setelahnya, kubuka tingkap kamarku dan kulihat riak-riak kecil gerimis berlompatan di jalanan  dan berayun di atap-atap.  Embun menggelayut di seluruh dedaunan bak permata di mahkota Ratu cleopatra. Selepasnya  Langit tampak cerah. Hari ini, tanggal 4 Februari 2013. Setelah beberapa bulan hanya saling mengenal lewat handphone dan berbagi foto lewat akun sosial media, aku berjanji bertemu dengannya, selepas sholat asyar. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu. Itu artinya pertemuan pertama ini dilakukan pada malam minggu. Malam yang biasa dilewati muda-mudi untuk bertemu kekasih mereka, atau  kerabatnya untuk sekedar melewatkan waktu. Kususuri jalan dari rumah menuju tempat yang  dijanjikan. Aku cukup menikmati perjalanan ini. Beberapa bunga liar di pinggir jalan seolah tersenyum. Walaupun tumbuh liar mereka tumbuh di belantara yang terjaga dan alami. Tak ada penoda yang berkeliaran. Bunga yang berwarna ungu campur biru dan tumbuh merambat di semak-semak. Aku suka bunga ini. Betapa alam ini begitu elok kalau dibiarkan apa adanya. Bak perawan tanpa noda ia kembangkan kuntumnya. Tidak seperti bunga-bunga di kota. Bunga- bunga di kota indah-indah dengan corak yang menawan tapi dengan warna yang pudar. Tak tampak lagi keanggunannya. Mungkin kehidupan kota yang telah merenggutnya. Bunga-bunganya nampak telanjang. Sudah gak perawan lagi, mengingat racun yang keluar lewat cerobong knalpot kendaraan mereka yang berhidung belang telah menyedot dan menodainya. Kami tinggal di kabupaten yang berbeda. Dari rumahku ke tempatnya hanya membutuhkan waktu 2-3 jam saja. Destinasi kami ke kota bima dan bertemu dulu di sila, tanah kelahirannya dan masih dalam lingkup kabupaten tempat tinggalku, kabupaten Bima. Untuk sampai di sana aku hanya butuh waktu lebih kurang satu jam saja.  Dia pindah kabupaten dan tinggal di sana karena ayah dan ibunya dipindahtugaskan ke kabupaten itu, Kabupaten Dompu.

Hari hampir senja. Kulihat matahari hampir menyelimuti dirinya di balik gunung. Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Rasa penasaran bercampur rindu menyeruak dan bahkan merembes di jalanan. Di jalanan yang sepi ini aku merasa ramai. Kodok yang bernyanyi, burung senja bersiul. Ramai sekali.

“Rumah paman dimana?” tanyaku lewat telepon karena tidak tahu persis rumah pamannya yang menjadi tempat pertemuan kami.

“ Kakak dimana? “ tanyanya balik.

“ Aku di depan pintu gerbang gedung Paruga Na’e sila. Kesini saja, jemput aku!” saranku.

“ Iya, kakak tunggu saja di situ, biar adik jemput,”  sarannya.

Beberapa menit kemudian muncul seorang wanita dan kutanya apa dia mencari seseorang. Katanya, tidak. Dia hendak ke rumahnya setelah pulang belanja di warung terdekat. Oh..., kupikir dia, pantasan kelihatan tua, bathinku.

“Hey...,maaf telah bikin menunggu lama,” seseorang menepuk pundakku dan suaranya begitu familiar.
“ Mawar?” tanyaku sambil telunjuk kananku sejajar dengan hidungnya. Hampir saja menyentuh hidungnya yang unik. Mancung di bawah dan atasnya agak ke dalam tapi, dalam pandanganku cukup serasi dengan pipinya yang sedikit tembem. Seringainya malu-malu dan rona merah jambu di kedua sisi pipinya telah buatku melompong dalam sesaat.

“ Bukan, adik bukan, Mawar  tapi,  orang yang beberapa bulan ini kaukenal dan baru saja kaulihat,” katanya sambil memasang senyum yang indah sekali. Kulihat dia sedikit canggung. Sesaat kami diam dan...

“ beraninya kamu menggombaliku. Yuk! Kita ke rumah paman sebelum magrib usai. Kakak belum sholat, “ aku memperingatkan dan kutinggalkan satu senyum tepat di depannya sebelum berpaling.
Dalam sujudku yang penuh syukur. Sholat magribku terasa begitu ringan. Ada jamuan tak kasat mata yang dituangkan dalam diriku. Damai. Walaupun aku tidak bisa menjalani ta’aruf seperti yang dilakukan oleh penjujung sunnah. Gaya saling mengenal ala jaman nabi-nabi dulu. Tapi, perlahan-lahan kuperbaiki diriku, dan yang terpenting, aku bukan penganut liberal, sekuler dan Islamfobia lainnya. Kurasakan cinta itu bertambah menggunung bersamaan dengan jariku yang menuding hidungnya  pertama kali melihatnya beberapa menit yang lalu. Kurasakan lagi getaran cinta itu setelah dia pergi dari kehidupanku. Untuk kedua kalinya. Pertama, dulu, sepuluh tahun yang lalu, waktu beberapa bulan jadi mahasiswa. Tahun-tahun awal merasakan dunia perkuliahan, aku pernah jatuh cinta pada seorang wanita. Dia begitu baik hingga keyakinanku pada saat itu bahwa dia adalah jodoh yang dikirim tuhan untukku. Aku menjalani hari-hari dengannya sebagaimana pasangan-pasangan lain melewatkan hari-harinya. Segalanya indah. Nyaris tak ada masalah. Rumahku sudah seolah jadi rumahnya. Tak ada batasan apapun merintanginya selama masih dalam garis kebaikan. Hingga tiba hari tu, hari dimana dia jujur atas perjodohannya dengan seorang lelaki pilihan orang tuanya jauh sebelum dia mengenalku. Seorang anggota Polisi, dan dia rahasiakan dariku. Aku kecewa dan keyakinan itu mulai runtuh perlahan. Atas keakrabanku yang sedemikian dekat dengan anaknya, orang tuanya, setiap kali aku mengunjungi rumahnya menunjukan seringai tidak suka. Kerut-merut di wajahnya  yang berwarna tembaga semakin mencuat membentuk lemak-lemak yang tak terurus. Semakin lama penghalang itu semakin tebal merintangi. Atas keinginan besar untuk hidup bersama, aku dan dia melakukan upaya “Londo iha” (Selarian) sebagai satu-satunya jalan pintas. Tujuanku ingin membawanya ke lombok, ke rumah bibiku, lalu pergi sejauh mungkin, tapi digagalkan. Aku diseret keluar dari bus kota yang kami tumpangi dan dilempar di jalan seperti anjing dilindap bus. Aku dikeroyok meninggalkan lebam di sekujur tubuhku.  Aku meringkuk di atas lututku yang lecet dan hatiku yang berdarah. Wajahku penuh lebam, hatiku porak-poranda. Aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku seolah tertebas sebilah pedang ajaib yang disebut Excalibur  oleh putri danau dalam legenda Raja Athur. Keesokan harinya, atas dasar cinta yang meruap, aku kembali ke rumahnya dan berusaha meyakinkan orang tuanya, tapi yang kudapat adalah perlakuan kasar dan diusir. Dengan ujung mataku, aku melihatnya memberontak, tapi dia tetaplah seorang wanita. Wanita lemah yang pemberontakannya dengan mudah dapat digagalkan. Apalah daya dia hanya seorang wanita. Tapi aku senang, dia dengan segala ketidakberdayaannya masih ingin mempertahankanku. Aku pulang dengan hati yang patah. Putus asa, dan tidak genap seminggu setelahnya, dia dinikahkan dengan orang yang telah dijodohkan dengannya itu. Aku sock mendengarnya. Kurasakan hari-hari begitu panjang kulewati. Aku serupa diterpa amukan badai yang menyempurnakan kekalahan dan kehancuran armada Phillip yang dikejar tentara inggris pada perang 1588 saat Ratu Elizabet I berkuasa. Aku kalah dan terhempas. Aku sakit-sakitan hampir setahun. Kuliah berantakan. Aku mengurung diri dan tak heran, aku serupa mayat hidup. Tulang-tulang mencuat dan hampir saja berhamburan ke tanah kalau tidak ada kulit yang membungkusnya. Memprihatinkan, hingga suatu hari, aku sadar bahwa yang telah lalu adalah masa yang telah pergi. Yang tiada akan tetap tiada. Kubiarkan ia pergi dan dengan segala keikhlasan, kukubur dia dan segala detail kenangannya. Aku sembuh dimana hari itu, seharian penuh aku duduk di belakang rumah dan menikmati matahari yang beringsut. Betapa matahari hari itu serupa jamu terpahit yang kuteguk dan menyempurnakan penyembuhanku. Betapa aku menyadari  suasana di luar saat itu adalah surga kongkrit yang mesti kunikmati. Hari ini, aku tengah membangun lagi kepercayaanku atas wujud cinta, sesuatu yang lama mati, dan dia kembali memenuhi harpa ruang bathinku, tentunya dengan harapan baru.
  

“Sebaiknya kalian secepatnya ke kota Bima, takutnya ada apa-apa di jalan, “ pamannya menyarankan.
“ Iya, takutnya temanku di sana menunggu lama, “ dia menambahkan.
Selain bertemu dan melepas rindu, Mawar, punya agenda lain yang berkaitan dengan pekerjaanya. Selain menjadi bidan desa, dia menggeluti dunia bisnis yang bergerak di bidang obat-obatan di luar obat-obat resmi yang dikeluarkan pemerintah. Penggelut bisnis ini datang dari berbagai pelosok dan dari berbagai profesi, nyaris semua profesi ada di sini.

Sekelebat tanya dalam pikiran. Kuterka apa yang tersembunyi di balik senyum yang tengah kunikmati di wajahnya saat ini. Merasakan naik satu motor berdua pertama kalinya. Aku diamuk asmara ketika kususuri jalan kota bima dalam remang. Merasakan kembali hangat nafas kota bersama orang yang kucintai. Lampu-lampu jalan berdendang. Mereka bercakap-cakap dan bersorak dalam kebisuan yang kami ciptakan. Kulaju motorku pelan, sementara nakal sepoi berhembus sisakan sentuhan lembutnya di wajahku dan suaranya magis. Nyaris tak kudengar suara motorku, sunyi. Aku tak bermaksud untuk memulai berbicara. Kami asyik dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang ingin memulai berbicara. Kupikir memang terasa tidak sopan kalau mengajaknya berbicara di atas motor dalam perjalanan. Kesan pertama, bathinku, maka sampai ke kos-kosan temannya yang akan digunakannya untuk menginap, kami baru sempat berbicara lagi. Sepanjang jalan diam dalam balutan kota Bima yang remang. 

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar