Januari telah pergi. Terbungkus rapi di bingkai kenangan. Kini
Secarik kisah tertuang. Pada senja yang sama Januari mengatup, sementara
sebentar lagi Februari memulai harinya. Angin berhembus dengan lincahnya dan
berbicara dengan alam dalam wujud dedaunan yang
bergerak mengantar keduanya ke
peraduannya masing –masing. Kejar-kejaran
bak anak kecil bermain layang – layang. Menyibak udara senja yang semakin dingin.
Januari telah Hengkang, sementara Februari mulai menyusun kisahnya yang masih
mistis. Pada detiknya aku urai rasa di segenap penjuru langit yang memberi
pelangi di musim hujan. Pada bumi yang merindu, kini langit membikis jutaan
jejarum embun, lalu tertuang di jiwa – jiwa tandus nan hening. Hadiah pergantian waktu. Pada rasa yang kian
erat aku susul rindu yang meronta. Pada raga yang memiliki savana yang indah
aku tambatkan pula cinta yang melimpah menghijau. Pada kekasih kulabuhkan
semuanya.
Hari ke-4 di bulan
Februari pagi ini begitu indah. Hujan yang dari sepertiga malam terakhir telah
sisakan rinainya saja. Kutuntun harapan dan kuketuk pintu pengampunan serta
doa-doa kulantunkan dalam sholatun lail serta
Shubuh-ku yang damai. Setelahnya, kubuka tingkap kamarku dan kulihat riak-riak
kecil gerimis berlompatan di jalanan dan
berayun di atap-atap. Embun menggelayut
di seluruh dedaunan bak permata di mahkota Ratu cleopatra. Selepasnya Langit tampak cerah. Hari ini, tanggal 4
Februari 2013. Setelah beberapa bulan hanya saling mengenal lewat handphone dan
berbagi foto lewat akun sosial media, aku berjanji bertemu dengannya, selepas
sholat asyar. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu. Itu artinya pertemuan
pertama ini dilakukan pada malam minggu. Malam yang biasa dilewati muda-mudi
untuk bertemu kekasih mereka, atau kerabatnya untuk sekedar melewatkan waktu. Kususuri
jalan dari rumah menuju tempat yang
dijanjikan. Aku cukup menikmati perjalanan ini. Beberapa bunga liar di
pinggir jalan seolah tersenyum. Walaupun tumbuh liar mereka tumbuh di belantara
yang terjaga dan alami. Tak ada penoda yang berkeliaran. Bunga yang berwarna
ungu campur biru dan tumbuh merambat di semak-semak. Aku suka bunga ini. Betapa
alam ini begitu elok kalau dibiarkan apa adanya. Bak perawan tanpa noda ia
kembangkan kuntumnya. Tidak seperti bunga-bunga di kota. Bunga- bunga di kota
indah-indah dengan corak yang menawan tapi dengan warna yang pudar. Tak tampak
lagi keanggunannya. Mungkin kehidupan kota yang telah merenggutnya. Bunga-bunganya
nampak telanjang. Sudah gak perawan lagi, mengingat racun yang keluar lewat
cerobong knalpot kendaraan mereka yang berhidung belang telah menyedot dan
menodainya. Kami tinggal di kabupaten yang berbeda. Dari rumahku ke tempatnya
hanya membutuhkan waktu 2-3 jam saja. Destinasi kami ke kota bima dan bertemu dulu
di sila, tanah kelahirannya dan masih dalam lingkup kabupaten tempat tinggalku,
kabupaten Bima. Untuk sampai di sana aku hanya butuh waktu lebih kurang satu
jam saja. Dia pindah kabupaten dan
tinggal di sana karena ayah dan ibunya dipindahtugaskan ke kabupaten itu,
Kabupaten Dompu.
Hari hampir senja. Kulihat matahari hampir menyelimuti
dirinya di balik gunung. Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Rasa
penasaran bercampur rindu menyeruak dan bahkan merembes di jalanan. Di jalanan
yang sepi ini aku merasa ramai. Kodok yang bernyanyi, burung senja bersiul.
Ramai sekali.
“Rumah paman dimana?” tanyaku lewat telepon karena tidak
tahu persis rumah pamannya yang menjadi tempat pertemuan kami.
“ Kakak dimana? “ tanyanya balik.
“ Aku di depan pintu gerbang gedung Paruga Na’e sila. Kesini
saja, jemput aku!” saranku.
“ Iya, kakak tunggu saja di situ, biar adik jemput,” sarannya.
Beberapa menit kemudian muncul seorang wanita dan kutanya
apa dia mencari seseorang. Katanya, tidak. Dia hendak ke rumahnya setelah
pulang belanja di warung terdekat. Oh..., kupikir dia, pantasan kelihatan tua,
bathinku.
“Hey...,maaf telah bikin menunggu lama,” seseorang menepuk
pundakku dan suaranya begitu familiar.
“ Mawar?” tanyaku sambil telunjuk kananku sejajar dengan
hidungnya. Hampir saja menyentuh hidungnya yang unik. Mancung di bawah dan
atasnya agak ke dalam tapi, dalam pandanganku cukup serasi dengan pipinya yang
sedikit tembem. Seringainya malu-malu dan rona merah jambu di kedua sisi
pipinya telah buatku melompong dalam sesaat.
“ Bukan, adik bukan, Mawar tapi, orang
yang beberapa bulan ini kaukenal dan baru saja kaulihat,” katanya sambil
memasang senyum yang indah sekali. Kulihat dia sedikit canggung. Sesaat kami
diam dan...
“ beraninya kamu menggombaliku. Yuk! Kita ke rumah paman
sebelum magrib usai. Kakak belum sholat, “ aku memperingatkan dan kutinggalkan
satu senyum tepat di depannya sebelum berpaling.
Dalam sujudku yang penuh syukur. Sholat magribku terasa
begitu ringan. Ada jamuan tak kasat mata yang dituangkan dalam diriku. Damai. Walaupun
aku tidak bisa menjalani ta’aruf seperti yang dilakukan oleh penjujung sunnah. Gaya saling mengenal ala jaman nabi-nabi
dulu. Tapi, perlahan-lahan kuperbaiki diriku, dan yang terpenting, aku bukan
penganut liberal, sekuler dan Islamfobia lainnya. Kurasakan cinta itu bertambah
menggunung bersamaan dengan jariku yang menuding hidungnya pertama kali melihatnya beberapa menit yang
lalu. Kurasakan lagi getaran cinta itu setelah dia pergi dari kehidupanku.
Untuk kedua kalinya. Pertama, dulu, sepuluh tahun yang lalu, waktu beberapa
bulan jadi mahasiswa. Tahun-tahun awal merasakan dunia perkuliahan, aku pernah
jatuh cinta pada seorang wanita. Dia begitu baik hingga keyakinanku pada saat
itu bahwa dia adalah jodoh yang dikirim tuhan untukku. Aku menjalani hari-hari
dengannya sebagaimana pasangan-pasangan lain melewatkan hari-harinya. Segalanya
indah. Nyaris tak ada masalah. Rumahku sudah seolah jadi rumahnya. Tak ada
batasan apapun merintanginya selama masih dalam garis kebaikan. Hingga tiba
hari tu, hari dimana dia jujur atas perjodohannya dengan seorang lelaki pilihan
orang tuanya jauh sebelum dia mengenalku. Seorang anggota Polisi, dan dia
rahasiakan dariku. Aku kecewa dan keyakinan itu mulai runtuh perlahan. Atas
keakrabanku yang sedemikian dekat dengan anaknya, orang tuanya, setiap kali aku
mengunjungi rumahnya menunjukan seringai tidak suka. Kerut-merut di wajahnya yang berwarna tembaga semakin mencuat
membentuk lemak-lemak yang tak terurus. Semakin lama penghalang itu semakin
tebal merintangi. Atas keinginan besar untuk hidup bersama, aku dan dia
melakukan upaya “Londo iha” (Selarian) sebagai satu-satunya jalan pintas. Tujuanku
ingin membawanya ke lombok, ke rumah bibiku, lalu pergi sejauh mungkin, tapi
digagalkan. Aku diseret keluar dari bus kota yang kami tumpangi dan dilempar di
jalan seperti anjing dilindap bus. Aku dikeroyok meninggalkan lebam di sekujur
tubuhku. Aku meringkuk di atas lututku
yang lecet dan hatiku yang berdarah. Wajahku penuh lebam, hatiku porak-poranda.
Aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku seolah tertebas sebilah pedang ajaib yang
disebut Excalibur oleh putri danau dalam legenda Raja Athur. Keesokan
harinya, atas dasar cinta yang meruap, aku kembali ke rumahnya dan berusaha
meyakinkan orang tuanya, tapi yang kudapat adalah perlakuan kasar dan diusir. Dengan
ujung mataku, aku melihatnya memberontak, tapi dia tetaplah seorang wanita.
Wanita lemah yang pemberontakannya dengan mudah dapat digagalkan. Apalah daya
dia hanya seorang wanita. Tapi aku senang, dia dengan segala
ketidakberdayaannya masih ingin mempertahankanku. Aku pulang dengan hati yang
patah. Putus asa, dan tidak genap seminggu setelahnya, dia dinikahkan dengan
orang yang telah dijodohkan dengannya itu. Aku sock mendengarnya. Kurasakan hari-hari begitu panjang kulewati. Aku
serupa diterpa amukan badai yang menyempurnakan kekalahan dan kehancuran armada
Phillip yang dikejar tentara inggris pada
perang 1588 saat Ratu Elizabet I berkuasa.
Aku kalah dan terhempas. Aku sakit-sakitan hampir setahun. Kuliah berantakan.
Aku mengurung diri dan tak heran, aku serupa mayat hidup. Tulang-tulang mencuat
dan hampir saja berhamburan ke tanah kalau tidak ada kulit yang membungkusnya.
Memprihatinkan, hingga suatu hari, aku sadar bahwa yang telah lalu adalah masa
yang telah pergi. Yang tiada akan tetap tiada. Kubiarkan ia pergi dan dengan
segala keikhlasan, kukubur dia dan segala detail kenangannya. Aku sembuh dimana
hari itu, seharian penuh aku duduk di belakang rumah dan menikmati matahari
yang beringsut. Betapa matahari hari itu serupa jamu terpahit yang kuteguk dan
menyempurnakan penyembuhanku. Betapa aku menyadari suasana di luar saat itu adalah surga
kongkrit yang mesti kunikmati. Hari ini, aku tengah membangun lagi
kepercayaanku atas wujud cinta, sesuatu yang lama mati, dan dia kembali
memenuhi harpa ruang bathinku, tentunya dengan harapan baru.
“Sebaiknya kalian secepatnya ke kota Bima, takutnya ada
apa-apa di jalan, “ pamannya menyarankan.
“ Iya, takutnya temanku di sana menunggu lama, “ dia
menambahkan.
Selain bertemu dan melepas rindu, Mawar, punya agenda lain
yang berkaitan dengan pekerjaanya. Selain menjadi bidan desa, dia menggeluti
dunia bisnis yang bergerak di bidang obat-obatan di luar obat-obat resmi yang
dikeluarkan pemerintah. Penggelut bisnis ini datang dari berbagai pelosok dan
dari berbagai profesi, nyaris semua profesi ada di sini.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar