Kamis, 08 Oktober 2015

Doro Raja 2


***
PAGI ini, seperti biasa, aku bangun lebih awal. Adzan berkumandang bersahut-sahutan dari menara masjid yang sama tingginya dengan bangunan-bangunan di samping kiri dan kanannya. Tidak lupa kujunjung subuh-ku yang dua rakaat itu sebagai upaya untuk membedakan diriku di hadapan Tuhan dengan manusia lain yang dzolim. Mungkin saja ini akan jadi bekal meraih jannah-Nya yang baunya saja bisa tercium dari jarak 70 tahun perjalanan itu. Mungkin saja akan jadi pelindung dari berkumpul dengan para pendengar khutbah penduduk surga yang meminta diri turun ke bumi untuk menggoda manusia, iblis laknatullah di neraka kelak. Kewajiban yang harus kutunaikan sebagai penyangga Agama Allah dari keruntuhannya. Tidak lupa juga kubangunkan, Mawar,  via handphone untuk menunaikan sholatnya. Rutinitas yang tidak pernah luput kulakukan semenjak mengenalnya, dan sudah menjadi kebiasaan. Kadang aku terlambat bangun karena harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaanku hingga larut malam, dan dia bangunkan. Kurasa hal yang paling romantis di altar kehidupan ini bukan tentang Romantic kiss yang biasa didaratkan di kening, atau Angel kiss yang dilakukan di dekat pelipis yang notabene terkesan hangat dan penuh kasih itu. Bukan tentang warna pink sebuah boneka yang menjadi favorit wanita sebagai hadiah ulang tahunnya, dan bukan pula bagusnya jaket kulit bermerek yang diminati oleh kaum pria. Hal paling romantis bagiku adalah menikmati rajukan seorang wanita karena diganggu tidurnya untuk menunaikan sholatnya, “Sayang, bangun! Sudah adzan dan tunaikan sholatnya. Nanti kalau sudah berkeluarga, kita sudah lebih dulu melatih diri sebelum kita melatih anak-anak kita untuk mengenal tuhannya.” Kalau mau sesuatu yang lebih romantis lagi, perkenalkan kepada wanitamu bagaimana berpakaian yang baik. Belikan mereka jilbab dan kirimi dengan menyertakan tulisan ‘Pakaian istri adalah kemulian suami’ di pinggir sampul kadonya, atau di sehelai kertas berwarna jingga yang diselipkan di sela-sela jilbab tadi. Kalimat-kalimat dan hadiah ini jauh lebih romantis, bahkan sangat ajaib lebih dari sekadar adagium.
Bentangan lengan berwarna saga di ufuk timur menjamuku. Percikan sinarnya memantul pada dinding-dinding. Memanggilku untuk menyongsongnya lewat kokok ayam jantan, atau lewat tawa burung pengisap madu. Embun berguguran di dahan-dahan bunga karena guncangan yang ditimbulkan kaki mungil sang pengisap madu. Tangis bayi yang baru saja sadar dari mimpi kecilnya sebagai penanda hari baru. Anak-anak kecil dengan peci yang masih terpasang di kepala mereka asyik jalan-jalan pagi dengan ayah dan ibunya. Guruku bilang, orang yang suka jalan pagi selama 15 sampai 20 menit akan menjadi sehat dan awet muda.
“Jemput, Kak! Sebentar lagi pertemuan dengan rekan-rekan bisnis dimulai.”
“Aku baru saja mau mengeluarkan motor, sebentar lagi sampai ke tempatmu.”
“Belikan makanan, ya, Kak! Belum sarapan, neh.”
“Iya, tanpa kamu kasih tahu pun aku akan belikan. Tahu kenapa?”
“Tidak tahu, Kak!”
“Itu karena aku juga lapar.”
“Oh..., kukira mau mencuri-curi kesempatan makan berdua sambil suap-suapan.”
“Itu salah satunya. Oya..., Pipit sedang apa?”
“Dia masih tidur, Kak. Usai subuh dia langsung tidur lagi. Beberapa hari ini jarang tidur katanya.”
Hidup memang hanya diperuntukkan untuk sebuah perulangan. Kalau itu tentang cinta pasti hanya berkutat pada masalah mencintai, dicintai, dan selanjutnya ada bahagia dan kecewa. Di jalanan ini, orang-orang ramai memulai mengulang kegiatan yang itu-itu saja. Mengantor, absen, kerja dan pulang. Mereka berkelompok sesuai profesi dan kelasnya. Seorang dokter bergaul sesama dokter. Anak jalanan dengan sesama anak jalanan. Besoknya lagi masih melakoni kegiatan yang sama, besoknya lagi, lagi dan lagi hingga tiba waktunya pulang ke suatu tempat yang asing dan tidak pernah kembali. Mengantor di sebuah kantor yang gelap. Sendirian di sebuah jalan yang teramat sepi dan sangat jauh. Seperti tetua bilang ‘Ramai kese, dula kese’ (datang sendiri dan pulang pun sendiri). Bahkan di jalanan ini, banyak yang dihianati takdir, tergeletak tanpa nyawa, mati, usai. Perulangan itu betapa menjemukan, dan betapa indah bagi sebagian yang lain. Kita dihadirkan di muka bumi sebagai manusia yang memiliki batas kemampuan. Diracik sedemikian rupa hanya melakoni  sebuah perulangan sepanjang hayatnya. Bercengkrama dengan anak-anak dan istri bagi yang sudah berkeluarga sepulang kerja. ‘Kalalo kai maki ra hompa’ begitu kata orang Bima. Bertanya-tanya, kapan peristiwa penting yang mengubah statusnya dari pacaran menjadi suami-istri, dan menjadi seorang ayah dan ibu bagi yang masih sendiri.  Hanya itu-itu saja, tidak terkecuali diriku. Hari ini, aku sedang melakoni perulangan itu setelah ia sempat pergi dariku. Mencintai dan merasakan lagi getarannya. Masih di kota ini, dan bedanya kali ini dengan orang lain. Orang baru yang sedang menjamah hatiku. Di jalanan ini, entah berapa ribu kali aku menapaknya. Bila perlu mengendarai kendaraan di atas jalan ini dengan mata tertutup masih bisa kulakukan saking seringnya. Ini bentuk racikan Tuhan, di balik sifat tergesa-gesanya, manusia dititahkan kesabaran dalam dirinya agar perulangan ini dirasa tidak begitu menjemukan. Memasuki gerbang sebuah sekolah dan di pintu gerbangnya terpampang nama sekolah tersebut yang ditulis dengan huruf balok. Sebuah sekolah kejuruan di mana anak-anak bangsa mengukir prestasi dan tempatnya menimba ilmu untuk menyongsong masa depannya, SMK 2 Kota Bima. Di tempat inilah, Mawar dan teman—teman bisnisnya mengadakan pertemuan. Sebuah aula yang hanya cukup menampung dua ratus orang. Di depannya berdiri sebuah bangunan tempat disahkannya sepasang kekasih yang berstatus pacaran menjadi suami-istri sekaligus yang mengesahkan sebuah majelis perceraian secara agama dan hukum, Pengadilan Agama. Tempat yang menjadi saksi bisu dilangsungkannya sebuah ikatan resmi yang membahagiakan sekaligus mengesahkan sebuah perpisahan yang paling menyakitkan. Menjunjung titah Tuhan agar menyempurnakan separuh dien-Nya dan menjadi bagian dari Ummat Rasul-Nya. Ini adalah bagian yang membahagiakan. Sedihnya, jika dalam mengarungi bahtera rumah tangga dirasa paling menyakitkan, maka perceraian akan menjadi jalan satu-satunya untuk mengakhirinya. Jalan yang akan dipilih setelah semua jalan kebaikan untuk memperbaiki keadaan dicoba. Ada kesamaan antara perceraian dan perang. Dalam pidatonya, The Audacity of Hope, Barack Obama menuturkan bahwa perang memang kadang-kadang harus menjadi pilihan, tetapi tidak pernah menjadi pilihan pertama. Perceraian tidak pernah jadi pilihan pertama dalam sejarah kehidupan manusia. Perkara halal yang sangat dibenci Allah itu, akan dipilih jikalau pengharapan tidak terpenuhi dalam kehidupan rumah tangga. Kehidupan kaum urban sedemikian canggih hingga mengubah cara berpikirnya, bahwa menikah itu akan menyenangkan dan bersenang-senang, bahagia setiap waktu dan terus bersukacita selamanya. Padahal itu adalah awal kehidupan yang lebih sulit dan baru saja dimulai. Hal yang luput dari kesadaran mereka. Rumput tetangga lebih hijau, katanya, hingga mengampuni kesalahan saja sulit. Yang salah, maka akuilah, dan ketika benar pun, maka katakan juga maaf. Itu seharusnya. Uang, ya, benda ini tampak tidak berbahaya, namun dapat menuntun pada masalah yang lebih besar. Jarang sekarang ada istri yang mengatakan “jangan engkau beri makan aku kecuali yang halal dari apa yang engkau peroleh, dan dari usahamu yang diridhoi Tuhan.”  Jarang ada suami yang berpikir menyejahterakan istri dan anak-anaknya dengan jalan yang halal. Kualitas orang tua menentukan kualitas anak-anak. Mereka lebih suka malas-malasan di rumah daripada menjemput rezeki. Memaksa wanita yang berlabel istri ini menjadi tenaga kerja di luar negeri, atau bekerja apa saja dan tidak peduli halal atau haram. Padahal ketentuan yang ditetapkan dalam islam, istri hanya menjaga anak-anak dan harta suami dan membelanjakannya dengan baik. Adapun mereka bekerja menghasilkan uang yang lebih besar untuk memperbaiki ekonomi itu adalah bonus yang patut disyukuri. Hebatnya wanita, dia mampu melakukan peran ganda, ini luar biasa. Menjadi seorang anak, seorang istri, seorang ibu juga seorang wanita karier.
“Kalau sudah selesai pertemuannya, ditelepon, ya!”
“Bukannya, Kakak harus menungguku di sini sampai pertemuan selesai.”
“Gantiin satpam maksudmu?”
“Lalu, siapa coba yang pernah mengatakan ‘I always by your side’ setiap saat itu?”
“Tentu saja itu aku, tapi tidak harus menemanimu buang hajat, kan? Apa kata orang-orang kalau misalnya aku mengekorimu sedang presentasi di depan, atau hanya menikmati harum bokongmu yang pernah engkau banggakan itu?” Aku tertawa sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Benar aku mencintaimu, dan kebenarannya seperti teori, Christopher Columbus, bahwa bumi bulat. Bila berlayar di timur akan sampai di barat,” tambahku.
“Cinta jenis apalagi itu?”
“Bila aku ke timur, ke selatan, ke utara, ke barat, atau ke mana saja, maka aku akan tetap sampai di sini, di hatimu. Tak ada yang mampu menghalangiku dari memilikimu, kecuali jika kau yang meminta kupergi.” Kutunjuk hatinya yang tersembunyi dalam rongga dadanya. Dia menatapku. Mungkin dalam hatinya, aku ini adalah lelaki seperti apa, atau betapa romantisnya lelaki ini.
“Iya, sudah, Kakak tunggu saja di kos-kosan, dan nanti kukabari kalau sudah selesai.”
“Nanti ke rumah, ya. Aku mau memperkenalkanmu sama orang tuaku.”
“Iya, tapi..., aku tidak membawa apa-apa, Kak?”
“Tidak usah bawa apa-apa. Cukup bawa senyummu itu sebagai oleh-oleh buat mereka.”
“Iya, sudah kalau begitu. Kakak pulang dan istrahat saja dulu. Acaranya sudah dimulai.”
Bersambung.

Rabu, 07 Oktober 2015

Doro Raja 1


Pukul 8.22 malam, aku dan Mawar sudah berada di tengah kerumunan muda-mudi yang melewatkan malam minggu dengan kekasih mereka atau, keluarga kecil yang sengaja bernostalgia mengingat masa mudanya. Mungkin saja tempat ini adalah tempat bersejarah bagi mereka. Ada juga yang datang sesama cowok atau sesama cewek untuk sekedar menikmati suasana di tempat bersejarah ini. Mereka duduk membentuk lingkaran di tempat-tempat yang sengaja disediakan oleh penjual makanan dan minuman ringan di sini. Sebuah puncak yang diratakan dan di tembok rata membentuk persegi panjang serta diaspal. Di sebelah selatan ada dangau kecil. Tempat dimana kusaksikan sepasang kekasih mengikat janji. Entah apa yang disabdakan oleh cowoknya, si cewek menangis sesenggukan. Tangis bahagiakah yang pecah itu? batinku. Entahlah, tapi lewat binaran mata dan cahaya bulan yang tumpah ke dalamnya, aku dapat menangkap sinyal bahwa tangisannya adalah bentuk bahagia yang meluap. Aku diajari lagi dengan kejadian ini, bahwa kekecewaan dan kebahagiaan tetap memerlukan tangisan. Setiap sudutnya  ada lampu besar sebagai media penerang. Gemintang  bertaburan dengan semburat putih tipis di selatan membentuk huruf patah-patah yang tidak kumengerti, yang oleh ahli Astronomi menamainya Sistem Bintang Ganda Gerhana. Diapit oleh beberapa rasi Bintang Vela, Carina, Volans, Crux dan Musca; si lebah langit. Hebatnya lagi ada beberapa bintang besar dan terang di dekatnya, salah satu di antaranya; Miaplacidus. Benda yang sebagian besarnya terdiri dari Hidrogen dan Helium itu memang menakjubkan. Menatap dengan arah enam puluh derajad, memendar bintang yang berkelompok dengan enam anggota, Alcyone namanya. Konon, bintang ini adalah jelmaan tujuh bidadari tapi, sayang salah satunya telah tinggal di bumi dan telah dinikahi oleh manusia. Tempatnya tidak terlalu luas namun keindahan kota Bima seluruhnya dapat dinikmati di sini. Nyaris tak bisa kubedakan antara langit dan bumi sebab malam telah menyuguhkan pemandangan yang sama. Kota Bima menampilkan dirinya sebagai langit yang bisa dilihat dari atas, dan di atas puncak ini terlalu sempurna bagi kota Bima untuk bersembunyi. Langit yang dipindahkan malam dari atas langit ke bumi. Pijar-pijar lampu kota dari ujung ke ujung dapat dilihat secara menyeluruh. Pohon-pohon yang mengitari sebelah utara nampak tak kuasa menahan binal pendarnya lampu kota. Ketika mata menuding langit, maka mataku nyaris tidak menemukan perbedaan dari keduanya. Bedanya, lampu-lampu yang terlihat seperti bintang itu tidak tersusun seperti di langit, sedang di langit mereka tersusun atas garis edarnya masing-masing. Rasi andromeda. Aurora yang memperlihatkan keindahan adiluhungnya. Sungguh malam telah menyuguhkan teatrikal tak tertandingi. Mataku tersangkut pada rasi bintang utara yang membentuk huruf  ‘W’, salah satu rasi bintang dari 88 yang berhasil ditemukan pakar Astronomi modern dan diakui oleh International Astronomical Union. Cassiopeia sendiri diidentifikasi pada abad ke- 2 oleh astronom yunani, Claudius Ptolemaeus yang juga dikenal sebagai Ptolemi. Rasi bintang yang bernama Cassiopeia merupakan bagian dari keluarga rasi perseus, rasi bintang yang paling jelas dilihat pada bulan november ini, berlimpah dengan emisi nebula, berbagai gugus bintang dan bahkan sisa-sisa supernova. Rasi ini dikelilingi oleh rasi Andromeda di selatan, Cepheus di utara dan rasi Perseus di tenggara. Konon, Cassiopeia diambil dari nama seorang ratu dari mitologi yunani kuno. Cassiopeia adalah seorang ratu yang menyombongkan kecantikannya dan kecantikan putinya, Andromeda, melebihi siapapun. Kesombongan ini lantas memicu murka dewa laut, Poseidon. Cassiopeia berada di antara para bintang akibat hukuman dari para dewa. Mitos yang makin mengukuhkan bahwa kesombongan adalah sesuatu yang sangat tidak baik. Membuat pemiliknya lupa diri. Bahwa ‘janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan congkak dan sombong’ bukan lagi sesuatu yang dipatuhi dan ditakuti, bahkan jelas ancaman-Nya orang yang congkak dan sombong itu tidak diperkenankan mencium bau jannah-Nya.

“ Kamu lihat tidak bintang yang paling terang itu? tanyaku mulai mencairkan suasana.
“ iya, lihat, kak!

“ Bintang itu namanya, Sirius yang juga dikenal dengan nama ‘Bintang anjing’ adalah salah satu bintang paling terang di langit.”

“ Kenapa namanya Sirius, kok bukan ismail atau Rhoma irama? “ Kelakarnya disertai tawa.

“ Ya, kalau Ismail itu nama orang di kampungku. Atau yang paling tenar adalah nama anaknya Nabi Ibrahim yang gagal disembelih lantaran ditukar domba oleh malaikat jibril. Nah, kalau Rhoma irama jelas adalah satria bergitar. “ aku tertawa sambil menuding wajahnya dengan telunjukku.

“ Terus kalau yang di sebelah barat yang  dekat dengan  bintang yang serupa bajak itu bintang apa namanya? “
“ Kalau yang itu namanya, Mba’i romba. “ nama buaya paling ganas itu spontan keluar dari mulutku. Mba’i romba adalah sebutan orang Bima yang ditujukan pada buaya paling ganas yang dikenal buaya putih bagi kalangan umum.

“ Akh...bercandanya keterlaluan. Masa nama bintang, Mba’i romba. Bukannya binatang itu yang sering di laut dan kalau jemur diri di matahari mulutnya menganga? “ Protesnya.

“ Iya, protes biasa saja. Masa gara-gara itu mulutnya sudah maju lebih dari 20 cm. Bintang itu namanya, Betelgeuse, ia merupakan bintang super raksasa merah dengan sekitar 13 ribu kali lebih terang dari matahari dan berukuran 1000 kali lebih besar. Kau tahu? Jika Betelgeuse menggantikan posisi matahari maka diameternya akan  mencapai orbit jupiter.“

“ Bumi akan terpanggang tentunya kalau Betelgeuse menggantikan posisi matahari ? “ Sergahnya serius.

“ Iya, tepatnya begitu. Inilah yang perlu kita sadari bahwa apa yang tercipta di tangan-Nya diatur sedemkian rupa menurut ukurannya masing-masing. Kalau seandainya itu terjadi, barangkali tak akan ada kehidupan di muka bumi ini. “

“ Kakak pintar. Tahu dari mana nama bintang-bintang itu, “ pujinya antara mengejek dan senang.

“ Jangan puji, kakak. Pujilah Guruku yang susah payah mengajariku sampai mulut berbusa. Dia adalah Guru terbaik di sekolahku. Dia rela datang lebih awal dan menunggu kami siswanya dalam ruangan kelas. 

Sosoknya masih yang terbaik. Pada akhirnya, dulu, waktu sekolah menengah pertama itu, aku menamatkan sekolahku dan lulus dengan Nem tertinggi, “ jelasku panjang lebar.

“ Kalau begitu, kakak tidak pintar. Gurumu yang pintar sekali. “

“ Tentu saja pintar, muridnya saja sudah pintar apalagi Gurunya.”

“ Kalau begitu jelaskan tentang bintang-bintang lain selain yang kakak jelaskan tadi, “ tantangnya.

Procyon kenapa lebih terang? Kau lihat Bintang di barat itu? Itu namanya Procyon, bintang kuning putih yang merupakan salah satu bintang yang cukup dekat dengan planet kita, Bumi. Mungkin itulah alasannya kenapa bintang ini menjadi salah satu yang paling terang. Aku juga pernah belajar sejarah mesir kuno, yang pada saat itu ada sebuah kota di utara mesir, namanya Canopus. Aku tidak tahu persis kenapa nama kota mesir kuno itu dikaitkan dengan bintang. Canopus adalah bintang paling terang ke-2 di langit.”

“ Nama bintang-bintang yang kakak sebutkan dari tadi aneh-aneh. Kenapa bukan Duruhama, Durukaleli atau Sma’i mangge?” dia tertawa terpingkal-pingkal. Dapat dari mana dia nama-nama aneh seperti itu.

“ Seandainya nenek moyang kita yang lebih dahulu mengidentifikasi benda-benda langit itu tentu saja namanya pasti, Duruhama, Durukaleli  atau Sma’i Mangge seperti yang kamu sebutkan tadi. Tapi sayang bukan. Orang-orang yunani dan barat lebih dulu mengidentifikasinya dan jelaslah kenapa nama bintang-bintang jadi aneh.“ sanggahku.

“ Sekaligus membuka mata kita bahwa dunia barat sudah sedemikian canggih, sedang kita di sini, mungkin saja masih di jaman batu apalagi mengenal kemerdekaan, “ Mawar menambahkan.
“ Nah, sekarang yang pintar siapa? Tanyaku sambil wajah kubuat lucu. Kami tertawa sepantasnya dan diam beberapa saat. Menyeruput minuman yang hangat yang telah kami pesan dan memakan makanan ringannya juga.

“ Nah, kalau yang hampir tenggelam di bagian selatan itu, bintang apa namanya? “

“ Kalau yang itu masih dalam kelompok super raksasa, menurut Astronom warnanya putih kebiruan dan berjarak sekitar 69 tahun cahaya dari bumi. Coba bayangkan, alangkah jauhnya dari planet kita. Langit sendiri tidak terbayangkan lagi jauhnya. Sayang, manusia tidak mau belajar dan berpikir, betapa maha karya ini adalah karya-Nya, Tuhan semesta alam.”

“ Mendadak ustad.”

“ Huuusss...jangan mengejek doa orang. Aamiin-kan saja. Siapa tahu aku benaran jadi ustad dan bisa membimbing ummat, bukankah setiap ucapan itu adalah doa? “ Sergahku.
“ Sebenarnya masih banyak bintang-bintang besar dan terang tapi jam segini sudah tenggelam, “ tambahku sambil kuselidik sudut-sudut langit.

“ Sepertinya kakak tahu segalanya tentang peta langit.”

“ Ada yang aku tidak tahu, yaitu peta hatimu.”

 “ Kenapa dengan hatiku? “ Tanyanya.

“ Apakah ada aku di sana? “ Dia memandangku lama sekali. Dia melihat wajahku detail.

“ Wajahmu tidak bosan dipandang, Kak!  Oya, tempat ini, kalau tidak salah, tempat paling bersejarah. 

Kalau, iya, ceritakan, donk, kak!” cepat-cepat dia alihkan pembicaraan ke topik lain. Entahlah alasannya kenapa.

“ Tentu saja tempat ini sangat bersejarah. Kaulihat tempat ini terbagi atas dua tempat? Yang sebelah timur dan dipagar besi keliling itu adalah makam para raja dan sultan Bima. Dae Fery juga salah satu pemilik makam itu.”

“ Menurut cerita, nama Mbojo berasal dari istilah bahasa Bima “ BABUJU” . Babuju adalah tanah yang tinggi, busut jantan. Nah, tanah itu adalah tempat ini. Tanah semacam ini dalam bahasa Bima disebut “ DANA MA BABUJU” . Babuju adalah tempat diadakannya Musyawarah para Ncuhi  tentang ‘ di tuha Ro Lanti’ atau dinobatkannya Indra Zamrud sebagai raja Mbojo yang pertama. Selain itu tempat dimana para Ncuhi  menentukan nama kerajaan,” tambahku.

“ Kadang bingung juga kalau ada teman-teman yang ngajak ke sini, kadang sebutannya Bima, kadang Mbojo. Jadi kesannya pulau tempat, kakak bermukim ini punya dua nama.”
“ Kalau Bima itu diambil dari nama ayah Raja Indra Zamrud, sang Bima, yang sangat berjasa dalam merintis pendirian kerajaan, dan oleh karena sang Bima berasal dari jawa, maka orang-orang jawa mengenalnya dengan nama Bima. Jadi, sampai sekarang dana Mbojo (tanah Bima) mempunyai dua nama, yaitu Mbojo dan Bima.”

Tak terasa malam ‘kian larut dan aku baru sadar setelah melihat jam tanganku, ternyata sudah jam 10 lewat lima belas menit. Dingin mulai menggigit-gigit kulit. Awan-awan tipis mulai mencium daun-daun pohon tertinggi dan perlahan hamparannya berselimut halimun. Kuedarkan pandangan dari ujung ke ujung, semakin malam tempat ini  semakin indah. Langit semakin terang dengan gemintangnya. Kabut-kabut telah menepi. Nyanyian horor burung malam mencitrakan keindahannya yang misterius. Kalong-kalong bergelantungan di pohon-pohon liar yang rasa buahnya, barangkali kecut. Pengunjung yang tadinya ramai, sekarang  tinggal beberapa orang saja. Rasa lapar mulai menyerang. Ada suara aneh di dalamnya. Dan kulihat, Mawar, cekikikan mendengarnya. Aku cukup menikmati suara tawanya sekaligus bibirnya yang mengembang dengan gigi yang kelihatan rata.

“ Lapar, ya?”

“ Menurutmu?”

“ Ya, tadinya kupikir tidak, tapi suara gamelan di perutmu mengirim sinyal, bahwa ia butuh makanan,” kata Mawar.

“ Ya, sudah, Kita cari makanan, yuk!” ajakku.

“ Dasar perut purba. Selalu terikat dengan makanan pokok. Setelah menghabiskan banyak makanan ringan masih saja keroncongan,” Gerutunya ngejek.

“ Duwh...kaya ibu rumah tangga saja yang omelin anaknya menghabiskan makanan sekulkas. Atau mengajak teman-temannya yang berjumlah sepuluh orang dan bermain bola dengan makanan tersebut,” kataku mengejek sambil menghidupkan mesin motorku.

“ Yuk, naik tuan putri!” ejekku lagi.

Kami menuruni Gunung Raja yang menukik. Jalannya melengkung merupa huruf  ‘C’  yang makin ke kiri. Kiri dan kanannya diapit pohon-pohon kecil yang sudah lama tidak dipotong petugas. di beberapa bagian terdapat tangga dan tampak beberapa pasangan muda, atau barangkali berusia setengah senja sedang duduk bercengkerama di sana. Enam belas menit kemudian, kami sudah berada di tengah kota. Sudah mulai sepi dan warung-warung sudah tutup. Mengelilingi kota hanya sekedar mengisi perut, tapi tak ada satu pun yang terbuka. Alasannya habis. Malam minggu memang manusia di kota ini tak ada yang masak di rumah. Mereka akan makan di luar dengan keluarga mereka dan kami tidak mendapatkan jatah. Kami meninggalkan pusat kota dan menyisir lokasi Amahami  dan di tempat ini masih sangat ramai. Aku memarkir motorku di halaman sebuah cafe. Sebuah cafe dengan pesona dominan merah, Surf cafe. Kami mengambil tempat duduk paling strategis dan kebetulan yang duduk di tempat tersebut baru saja pergi. Kini pantai Amahami  dalam genggaman mata. Barisan kendaraan yang terparkir sepanjang lebih kurang dua kilo meter dari Lawata sampai ujung utara Ama hami serupa barisan aparat yang mengawal aksi demonstrasi. Berada di lantai dua cafe ini, gelombang kecil yang berkejaran dapat dengan jelas dilihat bersamaan dengan cahaya bulan yang tumpah, tak ada awan yang menghalangi. Daratan yang menyimpang di pantai Lawata masih dapat kulihat dengan jelas. Sejauh mata memandang, kerlipan lampu-lampu desa orang Donggo juga dapat dinikmati. Surf cafe berdiri dari sebidang tanah berukuran 20 x 20 Meter. Bercat merah maroon dan semua lampu-lampu ruangannya bernuansa merah, mirip hari imlek. Penyanyi-penyanyi cafe bergantian bernyanyi. Mula-mula yang bernyanyi seorang gadis berumur sekitar 19 tahun dan 40 m3nit kemudian digantikan lelaki umuran 25 tahun.

Kini kumenemukanmu
Di ujung waktuku patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang selamatkan hidupku

Kiniku telah bersamamu
Berjanji ‘tuk sehidup semati
Walau akhir sang waktu
Kita bersama ‘tuk selamanya

Lagu ‘seventeen’ mengalun merdu sementara riuh  suara pengunjung dan deru kendaraan sama sekali tidak mengurangi romantisme yang ditimbulkannya. Keadaan selalu  bisa membaca suasana hati. Aku yang sedang diamuk asmara tengah tenggelam di dalamnya. Merenangi bening mata wanita yang tengah duduk di hadapanku sekarang.

“ Kau mau makan apa?” Tanyaku

“ pesan yang sama saja, ya!” Jawabnya

“ Mau pesan apa, mas? Untuk menu-nya dapat dilihat di list menu,” pelayan menyarankan
“ Untuk minumannya, coklat float, ya, dan makanannya, nasi goreng saja,” kataku

“ Dan, mbak!” Pelayan menunjuk Mawar.

“Menu-nya sama saja, mas!” Mawar menjawab.

“Iya, baik, mas, mbak, pesanannya ditunggu saja,” pelayan mengingatkan dan segera melayani tamu lain.

 “Sudah kamu beritahu temanmu bahwa kita akan pulang selesai makan,” tanyaku

“Iya, sudah. Dia masih di rumah sakit, ada pasien kecelakaan katanya dan sekitar 35 menit lagi akan pulang,” jawabnya.

“Berarti kita makannya tidak usah pake ngebut. Masih ada waktu. Aku takutnya gerbang depan kos-kosan digembok,” Kataku

“Saya juga bawa kuncinya,” Jawabnya.

Pengunjung surf cafe tinggal beberapa saja. Deretan meja dan kursi sebagian besar telah kosong. Kami menuruni anak tangga disusul beberapa orang di belakang. Samar-samar nyanyian penyanyi cafe masih terdengar. Aku kembali mengukur jalan. Kali ini tidak sendiri. Ada seseorang di belakang diam seribu bahasa. Menjamah lagi jalanan sekitar pantai Amahami yang semakin lengang dan mulai kelihatan sepi. Kendaraan yang terparkir jarang-jarang serupa sebuah desa yang baru dihuni beberapa orang.  Jalan sukarno-hatta kembali dilindap ban motorku. Kalau saja tidak ada seseorang di belakangku, mungkin aku merasa perulangan ini adalah hal yang paling menjemukan. Di bawah nuansa malam yang terang dengan taburan bintangnya, kami memasuki sebuah gang kecil dan beberapa saat kemudian kami sampai di kos-kosan temannya. Seperti sudah dijanjikan, sebuah motor scutter  tiba di depan pintu gerbang tempat kami berdiri. Sesosok wanita mungil seumuran 24 tahun dengan postur tubuh ramping dan cukup manis. Pipit namanya. Kalau tidak jeli melihat, mungkin orang-orang akan mengira dia baru berumur 17 tahun.

“Kenapa berdiri saja? Dibuka, dong gemboknya!” Pipit menyarankan.

“Sini kuncinya biar aku saja,” aku menimpali.

Setelah kubukakan gerbangnya, mereka masuk bersamaan dan mendorong motor masuk dan memarkirnya.
“Kakak tidak masuk dulu?” Pipit bertanya.

“Tidak usah, Pit! Aku langsung pulang saja. Tidak enak sama pemilik kos, masa jam segini masih ada tamu,” jawabku.

“Iya, sudah kalau begitu. Bisa mampir lain kali, kak!” Jawab Pipit sambil menatap Mawar dan melangkah masuk.

“Mawar, aku pulang dulu. Oya, Ini untukmu.” Kukecup telapak tanganku sendiri dan kutempelkan di keningnya. Dia tersenyum manis sekali dan sesaat dia berbalik dan melangkah masuk. Kuperhatikan dia sampai hilang di balik pintu kos-kosan temannya. Jalannya lamban dengan postur tubuh serasi dan berbentuk. Tidak tinggi juga tidak pendek. Kesan pertemuan pertama.

BERSAMBUNG

Selasa, 06 Oktober 2015

KABAR DARI SEBERANG 3


Beberapa hari ini, kami sering menghabiskan waktu lewat telepon. Bercerita apa saja dan sesekali nyinyir kuda. Kebiasaanku yang pandai melucu membuatnya begitu nyaman berlama-lama menelepon walau hanya membahas hal yang tak penting.
“ Nanti rencana punya anak berapa? “ aku melucu.
“ Satu saja sudah cukup. Hamil dan melahirkan itu tidak mudah. Makanya tidak salah, Nabi Muhammad ketika ditanya oleh para sahabat: Siapa yang harus lebih dulu dihormati oleh seorang anak, maka beliau menjawab: Ibumu dan dijawab ulang sebanyak tiga kali baru beliau menyebut: Kemudian Ayahmu. Di kakinya bau surga itu diperoleh. Sebab seorang ibu melahirkan kita antara hidup dan mati. Berjuang seperti mereka yang tak gentar di medan jihad, “ Dia menjelaskan panjang lebar di balik handphone. Aku tidak menduga kalau dia menanggapinya seperti ini. Wanita seperti apa dia sebenarnya, batinku.
“ Apa tidak terlalu sedikit kalau kita hanya punya satu anak, “ jawabku masih dalam nada gurau.
“ Iya, deh, Dua. Tapi, awas, ya, kalau minta banyak-banyak, “ katanya dan kudengar tawanya pecah. Aku
suka dia tertawa seperti itu. Jika dia sedang bersedih, pikirku, minimal tawanya setelah mengenalku akan menutupi kesedihannya dan, jika dia sedang bahagia, maka aku telah menambah kebahagiaan dalam hidupnya. Inilah yang perlu kusadari arti kehadiranku dalam kehidupannya, yaitu berbagi kebahagiaan, saling menguatkan dan mengurangi kekecewaan walaupun aku sadar bahwa hidup tak akan pernah jauh dari masalah. Aku bingung kenapa aku begitu nyaman dengannya padahal aku belum pernah bertemu. Hanya foto-foto yang dia kirim lewat E-mail atau di akun facebook-nya.  Satu lagi pelajaran yang kupetik di sini, bahwa cinta tidak serta merta hadir melalui mata, kita lihat dan kita rasakan. Cinta yang maha dasyat itu bisa timbul dari apa yang kita dengar. Kita mendengar tawanya sambil membayangkan rona wajahnya. Kita bayangkan gerak-geriknya ketika melucu. Merasa dekat walau dipisah jarak. Cinta itu buta ketika aku belum melihat ia bisa tumbuh. Cinta itu tuli ketika kumendengar dia tidak baik, maka aku mendengar cibiran itu seolah sabda nabi. Dan anehnya, belum bertemu saja sudah rencana mau punya anak berapa. Duwh...cinta!
“ Iya, dua saja dan yang penting jangan satu, kalau boleh usul tambah dua lagi, “ Aku kembali melucu dan kami sama-sama tertawa. Ada sesuatu yang menyusup aneh dan itu indah sekali.
“ Iya, boleh, tapi kakak yang melahirkan, “ lagi-lagi tawanya pecah.
“ baik, kalau begitu, aku jadi kamu dan kamu jadi aku dengan kata lain operasi pemindahan kelamin dan kandungan.”   
Berlama-lama mengobrol kadang lupa waktu. Segala kenangan pahit di masa lalu sementara hilang. Kadang-kadang ibuku ikut nimbrung mengobrol. Katanya kami harus segera dinikahkan. Alasannya takut makin tua dan tak sempat menikahi kami. Ada-ada saja. Kadang di tengah-tengah asyik mengobrol, aku sering ketiduran. Saat aku sadar masih saja dia menunggu dan dia protes. Aku senang dia merajuk manja. Diajak bicara dia diam tanda protes. Kuberi tahu dia kalau suaranya saat mengobrol seperti sedang mendengar lagu paling indah atau, sedang mendengar lantuan ayat Al,qur’an paling merdu. Maka jangan heran kalau aku sampai ketiduran, aku berdalih dan sedikit gombal. Kakak jahat, begitu protesnya. Kuberi tahu dia bahwa aku menjadi jahat setelah mengenal dia dan kejahatanku yang paling besar adalah membuatnya jatuh cinta dan, dia senang mendengarnya. Ada-ada saja yang terjadi dalam kisah cinta. Maka tidak heran sepanjang sejarah, karena cinta, mereka yang bertangan besi akan berubah lembut. Mereka yang awalnya hidup mengagungkan kesenangan rela meninggalkan kesenangan itu demi cintanya. Aku ingat dengan jelas, dulu ketika orang-orang seluruh dunia demam  kisahnya “Titanic” dimana karya besar itu mengisahkan tentang cinta yang sedemikian indah dan juga menyakitkan. Tentang arti sebuah pengorbanan. Kegilaan yang ditimbulkan cinta ini sungguh di luar dugaan. Film yang pertama kali diputar 1 November 1997 di Tokyo International Film Festival, yang kedua tanggal 19 Desember 1997 di Amerika serikat dan di Indonesia sendiri diputar pada tanggal 5 Januari 1998. Anggaran  pembuatannya cukup besar, 200 Juta Dolar. Sebuah epik, Roman dan bencana tentang kisah cinta antara Jack dan Rose yang berstatus sosial berbeda di atas kapal RMS Titanic. Dikisahkan pada bulan April 1912, Rose ( Saat itu bernama Rose Dewitt Bukater)yang masih berusia 17 Tahun menaiki RMS Tiitanic sebagai penumpang Kelas satu bersama ibunya, Ruth Dewitt Bukater, dan tunangannya, Caledon Nathan Hockley ( Cal ), seorang pengusaha sukses di bidang Industri. Rose tidak mencintai Cal, tetapi ibunya memaksanya untuk menikahinya karena masalah keuangan dan kehormatan keluarga. Di saat yang sama, seorang lelaki bernama Jack Dawson memenangkan tiket kelas tiga dalam permainan poker dan ikut serta dalam pelayaran perdana Titanic dari Southhampton menuju New York. Di atas Kapal, Rose yang tidak bahagia atas pertunangannya dan juga kehidupannya yang terkekang memutuskan untuk bunuh diri dengan cara terjun dari buritan kapal. Jack melihat peristiwa itu dan berhasil menghalanginya. Atas hal ini, dengan keberatan Cal mengundang Jack makan malam bersama mereka untuk keesokan harinya pada acara jamuan di kelas satu untuk membalas jasanya. Singkat cerita, Rose dan Jack menjalin persahabatan dan saling berbagi pengalaman serta kisah hidup mereka. Jack menceritakan petualangannya sebagai seorang pelukis sementara Rose berbagi kisah soal keputusasaan dan penderitaannya. Ikatan mereka semakin kuat saat mereka melarikan diri dari jamuan makan malam di kelas satu dan ikut serta dalam pesta penumpang kelas tiga. Lambat laun, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Jack kini telah jatuh cinta pada Rose, namun Rose cenderung tidak mempedulikan perasaan antara mereka yang semakin menebal karena pertunangannya dan juga status sosialnya. Tetapi Rose akhirnya memutuskan untuk melepaskan semua itu dan menyerahkan cintanya kepada Jack. Pada suatu malam, Rose meminta Jack melukis dirinya dengan hanya memakai kalung berlian “ Heart of the Ocean” , lukisan yang sama ditemukan oleh para pemburu harta karun 84 tahun kemudian. Di saat yang sama, kapten Edward J. Smith dan kru-nya seolah-olah tidak menghiraukan peringatan tentang Gunung Es yang berada dalam jalur pelayaran yang dilalui oleh Titanic. Malahan, atas perintah Joseph Bruce Ismay, direktur perusahaan White Star Line, Titanic semakin mempercepat lajunya meskipun pada saat itu malam hari. Pada malam 14 April 1912, dua orang pengawas kapal melihat bongkahan gunung es besar persis di depan jalur Titanic dan memberi tahu anjungan. First Officer William Murdoch memerintahkan kapal dibelokkan dan mesin dimundurkan, tetapi sudah terlambat; sisi kanan Titanic menabrak gunung es, sehingga menciptakan serangkaian lubang di bawah garis air. Lima kompartemen kedap air kapal bocor. Semakin jelas bahwa kapal ini terancam, karena kapal ini tidak bisa selamat jika lebih dari empat kompartemen bocor. Sementara itu, Cal telah mengetahui hubungan antara Jack dan Rose. Cal yang sangat marah lalu merancang  jebakan untuk memfitnah Jack seolah-olah mencuri berliannya. Walaupun Rose berpeluang untuk menyelamatkan diri lebih awal dari bencana kapal dengan menaiki sekoci bersama ibunya, dia memilih untuk kabur dari Cal---dan juga peluangnya untuk menyelamatkan diri dari sekoci---untuk mencari dan menyelamatkan Jack yang diborgol ke tiang di dek bawah oleh Lovejoy, kaki tangan Cal. Jack berhasil dilepaskan dan kini mereka harus keluar dari sana dengan cepat. Mereka berhadapan dengan banyak halangan termasuk pintu yang terkunci dan kemarahan Cal yang memaksa mereka kembali ke dek bawah. Mereka berhasil naik ke dek atas tetapi sekoci sudah tidak ada, memaksa mereka bersama ratusan penumpang lain yang ketakutan mencari ruang untuk bertahan sebelum Titanic tenggelam sepenuhnya ke dalam dasar samudera Atlantik. Buritan kapal tegak dan menjulang tinggi sehingga ketidakseimbangan berat membuat kapal patah jadi dua dan pada pukul 2.20 pagi tanggal 15 April 1912, bagian haluan kapal tenggelam sepenuhnya ke dasar laut dan diikuti oleh bagian buritan. Rose dan jack menceburkan diri ke dalam laut yang sangat dingin itu bersama dengan banyak penumpang lain. Hanya ada selembar papan yang cukup besar untuk seorang, mengambang tidak jauh dari mereka. Jack menaikan Rose dari papan itu, menyelamatkan jiwa kekasihnya itu dari suhu dingin yang mematikan, sementara ia berpegangan di sisi papan itu memegangi tangan Rose untuk menenangkannya. Rose dan Jack bersama dengan ratusan penumpang yang lain menunggu bantuan dari sekoci  yang tak kunjung datang di permukaan air. Ketika petugas di sekoci memutuskan untuk datang membantu, hampir semua penumpang telah tewas akibat Hipotermia.Rose kecewa karena Jack tidak mampu bertahan dan meninggalkannya. Dia mengucapkan selamat tinggal lalu melepaskan jasad Jack yang telah membeku ke dalam lautan, kemudian Rose memanggil sekoci yang selanjutnya datang menyelamatkannya. Iya, aku masih ingat dengan jelas kisah cinta yang ditampilkan dalam kisah ini. Waktu itu, aku menontonnya pertama kali waktu kelas satu Sekolah Menengah. Siapapun akan hanyut kedalamnya seperti hanyutnya sang kekasih Rose, Jack yang tak pernah kembali. Membawa pergi segenap nestapa abadi bersamanya. Kisah cinta yang berlangsung sebentar, namun darinya pecinta banyak belajar. Pengorbanan, kasih sayang dan yang paling penting tidak ada batasan apapun yang membatasi orang jatuh cinta, termasuk status sosial.

Bersambung.

KABAR DARI SEBERANG 2


Pagi ini, aku mendapati diriku tertidur di meja komputerku. Layarnya masih dalam keadaan nyala. Kuperiksa puisi yang kubuat semalam. Masih belum selesai. Tubuhku terasa ngilu. Kepalaku berat. Dengan perasaan limbung kususuri kamar mandi dengan membawa handuk sekenanya. Aku ingat hari ini ada janji sama teman untuk menonton konser di “ Convention Hall” paruga Na’e. Konser  yang bertujuan untuk menggalang dana bagi palestina ini kabarnya akan ramai pengunjung dan dimeriahkan oleh Opick dan Fadly padi.

“ Sekarang posisinya dimana, Bung? Tanya temanku lewat sms

“ Tunggu saja,  aku masih di kos dan sedang ingin kesana, “ balasku

“ Aku sudah di tempat konser, “ balasnya

“ Tunggu saja di situ, Bung! Aku akan segera menuju lokasi.”

Kawan! Temanku ini namanya Zainal. Dia adalah seorang KPK Intelligence Service yang secara khusus ditugasi untuk menyelidiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di bima. Berpenampilan sangat sederhana. kami saling mengenal tak sengaja beberapa bulan yang lalu di sebuah Cafe. Belakangan aku mengetahui jati dirinya setelah beberapa hari yang lalu. Aku penasaran kenapa polisi-polisi begitu menghormatinya dan kadang memergokinya tengah berbincang-bincang dengan orang-orang penting. Aku beranikan diri mengutak-atik dompetnya waktu dia mandi dan disana kutemukan jati dirinya yang sebenarnya dari Kartu Anggota yang dia punya. Tentunya aku rapikan dompet dan isinya dalam keadaan aman setelahnya.
Aku kembali menapaki jalanan kota Bima yang berkelok-kelok. Kembali mengukurnya dengan ban motorku. Jalanan kota yang tertata rapi dan diapit gedung-gedung kota yang semakin lama memberi kesan bahwa kota bima sudah sedemikian gagah berdiri. Lima belas menit aku sampai di tempat konser setelah melewati sebuah taman kecil yang memisah pengguna kendaraan yang datang dari arah timur dan barat. Taman ini hanya berisi bunga kamboja dan bunga-bunga kecil lainnya. Tapi, setidaknya ini memberi kenyamaan bagi mata. Aku melewati sebuah selasar yang tidak terlalu luas. Kiri dan kanan terdapat hamparan luas yang sedikit di isi bunga-bunga di setiap tepiannya. Di malam hari tempat ini biasa digunakan oleh muda-mudi bahkan yang berusia senja sebagai tempat nongkrong, nge-teh, ngopi atau, sekedar menunggu waktu tidur. Di samping kiri gedung  convention hall yang oleh orang bima menyebutnya “ Paruga Na’e” berdiri kokoh sebuah tower panjat tebing yang dipakai bagi penggila olahraga climbing hill. Aku memasuki gedung konser. Cukup ramai. Kurasakan kesejukan menyelimuti seluruh tubuhku. Udara dingin yang keluar dari celah-celah AC menelan semua peluhku. Gedung ini berdiri megah di atas kesederhanaannya. Di dalam ruangan terdapat beberapa tiang penyangga raksasa. Serupa balairung pertemuan Walaupun tidak begitu luas, tapi cukup menampung ribuan orang. Di langit-langitnya terpasang ratusan lampu-lampu yang menyerupai aurora di malam tanpa bulan. Aku menyukainya. Sayangnya, gedung yang biasa terbuka untuk umum dan menjadi tempat asah kreatifitas ini telah diubah wajahnya menjadi bangunan yang tertutup. Serupa manusia yang bungkam setelah disuap dengan Rupiah, lalu terisolasi dari keramaian, menyepi dan terbuang. Bangunan yang menjadi satu-satunya tempat diselenggarakan pagelaran budaya, ruang psikologi dan berbagai bentuk kreatifitas ini harus tertutup dari umum. Menurut berbagai sumber, perubahan wajah bangunan ini, sebagai tempat untuk menyambut kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota seluruh Indonesia ( Apeksi ) tahun 2012 lalu dan, dimana kota Bima ditunjuk sebagai tuan rumah.  Alasan yang tidak begitu tepat.

Dengan memegang bendera mini di tangannya, Zainal melambaikan tangannya ke arahku. Satu bendera dengan warna berbeda, di samping kiri warna bendera Palestina: hitam, putih, biru dan merah di tengah depan dan samping kanan bendera Indonesia, merah putih. Aku cukup haru melihat pengunjung dengan menampakan wajah surga. Semua yang duduk di depan berjilbab panjang dan hanya beberapa yang berjilbab biasa serta ada yang tidak berjilbab dan mereka lebih suka cengar-cengir di barisan paling belakang. Mereka nyaman dengan celana jeans ketat yang membuat lekuk-lekuk tubuhnya mencuat. Mereka terlihat bangga sekali. Aku merasa gedung ini serupa pengadilan tuhan, dimana mereka yang beramal sholeh dan sholehah berada di depan dan dekat dengan sisi tuhan, sedangkan yang lainnya jauh dari belakang menunggu nasib.  Ini sudah jelas mengukuhkan perbedaan di antara mereka. Mana yang secara penuh mengenal tuhannya, mana yang setengah-setangah dan jelas mana yang tidak tahu sama sekali atau, tidak mau tahu. Di deretan sebelah kanan duduk pria-pria berjanggut dengan rupa berbeda. Peci di kepalanya memesona.  Wajahnya damai. Ada warna surga di sana. Apa yang kulihat Jelas memberi ruang dan jarak antara yang munafik dan yang hanif. Betapa wajah-wajah wanita dalam gedung ini adalah wajah-wajah surga yang kuimpikan menjadi bagian dalam hidupku. Wanita yang mengenakan pakaian syar’i dan secara kaffah. Wanita dengan sosok seperti ini yang tengah mengganggu tidurku. Tatapnya damai, suaranya lembut. Aku larut dalam imajiku, sedang Fadly, sang fokalis dari Grup Band Padi sedang melantunkan lagu Insya Allah-nya Maher Zain. Dan, aku larut dalam keduanya: Imajinasiku tentang wanita berwajah surga dan suaranya Fadly sang fokalis. Aku gamang berada di antara orang-orang ini. Betapa aku terlihat hina mengingat ibadahku yang pasang-surut. Kadang rajin kadang tidak dan, melebur dengan kehidupan kaum urban di kota ini malah mengurangi ibadahku. Mengurangi kepercayaan diriku, walaupun hanya sekedar berimajinasi  memiliki wanita berwajah surga yang kuimpikan itu. Wanita baik-baik akan diperuntukan bagi lelaki baik-baik dan begitu sebaliknya. Begitu keadilan tuhan tidak akan pernah terbantahkan dan dengannya, sekali lagi, aku gamang walaupun hanya berimajinasi memiliki wanita berwajah surga itu, mengingat siapa diriku.
Kini, waktu surut dihisap gaduh. Aku tidak merasa waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa aku sudah berdiri mematung di tempat ini selama hampir 4 jam.

“ Hei, Bung! Melamun saja dari tadi?” Zainal memecah kesunyian di tengah-tengah opick menyudahi lagunya.

“ Aku sedang berpikir keras, bung! “ aku menimpali.

“ Engkau berpikir keras tentang apa? Wajah lembek begitu berpikir keras, yang tepat itu kau sedang berkhayal, “ Zainal menimpali antara bertanya dan mengolok.

“ Kau tidak lihat, Bung! Betapa orang-orang ini meninggalkan kepentingan pribadinya demi agama Allah. Segenap tenaga berjuang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk saudara seiman dan seagamanya di seberang sana. Aku sedang meneka-nerka, kesabaran seperti apa yang bersemayam dalam hatinya hingga sedemikian ikhlas berjuang dan berbagi seperti ini. Coba lihat! Ibu-ibu yang menyumbang puluhan juta rupiah itu. Nah, yang tak kalah hebatnya lagi, lihat anak-anak yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak itu. Mereka menyumbang melebihi kemampuan yang dewasa. Aku iri kenapa aku tidak dididik untuk mencintai sedekah sejak dini seperti mereka? Tidakkah kita mengambil satu hikmah hari ini, bahwa sedekah itu indah, bahwa berbagi itu indah? “ Jawabku panjang lebar.

“ Kawan! Kita tak pernah tahu dengan jelas bagaimana mereka bisa sampai pada titik ini. Tapi, jelas mereka berkali-kali jatuh bangun melawan dirinya sendiri hingga menjadi mereka yang sekarang. Kau perlu banyak belajar, kawan! Ada pepatah yang mengatakan, bahwa roma tidak dibangun dalam sehari. Tentu mereka melewati hari-hari yang keras. Tidak langsung jadi seperti mereka yang sekarang.  Kau belajar untuk tidak menimang dirimu dengan cara-cara manja. Kau harus keras pada dirimu sendiri, kawan!” Zainal menasehatiku. Aku diam dan kubiarkan saja kata-katanya mengalir.

Puluhan wanita, anak-anak dan laki – laki berpeci telah memadati altar atas panggung guna memberikan sumbangannya. Lima juta, sepuluh juta, lima belas juta hingga mencapai total yang terkumpul 270 juta Rupiah. Menutup konser Amal itu, Opick menyanyikan lagu terakhirnya dengan mengajak seluruh penonton. Riuhnya bagai memecah ruangan hingga akhirnya, Opick menutup konser dengan ucapan ‘Alhamdulillah’ dan ‘salam’. Teriakan “ Allahu Akbar “ menggema dari ujung ke ujung. Serta merta puluhan penonton menyumbang. Seratus ribu rupiah, gelang, cincin, dan aku tidak mau kalah. Jam tangan kesayanganku harus ikhlas lepas dari singgasananya menuju karung yang menganga di tangan para rombongan.  Sesaat aku terkesima, setelah beberapa menit, Opick menutup konser, Syaikh Murweh Mouse Nasser Nasar, lelaki berperawakan tinggi besar dengan janggut putih panjang sampai dada. Ulama yang sengaja didatangkan dari palestina sendiri dan ikut dalam rombongan penggalangan dana berdo’a dalam Bahasa Arab dengan jari telunjuk kanan di hadapkan ke atas. Ini dalam pemaknaanku, bahwa ketentuan dan keputusan tentang hidup umat manusia dan segala isi serta masalahnya adalah mutlak urusan yang di atas. Aku bertanya pada rombongan, apakah aku boleh sedikit berbincang-bincang dengan beliau. Tapi memang tidak bisa. Aku mencari di internet pun tidak kutemukan profilnya. Belakangan aku tahu memang ulama-ulama penting di sana harus disembunyikan keberadaannya dari dunia luar mengingat kejahatan kemanusiaan yang terjadi di sana.

Pukul 4 sore, aku baru saja membanting tubuhku ke tempat tidur. Kembali kepalaku diisi wanita-wanita berhijab yang kulihat di ruang konser tadi. Tak kuhiraukan rasa lapar yang mendera. Badan terasa lemas. Kuingat suara halus mereka bernyanyi. Senyum damai yang mereka ukir. Jelas sekali lahir dari hati yang paling ikhlas. Satu pelajaran yang kupetik dari sebuah kelembutan, bahwa puncak keberhasilannya adalah kebaikan. Memang benar kelembutan itu harus dimulai dan dicapai dengan kelembutan.  Untuk memperoleh keikhlasan harus dimulai dengan keikhlasan itu sendiri. Dan, tentang penghargaan, maka kita akan dihargai sepadan dengan penghargaan yang kita beri. Kesalahan dalam menasehati adalah memulainya dengan caci-maki. Jelas tak ada kebaikan yang dibangun dari sebuah kekerasan, kecuali akan terdampar dalam kekerasan itu sendiri. Dari kedamaian wajah mereka aku belajar apa itu kedamaian tanpa harus mendengar. Aku lebih suka belajar pada kesunyian. Sebab, di sini, aku lebih banyak menemukan hikmah dan tauladan daripada harus mendengar teriakan dalam mimbar-mimbar majelis dakwah. Kesunyian bagiku adalah diam yang berbicara. Kesunyian adalah kedamaian.  

Bersambung.

KABAR DARI SEBERANG 1


  Cantik juga perlu, bung.”

“Dia orangnya baik dan mungkin bisa cocok sama kamu, Ray.”

“ Semoga saja, bung.”

Jalan sukarno – hatta kota bima yang melengkung dan ramai kutapaki. Hari ini hampir senja dan aku ingin kembali ke kos-kosan. Klakson dan bunyi mesin kendaraan berderum memekik bagai raungan penghuni rimba yang kelaparan.  Jengah menggerogoti hatiku kala perjalanan ini harus kujalani sendiri. Kerapkali kesendirian ini harus menyeretku pada kehampaan. Ada ngilu yang akut di dada. Di sana ada sebongkah daging kesepian. Kutunjukan ketidakmampuanku pada sepupuku kalau aku telah jenuh mencari. Ya, pendamping hidup yang kugantungkan pada sepupuku untuk mencarinya. Bukankah jodoh itu akan ada di antara orang-orang yang kita kenal, kalau tidak, kita bisa menggunakan perantara untuk memperkenalkan orang di luar yg kita kenal. Tidak peduli di jaman serba modern ini harus menggunakan cara jaman baheulak. Cara purba pun berlaku di jaman urban modern ini. Ini alternatif, pikirku. Jalan sukarno-hatta saksi kesepian yang kucecerkan di sepanjang lengkungannya. Rindu pada sosok  yang semoga akan hadir dalam kehidupanku, segera.  Senja kali ini tampak mendung. Tampak di kejauhan warna perak tumpah ke bumi. Secepat kilat kaki hujan desember menusuk-nusuk kulitku.  Senja yang hampir gelap berubah perak oleh jutaan jejarum bening. Kupacu Moge-ku menuju kos-kosan dengan gas hampir penuh.  Mengukur jalan di atas aspal yang penuh genangan air. Di sana ada genangan rindu yg mencoba berbaur, rindu tak bertuan. Dari percikannya, aku menemukan pelangi kecil yang seolah menggantung indah tepat di depanku,  karena  membias dengan lampu motorku.

“ Darimana saja, Bung?” tetangga kos-ku bertanya.

“ Dari depan, makan gado-gado, “ jawabku.

Dalam kamar kos-kosan,  aku merenangi  dan merenungi musik yang ditimbulkan kaki hujan-- yang bertemu dengan atap rumah --yang terbuat dari seng. Cukup gaduh, tapi untuk saat ini aku menyukainya. Setidaknya ia mampu menghiburku. Tik...tok...tok...weeeesh...bunyi gemerisik daun mangga belakang kos yang ditiup angin. Melengkapi kegaduhannya, tapi aku merasa seperti menikmati gamelan yang semayup di hutan bambu. Hingga membawa anganku pergi pada masa dua puluh tiga tahun yang lalu. Dimana aku akan tertidur pulas ketika sepoi pagi mengguncang pohon-pohon bambu dan, batangnya saling bertemu menciptakan bunyi yang khas dan mistis. Sebuah desa yang masih sangat hijau. Enak sekali.  Dimana orang-orang yang hidup pada saat itu seramah alamnya. Tidak secongkak saat ini, bahwa setiap muslim itu bersaudara sudah tidak lagi mempan untuk membuat orang-orang tetap ramah. Edan, pikirku.  Alam lebih menyediakan kenyamanan hanya lewat peristiwa ini. Apa adanya. Peristiwa desember yang basah. Tapi hari ini, aku diseret pada masa yang serba tidak mudah.  Hal-hal yang kuanggap sepele saja ternyata sangat sulit untuk kujalani.  Nyaris mataku gagal menemukan kesenangan dari apa yang ada dan yang sudah kuperoleh. Tapi, aku selalu yakin, bahwa Tuhan Maha Tahu telah menyiapkan misi khusus atas  penciptaanku di muka bumi. Tak ada satu kejadian pun yang diciptakan percuma dan secara kebetulan.  Ini awalnya adalah sebuah hipotesa kehidupan tapi, nyatanya ini adalah kebenaran mutlak.

Dalam kehidupan kaum urban seperti saat ini, segala sesuatu sudah mudah dijangkau. Segalanya serba instant dan manusia begitu terikat dengannya.  Supremasi ego instant lebih tepatnya gelar yang disandang kaum urban saat ini. Dan, tidak tanggung-tanggung untuk urusan jodoh pun cara instant dipakai. Kehadiran sosial media---yang oleh orang-orang melek tekhnologi--- menyebutnya sosmed; Facebook, Twitter, BBM dan lain sebagainya.  Umpama nafigator modern yang membawa mereka ke arah menemukan jodohnya. Buktinya, sahabat aku, Laila, dia menemukan jodohnya lewat facebook. Sekali ketemu, klik, tunangan, lamaran, dan kini mereka tengah bahagia membangun keluarga kecil mereka. Satu keajaiban yang semakin mengukuhkan bahwa apapun bentuknya yang tercipta di muka bumi ini tak ada yang sia-sia.
Malam ini, aku seperti baru saja meneggak kafein dua puluh lima liter;  insomnia. Kucoba-coba menutup mata agar segera terlelap, tapi ia enggan. Kuambil handphone-ku yang terbujur kedinginan di atas meja. Kubuka dan kulihat-lihat semoga ada hal-hal mengejutkan di sana, misalnya sms atau,  minimal inbox facebook terisi pesan dari seseorang. Tiba-tiba saja aku diserang demam. Aku menggigil disertai gemeletuk yang hebat. Limbung. Tubuhku dimana, batinku. Segalanya gelap. Gelap dan semakin gelap padahal kamar kos-kosanku terang benderang, hingga aku sampai pada kesimpulan bahwa ternyata benar. Inbox facebook-ku terisi satu pesan.  Dari siapa, ya, pikirku.

“Hy..., “ itu saja, hanya pesan sesingkat itu saja. Tapi, aku senang ternyata yang menyapaku ini adalah wanita yang diperkenalkan sepupu padaku kemarin sore. Jelas disana, pesannya dikirim dua jam yang lalu.

“ Hy..., juga, Mawar, ya? “ tanyaku. Dua jam dua belas menit aku menunggu balasan. Tak kunjung tiba. Kulihat jam dinding yang tergantung di sebelah barat kamarku.  Jarum pendeknya telah condong ke utara, melewati angka 12 yang berdiri tegak diapit angka sebelas dan angka satu, tepatnya jarum pendek telah menunjuk angka dua dan jarum panjangnya menunjuk angka tujuh. Logika sederhananya, mana ada jam segini orang mau membalas inbox. Paling mereka sedang asyik bermimpi. Aku gunakan Insomnia yang melandaku untuk menulis. Tentang harapan baru yang kini tengah mengetuk pintu perjalananku dan mungkin saja akan menemaniku membuka gerbang serta mengarungi perjalanan itu denganku.

Dingin kembali menguliti malam
Angin berhembus dengan sangat lembut
Derap binatang malam entah kemana, sunyi
Selepasnya, kesunyian pecah ketika gempita do’a kulantunkan
Di tengah riuh rendah harap yang dibalut jubah gulita
Malam ini, awan tergantung sedemikian rendah
Membentuk gumpalan hitam kelabu
Sangat rendah bersanding dengan atap
Hingga dapat kurasakan dingin dan lembutnya tangan tuhan menyentuhku
Membelaiku lembut, membawaku pada sabana kesabaran
Dalam gundukan harap yang meruap
Dalam hati penuh lebam, porak-poranda
Kutuntun secarik harap padamu, yaaa Rabbb...!
Lekas temukan aku dengan kekasiku.
Sepucuk harap untukmu, Yaaa Rabb...ku!

Bersambung.

Rabu, 23 September 2015

Kota Bima Dalam Remang


Januari telah pergi. Terbungkus rapi di bingkai kenangan. Kini Secarik kisah tertuang. Pada senja yang sama Januari mengatup, sementara sebentar lagi Februari memulai harinya. Angin berhembus dengan lincahnya dan berbicara dengan alam dalam wujud dedaunan yang  bergerak  mengantar keduanya ke peraduannya masing –masing.  Kejar-kejaran bak anak kecil bermain layang – layang. Menyibak udara senja yang semakin dingin. Januari telah Hengkang, sementara Februari mulai menyusun kisahnya yang masih mistis. Pada detiknya aku urai rasa di segenap penjuru langit yang memberi pelangi di musim hujan. Pada bumi yang merindu, kini langit membikis jutaan jejarum embun, lalu tertuang di jiwa – jiwa tandus nan hening.  Hadiah pergantian waktu. Pada rasa yang kian erat aku susul rindu yang meronta. Pada raga yang memiliki savana yang indah aku tambatkan pula cinta yang melimpah menghijau. Pada kekasih kulabuhkan semuanya.

Hari ke-4  di bulan Februari pagi ini begitu indah. Hujan yang dari sepertiga malam terakhir telah sisakan rinainya saja. Kutuntun harapan dan kuketuk pintu pengampunan serta doa-doa kulantunkan dalam sholatun lail serta Shubuh-ku yang damai. Setelahnya, kubuka tingkap kamarku dan kulihat riak-riak kecil gerimis berlompatan di jalanan  dan berayun di atap-atap.  Embun menggelayut di seluruh dedaunan bak permata di mahkota Ratu cleopatra. Selepasnya  Langit tampak cerah. Hari ini, tanggal 4 Februari 2013. Setelah beberapa bulan hanya saling mengenal lewat handphone dan berbagi foto lewat akun sosial media, aku berjanji bertemu dengannya, selepas sholat asyar. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu. Itu artinya pertemuan pertama ini dilakukan pada malam minggu. Malam yang biasa dilewati muda-mudi untuk bertemu kekasih mereka, atau  kerabatnya untuk sekedar melewatkan waktu. Kususuri jalan dari rumah menuju tempat yang  dijanjikan. Aku cukup menikmati perjalanan ini. Beberapa bunga liar di pinggir jalan seolah tersenyum. Walaupun tumbuh liar mereka tumbuh di belantara yang terjaga dan alami. Tak ada penoda yang berkeliaran. Bunga yang berwarna ungu campur biru dan tumbuh merambat di semak-semak. Aku suka bunga ini. Betapa alam ini begitu elok kalau dibiarkan apa adanya. Bak perawan tanpa noda ia kembangkan kuntumnya. Tidak seperti bunga-bunga di kota. Bunga- bunga di kota indah-indah dengan corak yang menawan tapi dengan warna yang pudar. Tak tampak lagi keanggunannya. Mungkin kehidupan kota yang telah merenggutnya. Bunga-bunganya nampak telanjang. Sudah gak perawan lagi, mengingat racun yang keluar lewat cerobong knalpot kendaraan mereka yang berhidung belang telah menyedot dan menodainya. Kami tinggal di kabupaten yang berbeda. Dari rumahku ke tempatnya hanya membutuhkan waktu 2-3 jam saja. Destinasi kami ke kota bima dan bertemu dulu di sila, tanah kelahirannya dan masih dalam lingkup kabupaten tempat tinggalku, kabupaten Bima. Untuk sampai di sana aku hanya butuh waktu lebih kurang satu jam saja.  Dia pindah kabupaten dan tinggal di sana karena ayah dan ibunya dipindahtugaskan ke kabupaten itu, Kabupaten Dompu.

Hari hampir senja. Kulihat matahari hampir menyelimuti dirinya di balik gunung. Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Rasa penasaran bercampur rindu menyeruak dan bahkan merembes di jalanan. Di jalanan yang sepi ini aku merasa ramai. Kodok yang bernyanyi, burung senja bersiul. Ramai sekali.

“Rumah paman dimana?” tanyaku lewat telepon karena tidak tahu persis rumah pamannya yang menjadi tempat pertemuan kami.

“ Kakak dimana? “ tanyanya balik.

“ Aku di depan pintu gerbang gedung Paruga Na’e sila. Kesini saja, jemput aku!” saranku.

“ Iya, kakak tunggu saja di situ, biar adik jemput,”  sarannya.

Beberapa menit kemudian muncul seorang wanita dan kutanya apa dia mencari seseorang. Katanya, tidak. Dia hendak ke rumahnya setelah pulang belanja di warung terdekat. Oh..., kupikir dia, pantasan kelihatan tua, bathinku.

“Hey...,maaf telah bikin menunggu lama,” seseorang menepuk pundakku dan suaranya begitu familiar.
“ Mawar?” tanyaku sambil telunjuk kananku sejajar dengan hidungnya. Hampir saja menyentuh hidungnya yang unik. Mancung di bawah dan atasnya agak ke dalam tapi, dalam pandanganku cukup serasi dengan pipinya yang sedikit tembem. Seringainya malu-malu dan rona merah jambu di kedua sisi pipinya telah buatku melompong dalam sesaat.

“ Bukan, adik bukan, Mawar  tapi,  orang yang beberapa bulan ini kaukenal dan baru saja kaulihat,” katanya sambil memasang senyum yang indah sekali. Kulihat dia sedikit canggung. Sesaat kami diam dan...

“ beraninya kamu menggombaliku. Yuk! Kita ke rumah paman sebelum magrib usai. Kakak belum sholat, “ aku memperingatkan dan kutinggalkan satu senyum tepat di depannya sebelum berpaling.
Dalam sujudku yang penuh syukur. Sholat magribku terasa begitu ringan. Ada jamuan tak kasat mata yang dituangkan dalam diriku. Damai. Walaupun aku tidak bisa menjalani ta’aruf seperti yang dilakukan oleh penjujung sunnah. Gaya saling mengenal ala jaman nabi-nabi dulu. Tapi, perlahan-lahan kuperbaiki diriku, dan yang terpenting, aku bukan penganut liberal, sekuler dan Islamfobia lainnya. Kurasakan cinta itu bertambah menggunung bersamaan dengan jariku yang menuding hidungnya  pertama kali melihatnya beberapa menit yang lalu. Kurasakan lagi getaran cinta itu setelah dia pergi dari kehidupanku. Untuk kedua kalinya. Pertama, dulu, sepuluh tahun yang lalu, waktu beberapa bulan jadi mahasiswa. Tahun-tahun awal merasakan dunia perkuliahan, aku pernah jatuh cinta pada seorang wanita. Dia begitu baik hingga keyakinanku pada saat itu bahwa dia adalah jodoh yang dikirim tuhan untukku. Aku menjalani hari-hari dengannya sebagaimana pasangan-pasangan lain melewatkan hari-harinya. Segalanya indah. Nyaris tak ada masalah. Rumahku sudah seolah jadi rumahnya. Tak ada batasan apapun merintanginya selama masih dalam garis kebaikan. Hingga tiba hari tu, hari dimana dia jujur atas perjodohannya dengan seorang lelaki pilihan orang tuanya jauh sebelum dia mengenalku. Seorang anggota Polisi, dan dia rahasiakan dariku. Aku kecewa dan keyakinan itu mulai runtuh perlahan. Atas keakrabanku yang sedemikian dekat dengan anaknya, orang tuanya, setiap kali aku mengunjungi rumahnya menunjukan seringai tidak suka. Kerut-merut di wajahnya  yang berwarna tembaga semakin mencuat membentuk lemak-lemak yang tak terurus. Semakin lama penghalang itu semakin tebal merintangi. Atas keinginan besar untuk hidup bersama, aku dan dia melakukan upaya “Londo iha” (Selarian) sebagai satu-satunya jalan pintas. Tujuanku ingin membawanya ke lombok, ke rumah bibiku, lalu pergi sejauh mungkin, tapi digagalkan. Aku diseret keluar dari bus kota yang kami tumpangi dan dilempar di jalan seperti anjing dilindap bus. Aku dikeroyok meninggalkan lebam di sekujur tubuhku.  Aku meringkuk di atas lututku yang lecet dan hatiku yang berdarah. Wajahku penuh lebam, hatiku porak-poranda. Aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku seolah tertebas sebilah pedang ajaib yang disebut Excalibur  oleh putri danau dalam legenda Raja Athur. Keesokan harinya, atas dasar cinta yang meruap, aku kembali ke rumahnya dan berusaha meyakinkan orang tuanya, tapi yang kudapat adalah perlakuan kasar dan diusir. Dengan ujung mataku, aku melihatnya memberontak, tapi dia tetaplah seorang wanita. Wanita lemah yang pemberontakannya dengan mudah dapat digagalkan. Apalah daya dia hanya seorang wanita. Tapi aku senang, dia dengan segala ketidakberdayaannya masih ingin mempertahankanku. Aku pulang dengan hati yang patah. Putus asa, dan tidak genap seminggu setelahnya, dia dinikahkan dengan orang yang telah dijodohkan dengannya itu. Aku sock mendengarnya. Kurasakan hari-hari begitu panjang kulewati. Aku serupa diterpa amukan badai yang menyempurnakan kekalahan dan kehancuran armada Phillip yang dikejar tentara inggris pada perang 1588 saat Ratu Elizabet I berkuasa. Aku kalah dan terhempas. Aku sakit-sakitan hampir setahun. Kuliah berantakan. Aku mengurung diri dan tak heran, aku serupa mayat hidup. Tulang-tulang mencuat dan hampir saja berhamburan ke tanah kalau tidak ada kulit yang membungkusnya. Memprihatinkan, hingga suatu hari, aku sadar bahwa yang telah lalu adalah masa yang telah pergi. Yang tiada akan tetap tiada. Kubiarkan ia pergi dan dengan segala keikhlasan, kukubur dia dan segala detail kenangannya. Aku sembuh dimana hari itu, seharian penuh aku duduk di belakang rumah dan menikmati matahari yang beringsut. Betapa matahari hari itu serupa jamu terpahit yang kuteguk dan menyempurnakan penyembuhanku. Betapa aku menyadari  suasana di luar saat itu adalah surga kongkrit yang mesti kunikmati. Hari ini, aku tengah membangun lagi kepercayaanku atas wujud cinta, sesuatu yang lama mati, dan dia kembali memenuhi harpa ruang bathinku, tentunya dengan harapan baru.
  

“Sebaiknya kalian secepatnya ke kota Bima, takutnya ada apa-apa di jalan, “ pamannya menyarankan.
“ Iya, takutnya temanku di sana menunggu lama, “ dia menambahkan.
Selain bertemu dan melepas rindu, Mawar, punya agenda lain yang berkaitan dengan pekerjaanya. Selain menjadi bidan desa, dia menggeluti dunia bisnis yang bergerak di bidang obat-obatan di luar obat-obat resmi yang dikeluarkan pemerintah. Penggelut bisnis ini datang dari berbagai pelosok dan dari berbagai profesi, nyaris semua profesi ada di sini.

Sekelebat tanya dalam pikiran. Kuterka apa yang tersembunyi di balik senyum yang tengah kunikmati di wajahnya saat ini. Merasakan naik satu motor berdua pertama kalinya. Aku diamuk asmara ketika kususuri jalan kota bima dalam remang. Merasakan kembali hangat nafas kota bersama orang yang kucintai. Lampu-lampu jalan berdendang. Mereka bercakap-cakap dan bersorak dalam kebisuan yang kami ciptakan. Kulaju motorku pelan, sementara nakal sepoi berhembus sisakan sentuhan lembutnya di wajahku dan suaranya magis. Nyaris tak kudengar suara motorku, sunyi. Aku tak bermaksud untuk memulai berbicara. Kami asyik dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang ingin memulai berbicara. Kupikir memang terasa tidak sopan kalau mengajaknya berbicara di atas motor dalam perjalanan. Kesan pertama, bathinku, maka sampai ke kos-kosan temannya yang akan digunakannya untuk menginap, kami baru sempat berbicara lagi. Sepanjang jalan diam dalam balutan kota Bima yang remang. 

Bersambung